Tidak ada orang yang bisa menghentikan bergulirnya waktu. Waktu akan terus berjalan. Masa tua itu akan menghampirinya pula. Oleh karena itu, jangan takut dikatakan tua, karena hanya kematianlah yang menghentikan datangnya masa tua.

Bayangkan lilin. Batang lilin itu ibarat sel, yang berisikan kromosom, dan setiap kromosom terdiri dari sepasang DNA. Setiap saat, ujung lilin itu terbakar, dan dari waktu-waktu kian memperpendek batang lilin. Hingga suatu saat, bila batang lilin itu tidak dijaga, maka lilin itu pun akan padam. Itulah kematian. Menurut Hans Tandra (2009:10), sesungguhnya ujung DNA itu masih bisa dipertahankan atau diperlambatan perusakannya. Dalam tubuh kita ini, ada yang disebut telomerase yang berfungsi untuk membentuk ujung kromosom yang hilang, supaya sel tetap hidup dan sehat. Walaupun jumlahnya terbatas, namun memendeknya kromosom dalam tubuh kita ini, akan mudah diperpanjang masa hidupnya, dibandingkan dengan dibiarkan telomerase hilang sendiri. Di sinilah, perlunya usaha setiap individu sendiri dalam menjaga masa menyalanya lilin.

Hans Tandra adalah seorang dokter konsultan di beberapa rumah sakit di Surabaya. Dalam usianya yang ke 60 (2012), tampak muda dan segar. Karya tulisnya pun, yang diluncurkan tahun 2009 itu mengulas mengenai masa tua (aging). Judul bukunya, sekaligus menggambarkan isi buku tersebut, dengan jelas mendorong kita untuk bisa merespon masa tua dengan lebih sehat dan berkualitas.

Istilah tua itu sendiri, sesungguhnya sudah memberikan gambaran kurang baik bagi kita. Bangunan tua, mobil tua, jembatan tua, atau rumah tua, semuanya memberikan kesan mengenai kualitas yang sudah mengalami penurunan (degeneratif) dari kualitas sebelumnya. Sebutan-sebutan tua pada barang-barang tersebut, memberikan status sebagai masa yang sudah harus diapkir, usang, diganti, mudah runtuh, rusak dan terancam musnah. Oleh karena itu, dia menyarankan kepada pembaca supaya jangan mau dikatakan tua.

Buku yang tersusun dari 21 bab yang tersebar pada 284 halaman tersebut, dengan jelas memberikan gambaran dan sekaligus tip praktis untuk menjaga kebugaran seseorang. Pembaca, siapapun kita, dan usia berapapun, bakalan dapat memetik pelajaran menarik, dan sekaligus akan merasa diajak ngobrol untuk memikirkan perjalanan hidupnya.

Seiring dan sembari membaca buku tersebut itulah, saya berfikir, bahwa kita memang kadang salah tafsir, salah makna atau mungkin salah tujuan. Mula-mula, kita salah bila takut akan masa tua. Karena sesungguhnya, disetujui atau tidak, ditunggu atau tidak, masa tua itu akan datang. Perjalanan kalender hidup akan terus bergulir. Tidak ada orang yang bisa menghentikan bergulirnya waktu. Waktu akan terus berjalan. Masa tua itu akan menghampirinya pula. Oleh karena itu, jangan takut dikatakan tua, karena hanya kematianlah yang menghentikan datangnya masa tua.

Persoalan kita ini, tidak perlu takut pada datangnya masa tua. Karena masa tua akan datang juga. Hal yang perlu ditakuti itu, adalah justru terkait dengan reaksi kita dalam mensikapi datangnya masa tua tersebut. Pepatah bijak mengatakan, tua itu adalah pasti, tetapi dewasa dalam mensikapi masa tua, itu adalah pilihan hidup.

Mengapa takut tua, dan mengapa tidak mau disebut tua, sementara pada sisi lain, kita pun sangat berharap memiliki umur panjang. Dua sikap manusia yang saling bertentangan. Maksud saya, bila kita memang ingin umur panjang, maka kita tidak boleh takut disebut tua. Justru, dengan di sebut tua, berarti kita tengah menjalani masa umur yang lebih panjang. Bukankah umur panjang itu, adalah harapan kita ?

Nyatanya, persepsi seperti itu pun, atau persepsi mengenai datangnya masa tua ini pun, ternyata kurang tepat, atau setidaknya tidak wajib terjadi. Karena istilah tua, lebih bersifat ke fisik, sedangkan dewasa menuju ke arah psikologis. Kemudian, Hans Tandra (2009) memberikan penjelasan baru, bahwa yang kita inginkan mestinya bukan soal umur panjang, tetapi sehat di kala umur panjang.

Kita mungkin pernah atau malahan sering, melihat ada orang yang sudah tua, dan pikun atau sakit-sakitan. Umut orang tua panjang. Tetapi hidupnya senantiasa dibarengi dengan sakit-sakitan, pikun atau renta dan rentan penyakit. Kondisi ini, sudah tentu bukan yang kita ingin. Yang kita inginkan adalah umur panjang dan sehat. Untuk mencapai umur panjang dan sehat itu, membutuhkan sikap dewasa dalam memaknai dan merespon kehidupan ini.

Sambil menelaah apa yang dikemukakan Hans Tandra dimaksud, kita menemukan ada 4 faktor utama yang penting dalam merespon masa tua itu. Pertama, masalah persepsi. Untuk mendapatkan masa tua yang bugar atau sehat, maka kita dituntut untuk menyehatkan persepsi mengenai hidup. Persepsi-persepsi yang harus benar itu, diantaranya kita harus paham bahwa semua orang ingin berumur panjang, setiap manusia akan mengalami proses penuaan, atau tubuh ini akan berubah. Oleh karena itu, masa tua itu tidak perlu ditakuti. Kedua, jaga asupan gizi. Menjaga makanan ini, erat kaitannya dengan tujua untuk mencapai berat badan yang ideal, membangun tulang yang sehat, dan tidak terkena penyakit jantung atau diabet. Ketiga, kembangkan pola hidup yang sehat, seperti tidak merokok, seks yang teratur dan sehat, olahraga, tidur nyenyak dan tampillah secara trendi dan bugar. Keempat, yaitu perlu mengembangkan pola pikir yang sehat. Pola pikir sehat itu, diantara dapat dilakukan dengan cara melatih otak dan membiasakan check up secara rutin sehingga kita mengetahui perkembangan kualitas kesehatan.

Tip terakhir, yaitu semuanya diserahkan pada sikap kita dalam mensikapi informasi-informasi yang ada…… ?????

Sumber :
Hans Tandra. 2009. Jangan Mau (dikatakan) Tua. Surabaya : Jaring Pena

Advertisements