Selama ini, geografi lebih banyak dimaknai sebagai ilmu yang mempelajari fenomena, baik itu fenomena sosial maupun fenomena alam. Hal ini menunjukkan bahwa geografi adalah ilmu sosial atau ilmu alam (geography as natural science atau geography as social science). Ada pula yang berusaha untuk menengahi konflik itu, yang kemudian menyebutnya sebagai ilmu terpadu (geography as integrated science).
Tetapi, cukupkah dengan argumentasi seperti itu, kemudian memosisikan geografi sebagai ilmu yang turut diperhatikan orang ? cukupkah untuk mengantarkan geografi pada posisi sebagai ilmu yang bisa dijadikan patokan dalam merumuskan kebijakan ? Jawaban untuk pertanyaan itu pun, bisa diperdebatkan.

Tampaknya, salah satu sudut pandang yang masih kering menarik perhatian kalangan akademisi atau guru geografi, yaitu memosisikan geografi sebagai ilmu perilaku (science of action). Artinya apa ?

Pertama, sesungguhnya yang dipelajari geografi itu lebih menekankan pada aspek kreasi dan variasi respon manusia terhadap lingkungan. Variasi alam itu sendiri, hanyalah fakta. Begitu pula mengenai variasi sosial budaya manusia. Sementara ilmu geografi itu sendiri, mengajak dan menuntut kita untuk bisa bertindak pada ruang-waktu secara tepat. Kita tidak dituntut melulu paham mengenai variasi fenomena alam, atau fenomena sosial, tetapi kita dituntut untuk bisa bertindak dalam ruang-waktu secara tepat. Oleh karena itu, geografi itu adalah ilmu perilaku keruangan (science of spatial behavior).

Kedua, dilihat dari sisi karakternya sendiri, informasi-informasi fakta alam dan fakta sosial yang dimiliki geografi, pada dasarnya dapat mengacu pada disiplin ilmu yang lainnya. Menurut pandangan geografi selama ini, dalam mengembangkan analisisnya, geografi mendapat bantuan dari disiplin ilmu yang sangat beragam, baik itu ilmu alam maupun ilmu sosial. Maka tidak mengherankan bila Holt-Jensen (1999) dan Haggett (1975) menyebut geography is a science of synthesis. Hal ini menunjukkan bahwa data geografiknya, merupakan informasi-keilmuan-akademik, pendekatannya bersifat analitis, tetapi geografinya itu sendiri adalah mengembangkan model perilaku keruangan yang sesuai dengan ruang-waktu.

Sekali lagi, dengan peta konsep seperti ini, pengembangan ilmu geografi itu, berjenjang pada tiga tingkat pengetahuan. Data geosfera bersifat pure science, kemudian pendekatannya (approach) bersifat sintetis, dan geografinya itu sendiri adalah bersifat praxis. Maka, geografi adalah ilmu perilaku keruangan.

Terakhir, sebagaimana dikemukakan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, bahwa kompetensi dasar geografi itu, pada ujungnya adalah mengembangkan peserta didik (kita semua) untuk bisa hidup dalam ruang-waktu secara baik, dan bahagia. Belajar geografi itu, bukan untuk sekedar tahu mengenai fenomena alam dan sosial, tetapi bisa merespon keragaman fenomena geosfera tersebut sebagai bagian penting dalam mewujudkan kenyamanan hidup dalam ruang-waktu (keruangannya) sendiri. Aspek itulah, yang bisa kita sebut pula dengan istilah mewujudkan kebahagiaan geografik.

Dengan memperhatikan aspek-aspek ini, dapat ditarik kesimpulan sementara, bahwa geografi perlu diposisikan dan atau dapat dimaknai sebagai ilmu perilaku keruangan. Tujuannya itu sendiri, adalah untuk mewujudkan manusia sebagai makhluk-keruangan atau homogeographicus.

Advertisements