Black Mediciine

Black Medicine, itulah istilah yang digunakan oleh N Mashiro (1978). Terdapat banyak karya, yang diberinya judul Black Medicine, diantaranya yaitu weapons and hand, low blow dan equalizers. Kebetulan yang terbaca saat ini, adalah Black Medicine : The Dark Art of Death. Buku yang dipublikasikan oleh Paladin Press USA ini, dapat dikunjungi di http://www.paladin-press.com. Buku ini, merupakan buku pertama dari 4 (empat) karya yang dipublikasikannya.

Istilah black medicine itu sendiri, merupakan permainan kata, layaknya istilah-istilah yang sudah banyak digunakan masyarakat kita ini. Di masyarakat Indonesia saat ini, misalnya saja ada politisi hitam atau politisi busuk, yang menunjukkan pada elit politik yang melakukan tindakan kejahatan seperti korupsi dan tindakan pidana yang lainnya. Lawannya yaitu politisi putih. Kemudian ada juga istilah white magic yang dipersepsikan sebagai magic (sihir) yang baik, sedangkan black magic untuk sihir yang jahat. Selain itu, ada juga tempat transaksi barang-barang ilegal (tidak syah secara hukum), dan masyarakat menyebutnya BM atau black markets, sebagai lawan dari pasar yang resmi (white markets).

Walaupun istilah hitam atau gelap (black) tidak selamanya diartikan jahat, buruk, dan busuk, namun konsepsi ini cenderung dimaknai secara sosiologis sebagai lawan dari putih atau kebaikan. Malaikat, misalnya, baik dalam tradisi Kristen, sering dilambangkan dengan makhluk berwarna putih dan atau merpati putih. Sedangkan,tukang sihir dilambangkannya dengan nenek-nenek berjubah hitam. Makna hitam yang positif, diantaranya adalah rambut hitam. Warna rambut hitam lebih diinginkan daripada rambut putih, rambut putih sendiri berarti tua dan mendekati kematian.

Sehubungan hal itu, praktek pengobatan pun dapat dilihat dari dua warna ini. Satu sisi, ada yang disebut sebagai white medicine, yaitu bila praktek pengobatannya digunakan, dan diarahkan untuk memberikan perawatan dan membantu dalam menjaga kelangsungan hidup, sedangkan praktek pengobatan akan disebut black medicine bila bertujuan untuk menyakiti, membuat luka atau untuk menghentikan kehidupan (kematian

Dalam buku setebal 94 halaman itu, ada tujuh bab yang mengulas mengenai titik mematikan. Enam bab sebelumnya terkait dengan titik-titik vital dalam tubuh manusia yang mematikan, dan satu bab terakhir yaitu terkait dengan bagaimana cara menggunakan pistol. Keenam lokasi titik rawan mematikan itu, yaitu bagian kepala, bagian leher, tubuh bagian atas, tubuh bagian bawah, bagian lengan, dan bagian kaki.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, istilah black medicine ini tidak menjelaskan mengenai kematian yang alamiah. Tetapi, lebih menjelaskan mengenai titik-titik rawan mematikan bila mendapat pengaruh dari luar. Maksud dari pengaruh luar itu, misalnya merupakan pulukulan, goresan, sayatan, tembakan, dan timpukkan dari benda-benda keras lainnya. Bila ada faktor-faktor luar tadi mengenai pada titik-titik rawan mematikan tersebut, individu tersebut potensial menghadapi kematian.

Hal yang menarik, dari penjelasan tersebut, memang tidak memberikan gambaran mengenai kasus-kasus kematian yang terjadi saat ini. Misalnya, bunuh diri diri dengan cara membakar diri, atau mati karena kelaparan. Kematian-kematian tersebut, atau upaya menjemput kematian dengan cara-cara tersebut, tidak mendapat penjelasan dalam buku dimaksud. Walaupun kedua-duanya bisa menyebabkan kematian.

Dengan pengetahuan atau merujuk pada pengetahuan Karate-Do Kyohan, dan juga pengetahuan fisiologi kedokteran, Mashiro dengan rinci menata bagian-bagian tubuh yang mematikan, dan dia mencatat dari keenam lokasi mematikan yang dijelaskannya tersebut, hampir ada seratus tujuh puluh titik bagian tubuh yang bisa dijadikan sasaran serang mematikan. Titik rawan mematikan itu, yang bisa digunakan untuk menetapkan arah tempat memukul musuh.

Di bagian awal bukunya, sudah diingatkan, bahwa informasi atau penjelasan dalam buku ini, memang memiliki potensi bahaya, khususnya bila dibaca oleh orang-orang yang berniat jahat. Tetapi, bila digunakan untuk kepentingan yang baik, misalnya untuk pengetahuan teknis pihak militer, akan membantu juga dalam meningkatkan efektivitas peperangan.

Dalam dunia kesehatan, salah satu wacana yang kerap mengundang pro-kontra adalah tindkan euthanasia, permohonan izin untuk mengakhiri hidup. Seorang pasien, dalam tradisi hukum liberal diakui memiliki hak untuk melanjutkan kehidupan, dan juga untuk mengakhiri kehidupan. Salah satu diantaranya adalah dengan jalan euthanasia. Khusus untuk negara Indonesia, tindakan ini memang masih kontroversial dan cenderung ditolak. Tetapi, di lingkungan masyarakat liberal, euthanasia itu adalah hak bagi seorang pasien.

Bagi dokter yang akan memberikan bantuan pertolongan euthanasia, maka pengetahuan dasar mengenai black medicine ini menjadi penting, sehingga proses tindakan medis itu dapat berjalan dengan efektif. Dengan kata lain, walaupun ada yang memandang bahwa buku ini menyeramkan tetapi, sebagai sebuah kajian akademik, buku ini menarik untuk dibaca, dan dijadikan telaahan ilmiah yang penting.

Dalam konteks pelatihan, misalnya, andaipun harus melakukan kontak fisik, –bila terpaksa memang harus ada-, maka dengan membaca buku ini, kita dapat memilih sasaran pukul yang tidak mematikan. Hemat kata, dengan mengetahui titik rawan mematikan, kita dapat menggunakan teknik memukul dengan cara aman, yaitu mengarah pada titik aman pemukulan. Saya tekankan dua istilah ini, yaitu cara aman dan titik aman. (untuk bagian ini, perlu pembahasan lebih lanjut kali…)

Sebagai sebuah karya intelektual, tulisan N Mashiro ini, sebagaimana dikemukakannya sendiri, ….is academic study only. Tidak lebih dari itu. Dengan kata lain, andaipun ada implikasi praktis dari pengetahuan tersebut, itu adalah bergantung pada pembaca dan/atau pengguna buku tersebut. Dan, konon informasinya, walaupun saya baru baca saat ini, tetapi buku ini merupakan salah satu best seller Penerbit Paladin lho…. ???!!

Daftar Pustaka
Mashiro, N. 1978. Black Medicine : The Dark Art Of Death. USA : Paladin Press.

Advertisements