Hidup adalah perjuangan. Itulah kata bijak. Ada kelelahan dalam menjalani kehidupan. Itu adalah kenyataan. Ada keringat bercucuran, itu adalah fakta. Di dalamnya ada pengorbanan. Itulah prinsip.

Berjuang dalam kehidupan, lawannya adalah diri sendiri. Yang dikorbankan adalah sebagian dari hasrat sendiri. Tak ada lawan sejati, di luar diri sendiri, tak ada perjuangan sejati, diluar menumbuhkan semangat perjuangan itu sendiri. Tak ada korban sejati, kecuali mengorbankan hawa nafsu angkara diri sendiri. Itulah perjuangan.

Perjuangan adalah tanda kehidupan. Itu juga kata bijak. Ada gerak dalam perjalanan. Ini adalah hukum alamnya, ada perubahan dalam perjalanan, ini adalah kenyataannya, ada kebutuhan, itu adalah nalurinya. Ada keresahan, itu adalah semangatnya. Ada cita-cita itu adalah harapannya, ada kehidupan itu adalah medan perjuangannya. Berjuang itu adalan tanda diri kita Ada. Masih hidup.

Bijaklah dalam hidup. Ini adalah perjuangan. Penuh tantangan menjadi sarapannya, ada hambatan adalah langkahnya. Ada kritik adalah pelecutnya, Ada pujian, itulah bumbunya. Hanya mereka yang mampu memilih kehidupan dengan bijak, yang akan sampai pada kedamaian.

Cinta adalah nurani sejati dalam memilih sikap bijak, dengan cinta kita mengedepankan kebahagiaan, dengan cinta kita hindari kebencian, di dalam cinta ada kesejatian.

Cinta membngun keberanian bersatu, dan takut untuk berpisah. Selain itu, hanya kerugian.

Hiduplah dalam kebijakan. Bangunlah masyarakat dengan kebijakan, disanalah akan muncul kedamaian, bangunkalah masyarakat dengan cinta, di sanalah akan mucnul kemakmuran, bangunlah masyarakat dengan hidup disanalah akan muncul kegairahan.

Bijak dalam perjuangan. Ini adalah perjuangan, berjuang menjadi bijak, itulah motifnya, berjuang untuk hidup adalah kebutuhan nyata, banyak menu yang terjadi dalam kehidupan, nurani sejati yang mampu memilih resep terbaik dalam membangun masakan terenak dalam hdiup.

Perjuangan baik tidak selamanya melahirkan reaksi baik, bahkan, hasil nyata dari perjuangan baik, kadang buruk. Tanpa dilandasi kesadaran suci, kekecewaan terhadap hasil, adalah bentuk ketidaksadaran terhadap hakikat hidup dan hakikat perjuangan.

Sampai di sini, saya pinjam pemikiran Saudaraku, Ustad Iing AN, yang bertutur bahwa “Kebijakan yang melupakan kabajikan, hanya melahirkan kebujukan“, dan ini pasti masih ada kelanjutannya, yaitu kebijakan yang dibumbui kebujukan hanya akan menjadi kebusukan.

Advertisements