Pintar itu penting. Menjadi orang baik karena kepintarannya, jauh lebih penting lagi. Hal itu, menjadi penting karena sesungguhnya, setidaknya dalam pemahaman saya saat ini, pintar itu bukanlah orang yang banyak mengumpulkan pengetahuan. Dikatakan pintar, karena dia bisa memanfaatkan pengetahuannya.

Ada orang yang luas ilmu pengetahuannya. Tetapi, semua itu hanyalah ada dalam benaknya, dan tidak pernah diamalkan, digunakan, atau dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka orang itu, sesungguhnya tidak bisa dikatakan sebagai orang pintar. Justru, orang tersebut disebutnya sebagai orang bodoh.

Ibarat orang yang sudah punya segalanya, tetapi tidak mau menggunakannya. Seorang siswa, sekolah di sekolah favorit. Fasilitas olahraga lengkap, guru dan atau pelatih ada, tetapi siswa tersebut tidak pernah olahraga dan bahkan mengalami penurunan kualitas kebugaran. Ternyata, hal itu disebabkan karena dirinya adalah tidak maumemanfaatkan fasilitas hidup yang ada. Itulah ciri dari orang bodoh.

Dengan kata lain, bodoh itu bukan berarti karena tidak punya pengetahuan. Bisa jadi pengetahuannya luas. Tetapi, karena tidak mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya, maka dia terjerumus menjadi orang bodoh. Alangkah tepatnya, bila Rasulullah Muhammad Saw bersabda, sampaikanlah kepada orang lain, walaupun hanya satu ayat (balighu anni walau ayatun). Hal ini menggambarkan, bahwa menjadi ahli agama itu bukanlah karena dia luas wawasan atau mampu membaca banyak buku, tetapi karena dia mampu menyampaikan pengetahuannya kepada orang lain.

Bisa jadi, di kampus kita, atau di sekolah kita, banyak yang luas wawasan keilmuan agamanya, tetapi orang itu tidak atau belum disebut sebagai seorang ahli agama, bila dia tidak mengajarkannya pada orang lain. Dan banyak pula, orang yang digelari ustad, juru khutbah, atau penceramah yang sesungguhnya ilmunya biasa-biasa saja.

Di sinilah kita bisa menarik sebuah kesimpulan, bahwa pintar itu adalah orang yang mampu memanfaatkan modal sedikit untuk hasil yang optimal. Walaupun ilmunya sedikit, tetapi bisa dimanfaatkan, maka nilainya menjadi besar. Sedangkan ilmu yang luas, tetapi tidak diamalkan, nilainya menjadi kecil.

Bisa disebut hidup itu boros, bila sekedar untuk membeli sepotong roti harus menghabiskan uang ratusan ribu rupiah. Bila dapat dibeli dengan uang ratusan rupiah, mengapa harus ratusan ribu rupiah ? bila dapat dilakukan dengan cepat, mengapa harus lambat ? bila berpeluang meraih banyak kenapa harus mengambil sedikit ? hanya orang pintar saja, yang mampu bersikap hemat. Sementara orang yang bodoh, adalah orang yang boros.

Lebih meningkat lagi, pinta itu bukan sekedar bisa menggunakan ilmunya. Tetapi, menggunakan llmu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kata lain, orang pintar itu adalah mampu memanfaatkan ilmu pengetahuannya untuk kepentingan hidupnya. Dan orang pintar itu adalah orang yang mampu memanfaatkan peluang.

Pada saat peluang ada, kesempatan ada, dan pengetahuan pun sudah mumpuni. Tetapi, bila dia tidak memanfaatkan peluang tersebut, maka dapat dikatakan sebagai orang bodoh. Karena tidak memanfaatkan peluang yang baik, maka dia adalah orang bodoh.

Sudah tahu, besok itu dia akan ujian mata pelajaran geografi. Tetapi, pada malam harinya, dia malahan membaca majalah sepuluh judul, koran sepuluh buah, dan kemudia membaca novel hingga larut malam. Betul, di malam itu dia bisa menyerap sejumlah informasi dan tahu berbagai hal. Tetapi, orang itu hanya memiliki wawasan yang luas, tetapi tidak membaca peluang dan memanfaatkan peluang. Sehingga, pada keesokan harinya, disaat dia mengikuti ujian geografi, dia tidak mampu menjawabnya dengan optimal. Wawasan luas belum mampu mengangkat dirinya menjadi orang cerdas atau pintar.

Pernahkah mendengar ada ayam mati kelaparan di lumpung padi yang banyak berasnya ? itulah, ciri orang bodoh. Dia mati kelaparan, padahal dia tinggal di lumbung padi yang banyak berasnya. Ayam bodoh itu, dia tidak mampu memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam dunia sepakbola, bila kita sudah berhadapan dengan penjaga gawang (goal keeper), dan penjaga gawang itu sudah berada pada posisi yang terjebak kaku, karena salah langkah, lalu ternyata kita malahan terburu-buru, dan tergesa-gesa menendangnya, hingga arah tendangan bola tidak tepat sasaran dan tidak membuahkan gol, bagaimanakah penilaian kita terhadap pemain itu ? alangkah, sinisnya pada penonton melihat fenomena pemain yang seperti itu. Kebanyakan diantara kita, akan memberikan penilaian negatif, terhadap seorang pemain yang tidak mampu memanfaatkan peluang terbuka untuk sebuah hasil yang optimal.

Terakhir, dan inilah yang paling mulia diantara kepintaran yang ada, yaitu pintar memanfaatkan peluang untuk menjaga kehormatan dirinya. Ilmu yang dimilikinya, bisa dimanfaatkan, bisa digunakan, dan bisa diterapkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga wibawa, kekharismaan, dan kehormatannya semakin tinggi.

Menggunakan kepintarannya untuk mencuri, menjadi pintar nyontek, menggunakan kepintaran untuk melakukan korupsi, adalah sebagian contoh dari pemanfaatan ilmu pengetahuannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi, kebutuhan hidup yang terpenuhinya itu, adalah kebutuhan hidup yang kian merendahkan, menghancurkan dan menurunkan kehormatan dan kemuliaan dirinya.

Advertisements