Kekayaan adalah salah satu amanah. Amanah dari Tuhan untuk hidup dan kehidupan kita. Kekayaan itu, bukan saja memiliki peran penting dalam hidup manusia, tetapi juga memiliki magnet yang luar biasa besar. Karena daya tarik yang ada dalam kekayaan itulah, kemudian banyak orang, atau malahan hampir mendekati seluruh manusia, akan tertarik dan mengharapkannya.

Menjadi orang kaya, itulah impian banyak orang. memiliki gaji besar. Itulah dambaan manusia. Menduduki jabatan basah itulah kemauan banyak orang. Semua itu, adalah berbagai impian yang diorong oleh hasrat untuk menjadi orang kaya.

Tetapi, bila direnungkan dengan sebaik-baiknya. Apakah, yang dimaksud menjadi kaya itu karena kita memiliki gaji yang besar ? jawabannya sudah tentu, gaji yang besar itu perlu. Tetapi, gaji atau honor yang besar, bukanlah ciri atau indikasi dari kekayaan. Kita tidak akan menjadi orang kaya, bila kita hanya mengacukan diri pada keinginan untuk memiliki gaji yang besar.

Gaji yang besar tetap tidak akan mencukupi kebutuhan kita, dan kita tidak akan dikatakan menjadi orang, bila kebutuhan hidup atau pengeluarannya pun besar. Gaji yang besar itu, hanyalah akan menjadi penyebab hidup kita boros, dan tetap berada pada kondisi yang serba kekurangan dan tidak punya apa-apa.

Dengan kata lain, orang kaya itu bukan karena dia memiliki gaji atau tunjangan yang besar. Orang kaya itu adalah orang yang mampu meningkatkan selisih besar. Semakin besar selisih ekonomi yang dimilikinya, maka dia berpeluang besar menjadi orang kaya. Orang yang mampu meningkatkan selisih besar itu, adalah orang yang mampu mengelola pengeluaran sehemat mungkin, tetapi pendapatanya setinggi mungkin. Itulah orang yang berpeluang menjadi orang kaya.

Banyak orang disekitar kita yang memiliki gaji besar. Tetapi kehidupannya tidak menunjukkan diri sebagai orang kaya. Hal itu, terjadi, karena gaji yang besar itu, habis ludes digunakan untuk menutupi berbagai pengeluaran hidupnya. Akibat dari kondisi itu, di rumahnya sendiri dia tidak memiliki investasi atau tabungan sedikitpun, bahkan yang ada adalah tunggakan dan piutang ke sana ke mari.

Dalam kaitan ini pun, kita dapat mengatakan dengan tegas, bahwa yang dimaksud miskin itu bukan berarti karena dia memiliki kekayaan yang terbatas. Orang miskin itu, justru adalah orang yang memiliki kebutuhan lebih besar dari pendapatannya. Orang miskin itu adalah orang yang banyak kebutuhan, dan kebutuhannya hanya bisa dipenuhi oleh peran orang lain. Orang miskin itu adalah orang yang sangat bergantung pada peran orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kendati memiliki jabatan tinggi, tunjangan besar dan gaji tinggi, tetapi bila kebutuhan hidupnya harus tetap mengandalkan bantuan dari koperasi atau dengan cara korupsi, maka sesungguhnya orang seperti itulah, yang disebut sebagai orang miskin. Orang miskin itu adalah orang yang masih menjadi pengemis dalam hidupnya. Mengemis pada orang lain, dan mengemis pada negara. Bila tidak mendapatkan sesuatu dari hasil mengemisnya, kemudian dia melakukan tindakan pencurian. Sikap mencuri yang halus, biasanya disebut korupsi.

Kembali pada persoalan kita saat ini. Kita ingin menegaskan bahwa menjadi orang kaya itu, adalah pintar dalam meningkatkan selisih antara pendapatan dengan pengeluaran. Orang yang pintar mencari tambahan pendapatan, dan mengelola pengeluaran sehemat mungkin, maka itulah ciri dari orang pintar yang akan menjadi orang kaya. Karena dengan cara seperti itu, dia akan mampu meningkatkan selisih besar dalam kekayaannya.

Dengan semain besarnya selisih, semakin besar pula investasi atau tabungannya. Semakin tinggi investasinya, maka semakin besar kemandiran ekonominya, dan semakin tinggi pula kemandirian hidupnya, dan dia tidak akan banyak bergantung pada pemberian orang lain, dan tidak akan mengemis pada pihak lain. Proses dan perjalanan ini, mengarahkannya akan menjadikan dirinya sebagai orang kaya.
Di tempat kerja, saya terkesan dengan Group Gehu. Diantara kelompok ini, kerap kali tercetus kalimat bahwa mereka itu adalah kelompok low status but high profit. Status kami ini rendah, pejabat biasa, dan bahkan honorer, tetapi selisih-pendapatan dan kesejahteraan kami jauh lebih terasa dan ternikmati. Bagi Group Gehu ini, pendapatan yang kecil, ternyata masih tetap mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, dan bisa menabung sehingga memperbesar pundi-pundi kekayaannya, dibandingkan dengan sejumlah rekannya sekantor yang memiliki jabatan tinggi, dan bergaji besar, tetapi tampak gelisah dan merasa serba kekurangan. Kelompok yang kedua itu, disebutnya sebagai kelompok high status but low profit, status tinggi tetapi selisih-keuntungannya sangat kecil, hal itu terjadi karena gaya hidupnya yang boros.

Pada bagian inilah, kita ingin menegaskan bahwa kesejahteraan dan kekayaan itu, lebih disebabkan oleh kecerdasan kita dalam mengelola pendapatan dan menata pengeluaran, dibandingkan dengan persoalan tingginya jabatan dan atau pendapatan. Karena, kedua hal terakhir itu, bila tidak disertai dengan hidup hemat, maka akan tetap memosisikan kita sebagai orang yang serba kekurangan. Dan itulah yang disebut dengan kemiskinan.

Advertisements