Dalam satu jurnal, sebagaimana yang tertera dalam Jurnal Geo UPI Bandung (2011), tampak bahwa trend ilmu geografi saat ini cenderung ke arah Geografi Terapan (applied geography). Tulisan yang hadir dalam jurnal ini, datang dari berbagi perguruan tinggi dengan latar belakang disiplin ilmu spesialisasi geografi yang berbeda-beda. Tetapi, kerucut karakternya sama, yaitu berupaya keras untuk mengembangkan geografi terapan. Hampir 70-80 % tulisan mengandung karakter sebagai geografi terapan, khususnya penerapan teknologi dan/atau metode Sistem Informasi Geografi dalam menganalisis fenomena geografi di Indonesia.

Trend ini merupakan era positif bagi masa depan keilmuan geografi. Setidaknya, dengan adanya upaya mengembangkan geografi terapan di Indonesia ini, akan membantu menjawab pertanyaan mengenai absennya geografi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan strategis dalam proses pembangunan di Indonesia. Selama ini, masyarakat khususnya kita, kerap kali mengajukan pertanyaan, disaat terjadinya banjir, terjadnya bencana alam, krisis ekonomi, atau konflik sosial di masyarakat, dimanakah posisi geograf ? dimana ilmu geografi tengah berada ? mengapa persoalan-persoalan tersebut, yang sejatinya bisa dibaca oleh kalagan geografi manusia (human geography) malahan luput dari perhatian geograf ? oleh karena itu, sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa dengan suburnya perhatian akademisi geografi terhadap wilayah ilmu terapan, merupakan satu upaya strategis dalam menjaga eksistensi dan membangun kebisaterapannya (appliedicable) ilmu geografi dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana dipahami bersama, terdapat tujuan dasar yang berbeda, antara geografi murni dengan geografi terapan. Meminjam pandangan dari Palm dan Brazel, sebagaimana dikutip Michael Pacione (1998) :

applied research in any discipline is best understood in contrast with basic, or pure, research. In geography, basic research aims to develop new theory and methods that help explain the processes through which the spatial organisation of physical or human environments evolves. In contrast, applied research uses existing geographic theory or techniques to understand and solve specific empirical problems.(Palm & Brazel, 1992, p. 342)

Pada geografi murni (geografi teoritik), memiliki tujuan untuk mengembangkan teori atau menemukan teori dan methode baru yang bisa membantu dalam menjelaskan fenomena sosial, fisik atau keruangan. Sedangkan dalam geografi terapan adalah menerapkan teori-teori geografi dalam memecahkan masalah khusus yang terjadi dalam kehidupan nyata.

Secara teoritik, geografi dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu geografi murni (pure geography) dan geografi terapan (applied geography). Bila diperhatikan, pemilihan ini menjadi sangat jelas bagi kalangan ilmuwan geografi saat ini. Dalam pengembangannya, perhatian kita terhadap kedua aspek ini kadang tidak seimbang, dan juga kadang kurang peka terhadap pengembangannya. Dalam satu waktu, kadang kita lebih fokus pada bagian geografi terapan, dan pada bagian lain kadang kita lebih peka terhadap geografi teoritik. Walaupun dalam pelaksanaannya, pada dasarnya terdapat relasi-fungsional antara geografi murni dengan geografi terapan.

Dalam kaitan ini, Pacione (1999) mengutip pandangan Frazer :
applied geography uses the principles and methods of pure geography but is different in that it analyses and evaluates real-world action and planning and seeks to implement and manipulate environmental and spatial realities. In the process, it contributes to, as well as utilizes, general geography through the revelation of new relationships. (Frazier, 1982, p. 17)

Penjelasan Frazer ini menegaskan bahwa pada dasarnya, saat kita menggunakan geografi terapan, kita pun menggunakan prinsip dan metode geografi murni. Tetapi, hal yang membedakan dari geografi murni itu, adalah dalam tingkat dan orientasi analisis terhadap fenomena lingkungan dan keruangan. Misalnya, pada saat kita menganalisis fenomena mewabahnya penyakit Flu Singapure.

Awal November 2011, di sebuah keluarga di Rancaekek Bandung terkena virus flu Singapura. Orang yang pertama terjangkitnya adalah anak pertama, dan kemudian beberapa minggu berikutnya sang adik pun terimbasi pula. Mewabahnya flu singapura ini, tidak bisa dianalisis hanya sekedar dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan atau pemetaan endemik flu singapure, tetapi juga perlu dikaitkan dengan kerangka teoritik atau prinsip dasar dalam geografi kesehatan itu sendiri. Dalam kaitan itulah, maka dialektika antara geografi murni dan terapan, merupakan kerangka kritis dalam pengembangan geografi terapan, atau lebih tepatnya geografi kritis terapan.

Geografi kritis terapan ini, merupakan upaya kritis dalam menerapkan prinsip dan metode geografi dalam memahami fenomena geosfera. Pentingnya, penerapan prinsip kritis ini, satu sisi adalah mengeliminisasi teori-teori yang dianggap kurang aplikatif, dan pada sisi lain menghindari kesalah-konteks dalam penerapan metode praktis. Sehingga pada akhirnya, diharapkan hasil dari analisis itu mendekati pada kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Advertisements