Saat saya menjelaskan mengenai kebutuhan kita untuk berani melangkah, Sifa memberikan pertanyaan lanjutan, bagaimana bila kita salah dalam mengambil keputusan dan kemudian gagal ? ungkapnya. Dengan rona penuh penasaran yang bercampur dengan kekhawatiran, dia ajukan pertanyaan itu, dengan maksud supaya mendapat jawaban atas keraguan yang ada selama ini.

Pertanyaan yang serupa itu, merupakan pertanyaan umum yang banyak diajukan. Artinya pertanyaan yang seperti ini, kerapkali muncul dan dikemukakan orang. Setidaknya, dalam beberapa kesempatan memberikan pelatihan atau pembelajaran, saya kerapkali diberi pertanyaan serupa. Dengan demikian, pertanyaan seperti itu, saya sebut sebagai pertanyaan umum, yang biasa disampaikan orang kepada pemateri yang tengah membahas masalah pengambilan keputusan (decision making).

Pada sisi lain, saya pun sebenarnya ingin mengatakan bahwa pertanyaan seperti itu merupakan salah satu dari pertanyaan khusus. Di sebut khusus, karena pertanyaan itu kerap kali muncul hanya dari mereka yang tengah mengidap keraguan dalam melangkah. Mereka yang masih memiliki keraguan, kekhawatiran, dan takut menghadapi resiko lanjutan dari keputusan tersebut, cenderung akan mengajukan pertanyaan serupa, kendati dalam redaksi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, saya ingin menyebut pertanyaan ini sebagai pertanyaan yang benar-benar khusus, yaitu ciri khusus dari mereka yang sedang merasa bimbang dalam mengambil keputusan, ragu, dan penuh khawatir untuk mengambil keputusan.

Terkait hal ini, pada dasarnya, saya sendiri berpendapat, bahwa ada kekhawatiran, keraguan atau kebimbangan dalam diri kita itu, bukan sesuatu yang negatif. Perasaan-perasaan seperti itu, merupakan bentuk reaksi yang manusia dan wajar. Bahkan, itu menunjukkan salah satu hal yang positif. Hadirnya perasaan itu, menunjukkan bahwa hati dan pikiran kita memiliki saluran komunikasi yang baik. Apapun yang terasa dalam hati, kemudian disampaikan, disalurkan atau dikomunikasikan ke dalam pikiran, dan kemudian dilontarkan dalam bentuk pertanyaan.
Melalui pertanyaan itu, setidaknya, pikiran dengan hati itu terus bertemu dan berdialog untuk menemukan jawabannya. Dengan kata lain, bagi saya, hadirnya perasaan khawatir adalah sesuatu yang wajar, hal yang tidak wajar itu adalah bila kita memelihara kekahawatiran atau kegalauan tersebut.

Untuk menggambarkan proses pengambilan keputusan dalam melakukan perubahan itu, kita dapat menggunakan ilustrasi gerakan kaki kita. Pada saat kita akan melangkah itu, sesungguhnya ada tiga posisi utama gerakan kaki kita.
Pertama, posisi ajeg pertama. Kedua kaki kita sedang berada pada posisi nyaman, aman dan kokoh. Ingat, itu adalah posisi kenyamanan kita hari ini dan saat ini. Ingat posisi itu, ibarat posisi kenyamana karir kita atau perasaan kita. Posisi kaki yang ajeg itu, adalah posis kita saat ini.

Walaupun kita berada pada posisi yang sudah ajeg, tetapi kita merasakan bahwa posisi kita saat ini, bukanlah posisi yang ideal, dan bukan posisi yang kita dambakan. Kita memiliki asa dan hasrat besar untuk melangkah maju ke posisi yang jauh lebih maju, jauh lebih baik. Oleh karena itu, posisi keajegan kaki kita saat ini, akan diupayakan untuk maju melangkah ke depan.

Sekali lagi harus ditegaskan, bila kita tidak tegas mengambil keputusan untuk melangkah, maka kita akan terus kokoh pada posisi keajegan kaki itu, dan kita tidak akan pernah beranjak dari posisi yang ada selama ini. Berapapun waktu yang dilaluinya, sampai kapanpun, bila kita tidak pernah melangkah, maka posisi keajegan kaki kita itu akan terus berada di situ.

Kedua, bila kemudian kita menekadkan diri untuk melangkah, maka posisi kedua itu, adalah posisi melayangkan kaki. Langkah kaki yang manapun, baik kanan atau pun kiri, salah satu kaki yang diputuskan akan dilangkahkan itu akan berada pada posisi melayang.

Posisi melayang itu adalah posisi yang sangat labil. Labil karena dia akan mudah tertebak angin. Labil karena, posisi keajegan kita terganggu. Labil karena, belum memiliki pijakan baru yang kuat. Tetapi, gerakan itu adalah resiko dari sebuah hasrat untuk melangkah.

Ketiga, mendapatkan keajegan baru. Setelah melangkah, kaki itu dipastikan akan turun kembali ke permukaan bumi. Perbedaan antara satu orang dengan yang lainnya itu, hanyalah persoalan waktu. Tetapi, hal yang pasti hukum alamnya, kaki itu akan kembali menginjak bumi.
Gambaran ini, setidaknya ingin menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mengalami perubahan tempat, nasib, kondisi, atau keadaan, bila dirinya tidak mau melangkahkan kaki. Melangkahkan kaki itu, merupakan syarat pertama dan utama untuk bisa mengubah tempat-nasib kita saat ini.

Seseorang yang sedang bertekad untuk melangkah, harus siap dengan resiko melayang sementara di udara. Saat melayang di udara ini, akan lahir keraguan, kekhawatiran, ketakutan, kegalauan, atau kegetiran. Itu adalah hal yang wajar. Tetapi, hanya mereka yang tahu akan ada pijakan dan keajegan baru di masa depan itulah, yang akan dengan berani menikmati posisi kaki melayang.

Posisi kaki melayang itu, merupakan bentuk resiko hidup yang mau berubah dan mendapatkan posisi baru. Posisi kaki melayang itu, adalah sebuah pengorbanan diri dalam meninggalkan jejak masa lalu menuju ijakan di masa depan. Kekhawatiran dan kegalauan di saat kaki melayang itu, adalah bentuk perjuangan untuk mendapatkan ijakan nasib di masa depan.

Di saat kaki melayang, pijakan kita tidak berada posisi yang stabil. Itu adalah wajar. Sama halnya, bila kita mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Kebijakan yang bersifat refornatif dan atau merubah kenyataan yang ada saat itu, akan melahirkan ketidakstabilan. Tetapi, perlu dicatat, bahwa ketidakstablilan tersebut adalah bentuk ketidakstabilan sementera. Ketidakstabilan tersebut adalah bentuk pengorbanan kita untuk mendapatkan ijakan baru di masa depan.

Sehubungan hal ini, kita dapat menemukan pelajaran penting, bahwa orang yang sukses meraih pijakan baru di masa depan, dan kestabilan di masa depan, adalah orang-orang yang berani melayangkan kaki untuk melangkah, dan menikmati perjalanan tersebut. Dia tahu dan sadar, bahwa kekhawatiran selama melayang itu, merupakan bentuk pengorbanan yang harus dikeluarkannya demi tujuan untuk pijakan lebih kokoh di tempat baru, suasana baru dan nasib baru….

Advertisements