Setiap membicarakan masalah persaingan jabatan di sekolah, saya selalu teringat pada seniorku dulu, yang kini sudah hijrah ke salah satu madrasah negeri yang ada di Pulau Dewata. Sudah satu setengah tahun lalu, dia mengajukan mutasi ke Bali. Kepala Madrasah pun, saat itu dijabat oleh seorang kepala kelahiran Kota Sumedang, memberinya izin dan dukungan doa bagi senior kita ini untuk melanjutkan perjalanan karirnya di Pulau Seribu Pure.

Nurdiana. Itulah nama senior kita, yang meninggalkan madrasah ini. Pada rapat dinas terakhir, di tahun akademik 2010, dia memberikan sebuah paparan singkat, unik, tetapi tajam. Semua orang yang hadir pun kaget, karena selama ini beliau ini dikenal sebagai ibu guru yang santun. Santun bukan saja karena dia seorang ibu, tetapi sebagai keturunan Jogjakarta, dengan kalimat yang masih berlogatkan menjowo, dalam setiap perbincangan dia selalu menampilkan sikap kesantunannya. Berbeda dengan hari itu.

Mereka yang mendengarkannya, memberikan tanggapan yang beragam. Ada yang mengatakan bahwa perubahan sikap itu, lebih disebabkan karena dia baru saja lulus kuliah program magisternya di Universitas Pendidikan Indonesia jurusuan Pendidikan Bahasa Inggris. Oleh karena itu, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar saja, bila dia mengalami perubahan pola pikir.

Ada pula yang menganggap, sikap kritisnya itu karena dia berhadapan dengan kepala madrasah yang baru. Kebetulan, ini sekedar informasi, kepala madrasa di madrasah ini memang beru menjabat sekitar 3 bulanan. Di rapat terakhir itu, beliau baru masuk bulan ke tiga masa jabatannya di madrasah ini. Maka tidak mengherankan, bila kemudian banyak merangsang keberanian guru untuk mengemukakan apresiasi dan ekspresinya.

saya ingin ingatkan. Madrasah ini memiliki potensi besar untuk menjadi sekolah unggul. Sumberdaya manusia, sumberdaya pendidikan sudah cukup untuk melejutkan kualitas madrasah ini. Ujarnya, hal yang harus dilakukan oleh pimpinan madrasah, salah satu diantaranya adalah memastikan karir para guru. Jangan sampai guru di sini, tidak memiliki kejelasan dan kepastian karir.. paparnya lagi.
Dalam rapat itu, Ibu Nur , itulah panggilan kita-kita selama ini, memberikan komenta yang cukup panjang. mohon maaf, saya bicara agak panjang. Bukan saja, karena memang ini penting saya kemukakan, tetapi ini hanyalah rasa cinta dan kangen saya pada madrasah ini. Karena, dalam rapat-rapat yang akan datang, saya sudah tidak bisa lagi bisa hadir dalam ruangan ini…

Sontaknya saja, mendengar ucapan itu, peserta rapat yang hadir bergemuruh saling menyapa. Masih banyak guru yang tidak paham terhadap maksud dan arah pembicaraan ibu Nur tersebut.

sekedar informasi, dan mohon ijin kepada semua pihak, setelah saya berkonsultasi dengan kepala, saya memang hendak mutasi ke provinsi Bali. Jawabnya singkat, jadi, mulai tahun ajaran ini, saya sudah berada di pulau Dewata itu. Siapapun dari Bandung, bila jalan-jalan ke kota itu, dan bila berkenan mampir ke rumahku, saya merasa senang.. tawarnya lagi. Penjelasan itu, dia kemukakan dengan maksud, untuk meredakan kembali suasana di ruang rapat.

saya kembali ke pokok pikiran tadi, dan mohon izin, semoga Kepala berkenan memberikan kesempatan ini, mendengar permohonan itu, Kepala mengangguk dan tersenyum, sambil mengacungkan ibu jari pertanda persetujuannya, saya merasa prihatin, ujar ibu Nur, karir dan ekspresi kemampuan para guru di sini tidak optimal. Saya yakin, hal itu terjadi bukan karena kemampuan guru-guru di sekolah ini yang lemah, tetapi lebih disebabkan karena ruang ekspresi yang minim.. tuturnya lagi.

ada sikap dan kebijakan pimpinan yang kurang baik, yang berkembang selama ini di negeri kita ini. Banyak sekolah yang mengalami nasib seperti ini. Pimpinan sekolah atau pimpinan madrasah, banyak yang meniru perilaku politisi. Mereka lebih mengedepankan kepentingan sendiri, daripada kepentingan umum. Oleh karena itu, saya mohon maaf, pimpinan baru kita ini, janganlah menggunakan kebijakan yang menghambat pada ekspresi profesi guru.

Sikap pimpinan yang perlu dihindari itu, ujarnya, ada prinsip kronisme. Dalam prinsip ini, menurut pandangan Ibu Nurdiana, yaitu seorang pemimpin yang menyandarkan prinsip kekuasaan pada aturan (a) siapa yang bisa menjilat, dia akan diangkat, (b) siapa yang tidak bisa menjilat, mungkin tidak berbakat, tetapi (c) siapa yang tidak mau menjilat, dia akan kiamat atau disikat.

Mengingat hal itu, saya berharap, bila pimpinan madrasah ini, mau dan mampu mengembangkan manajemen madrasah yang baik dan benar, saya yakin, madrasah ini akan menjadi madrasah yang bisa dibanggakan. Mungkin itu yang saya bisa sampaikan, mohon maaf terlalu panjang, dan mohon pamitan serta doanya, kami sekeluarga, minggu depan akan melanjutkan perjalanan menuju tempat yang baru…tutur Ibu Nurdiana, menutup pembicaraanya tersebut.

Sekali lagi, kami tertegun, dan memberikan apresiasi yang positif terhadap pemikirannya Sang Magister baru di madrasah ini. Saat menyimak pembicaraannya itu, hampir banyak suara yang memberikan apresiasi positif dan pengakuan nyata, bahwa si penutur itu memiliki kejelian, kecerdasan, dan kepedulian yang kuat terhadap masa depan madrasah.

Kesimpulan kami waktu itu, sayangnya kecerdasan itu harus berakhir dan berujung perpisahan. Semula, kami tidak mau menyimpulkan pandangan bahwa dia kritis itu, karena dia mau meninggalkan kami. Tetapi, ini adalah fakta yang ada. Tetapi, pesan terakhirnya itu, saya merasa yakin akan terus hidup dan akan tetap dihidupkan oleh kelompok-kelompok kritis yang peduli pada masa depan madrasah.
Melalui tulisan ini, salam kangen dari keluarga besar Madrasah senantiasa melayang di atmosfera kehidupan ini, yang menanti pertemuan shilaturahminya kelak di kemudian hari.

Advertisements