Seringkali kita berada pada kondisi harus menunggu. Apapun kegiatanya, banyak kali kita harus menunggu dalam sebuah antrian. Di halte bis, kereta api, stadion sepakbola, gedung konser, antri bertamu ke pejabat dan lain sebagainya. Salah satu antrian yang paling menyebalkan, dalam pengalaman ini, yaitu antri di rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan.

Entah untuk keberapa kalinya, saya harus ikut antrian. Sebenarnya kapok, dan sering terbersit tidak mau lagi mengalami kasus berantri seperti ini. Antri berlama-lama, hanya menunggu nasib saja. Kapok bukan saja, karena lamanya berantri, tetapi juga mengalami nasib seperti ini. Antri di pusat pelayanan kesehatan, sudah pasti bila kita tidak sakit, yang ada saudara kita yang sakit. Jadi, antri di rumah sakit itu, benar-benar sangat menyebalkan. Karena dua-duanya sangat tidak diinginkan. Antrinya yang lama, tidak kita inginkan, sakitnya pun tidak kita inginkan.

waduh…., antrian nomor 41.. ujar istriku.
empat satu..?!!, pikirku. Sambil melirik jam yang ada di pergelangan tangan kiri. Terbayang sudah, angka itu sudah bukan lagi menunjukkan angka yang bersahabat.

sekarang nomor berapa, tanya ke orang lain ! pintaku, sambil bergerak menuju tempat duduk antrian di depan sebuah kamar poliklinik anak. Di lokasi ini, banyak orang yang juga sedang menunggu.

Mudah ditebak. Wajah-wajah mereka yang duduk diantrian itu, jarang-jarang yang menunjukkan keceriaan. Anak-anak yang digendongnya ada dalam keadaan lemas. Di pelokan sang ibu, atau sang ayah, mereka hilang keceriaannya sebagai seorang anak. Sementara sang ayah dan ibunya pun, hanya sesekali senyum. Senyum terpaksa, disaat para petuga kasir di depan antrian menyapa.

Mungkin, hanya para petugas kasir itulah yang tampak ceria. Yang lakinya, bekerja dengan cekatan dan wajah ceria. Sementara yang wanitanya, tampil cantik memesona. Senyum merekahnya senantiasa terkulum sudah dibibirnya.

wajar aja, mereka ceria, melihat kita banyakan begini..ujar seorang pemuda di sampingku, yang ditanya oleh pemudi yang ada di sampingnya. Mungkin mereka itu, adalah pasangan muda usia, yang akan memeriksakan kesehaan istrinya, yang tampaknya lagi hamil muda.
iya, mereka ceria, habis pasiennya berantri banyak begini…ujar sang pemudi membalasnya lagi.

Timpal menimpal komentar itu, berujung pada satu opini, seolah-olah para petugas kesehatan itu, sedang ceria dihadapan penderitaan orang lain. Bila opini ini diamini dengan pola pikir yang serupa, para petugas kesehatan itu, seolah sedang bahagia diatas penderitaan orang lain.
bukan begitu lho…, Kak bantah adikku. Bantahan itu, sempat dikemukakan oleh adikku yang kini bertugas di Serang Banten. Adikku yang kini menjadi seorang perawat, dan juga bersuamikan perawat pada sebuah Puskesmas di Serang Banten, memberikan klarifikasi bahwa senyumanya para petugas kesehatan itu, bukan karena bahagia diatas penderitaan orang lain. Hal itu kami lakukan, karena menurut kami, pelayanan yang menyenangkan, senyum diantara para petugas kesehatan, adalah obat jiwa bagi para pasien. Coba bayangkan, bagaimana akan stres dan depresinya para pasien, bila dokter dan perawatnya pun menunjukkan sikap yang kurang sopa kepada kita… katanya membela profesinya itu.

Penjelasan adikku itu, mungkin ada benar. Setidaknya masuk akal, dan mudah dipahami. Tegur sapa, dan pelayanan yang manusiawi, familiar dan penuh keakraban dari tenaga kesehatan, kerap kali membuat kita merasa nyaman dan enak. Penyakit yang berat yang tengah diidap pun, akan sedikit terobati dengan pelayanan yang menyejukkan. Sedangkan, pelayanan yang kurang memberikan kenyamanan kepada pasien, jangankan penyakit, antriannya saja pun sudah membuat stres para pasien atau pengantar pasien. Seperti yang teralami saat itu.
Kita nomor 41, sekarang sedang nomor berapa ? tanyaku lagi. Istriku yang baru saja pulang dari kerumunan para pengantri datang, dan memberikan jawaban.

tadi yang baru keluar, yaitu nomor 39… jawabnya.
wah… Bagus.. jadi tinggal dua orang lagi ?!
Nggak, maksudnya itu, tadi, baru antrian nomor 39 yang selesai di timbang badan, bukan diperiksa..?
yang diperiksanya sudah nomor berapa?
gak tahu ?
kenapa ?
dokternya juga belum ada ?!!! jawab istriku singkat.
HAH !!!

Tidak habis pikir. Tidak mengerti. Pusing. Aneh. Mengapa hal itu bisa terjadi ? Kata petugasnya,nanti siang baru datang ?
jam berapa ?
siang…gak sebutin jam…! istriku tak bisa jawab lagi.
Gubrag !

Saya benar-benar tidak mengerti. Mengapa hal ini terus terjadi. Nomor antrian terakhir, dengan nasib yang tidak pernah jelas. Lemes sudah. Tak kuasa lagi, membayangkan keadaan anakku yang sudah sedari pagi ada dalam pangkuan ini. Apa mungkin, suatu saat, saya harus langsung saja masuk ke ruang gawat darurat, katanya di ruangan itu selalu ada dokter yang siap jaga, biar langsung diperiksa ? pikiran itu kadang muncul dalam pikiran ini. Biar sedikit keluar dompet agak tebal, tetapi pelayanan kepada pasien yang lagi sakit dapat segera dilakukan.

sekarang nomor berapa ?
nomor 40 silahka masuk.. panggil petugas ruangan, nomor 41 silahkan menghadap ke bagian administrasi…! perintahnya lagi. Saya pun berdiri dan beranjak pergi kelokasi yang ditunjuk oleh petugas.
saya mau menggunakan askes bu? jawabku, ketika dia bertanya mengenai pembiayaan yang harus dikeluarkan.
Oh..silahkan. Mana rujukan dari puskesmasnya? katanya.
maksudnya ?

Sebelum datang ke sini, bapak harus bawa dulu rujukan dari puskesmas atau dokter keluarga yang sudah ditunjuk oleh pihak Askes.. paparnya lagi.
ga punya. Jawabku polos.
bapak ke sana dulu, minta dulu ?
tapi, anak saya sekarang sakit, bisa gak diperiksa ?
bisa, nanti kita proses. Tapi persyaratan administrasi diselesaikan dulu, silahkan ke puskesmas dulu ?
tutup jam berapa rumah sakit ? tanyaku. Mendengar pertanyaan itu, petugas itu menjawab, bahwa rumah sakit itu buka 24 jam, hanya dokternya bertugas sampai pada pukul 15. Nanti oleh perawat.

HAH ! pikiranku mulai berputar lagi. Nasib anakku sudah semakin kritis, dan dia harus menunggu proses panjang. Memulai lagi dari awal. Prosedus Askes, kata orang mudah dan memudahkan, tapi dalam kondisi darurat seperti ini, malah sulit dan menyulitkan.
jadi kami harus gimana?

terserah bapak, mau gimana ? kalau mau askes, prosedur itu harus ditempuh, dan kalau tidak, ya terserah Bapak? bingung lagi. Terpaksa lagi. Terdesak lagi. Dan tidak berdaya lagi.

Wajah saya kembali melirik ke teman-teman yang lain, yang juga sedang antri di kursi penantian. Sekali lagi, saya tidak melihat keceriaan dalam diri mereka. Bisa jadi, mereka cemas, menanti vonis dari dokter mengenai penyakit yang diderita oleh anggota keluarganya, bisa jadi mereka pun cemas, karena harus mendengarkan vonis pembiayaan yang harus dikeluarkan dalam proses pengobatan ini, atau juga mereka cemas, karena memikirkan perasaan anggota keluarganya yang sedang meringis menahan sakit menunggu panggilan dari petugas kamar poliklinik.

Hal yang pasti, saat hadir di ruangan ini, pun, nomor antrian keempat puluh satu pun, adalah penyebab kecemasan yang tidak mudah diobati. Karena, menanti itu sendiri adalah perasaan yang sangat menyakitkan.

Dokter, menanti itu sakit.
Oh..andai ada dokter yang berprofesi sebagai spesialis penyembuh penyakit penantian !

Advertisements