benar, bila ada yang mengatakan bahwa puisi itu adalah ekspresi…, gumamku saat itu. Kesadaran ini muncul, karena ternyata dengan puisi itu, ternyata mampu mengungkapkan sesuatu yang selama ini tersembunyi. Karena ada puisi itu jugalah, banyak orang yang berbicara, membicarakan dan atau dibicarakan. Sebagaimana yang terjadi pada saat itu.

Adalah Opik, nama siswa tersebut. Puisinya menjadi heboh dan banyak dibicarakan orang. Bukan saja, guru yang memberi tugasnya, tetapi wali kelas, wakil kepala sekolah dan kepala sekolah pun turut serta membicarakannya. Mereka antusias dan begitu serius membicarakan masalah puisi Opik.

Tidak kurang dari satu hari, setelah dibuantnya, banyak guru di madrasah itu kemudian membicarakan puisi Opik.
ini harus segera ditindak lanjuti…tukas kepala sekolah. wali kelas tolong, selidiki anak dimaksud, bagaimana dia dalam kelas, dan apa masalahnya, sehingga dia membuat puisi seperti itu…?

kalau di kelas, dia sesungguhnya orang pendiam, pak !, jawab wali kelas, mungkin, karena di rumahnya ada masala, sehingga dia mengekspresikan situasi keluarganya seperti itu, dalam bentuk tulisan…

Puisi yang dibuat Opik itu, memang unik. Judulnya Harapan Tinggal Harapan. Dengan judul serupa itu, para guru yang hadir dalam pembicaraan dengan kepala, membicangkan, dan mengeluarkan sejumlah pernyataan, jangan-jangan, anak ini sedang ada masalah di keluarganya, dan itu harus segera diselesaikan.. usul dari guru senior dalam jurusan bahasa.

kok berani-beraninya, dia mengatasnamakan seluruh warga, padahal puisi itu bikinan sendir, berarti anak itu mengalami halusinasi… komentar yang lainnya.

Perdebatan panjang itu, terus menerus berlanjut, hingga pada ujung persoalannya, kepala sekolah itu menginstruksikan wakil kepala sekolah dan wali kelasnya untuk memanggil Opik dengan maksud diminta penjelasannya mengenai puisi dimaksud.

Tidak berapa lama, Opik pun dengan mudah dipanggil. Maklum, karena sekolah masih dalam suasana proses belajar mengajar, maka menemukan siswa yang ada di kampus itu amat dengan mudah. Opik dipanggil langsung di suruh menghadap wali kelas. Mereka bertemu enam mata, yaitu wakil kepala sekolah, wali kelas, dan Opik. Di ruangan itulah, mereka berbicara dan membicarakan mengenai puisi harapan itu.

apa maksud kamu menulis puisi tersebut ? tanya wali kelas.
yang ekspresi aja, bu..

tapi, tahu isi dan dampak dari puisi itu …? wakil kepala pun menimpalinya.
saya menulis, sebagai ekspresi pribadi, dan maksudnya atau dampaknya, mudah-mudahan mendapat nilai terbaik dari guru yang memberi tugasnya… Opik menjawabnya dengan polos.

coba kamu perhatikan kembali puisi…. wakil kepala sekolah mulai menggunakan nada soprannya, agak naik dan meninggi. Mungkin reaksi ini, muncul sebagai akibat dari melihat reaksi Opik yang polos, dan menjawab komentar mereka dengan wajah tanpa dosa.
iya, pak… opik menjawab singkat.

kalau kamu punya masalah di keluarga, coba kemukakan kepada kami, atau kepada orangtuamu sendiri…..saran wali kelasnya, jangan sampai ditimpakan pada orang lain, apalagi menyalahkan sekolah, guru atau lingkungan kelas…tuturnya lagi.
maksud ibu…?

dalam puisi itu, kamu tampak kecewa. Kecewa oleh berbagai hal yang ada di lingkungan sekolah. Kamu kecewa dengan guru, kecewa dengan lingkungan. Kecewa dengan sekolah. Kecewa dengan kantin, dan kecewa dengan berbagai hal lain lagi. Itu semua menunjukkan bahwa kamu sedang mengalami depresi dengan banyak persoalan, yang kemudian menuliskannya dalam puisi ini..
itu semua hanya ekspresi saja, bu..?

ekspresi boleh, tetapi kamu harus sadar, harus ada etika… jawabnya ibu wali kelas, berbarengan dengan wakil kepala sekolah, apalagi ini sekolah agama, madrasah. Masa kata-kata yang digunakanya tidak mencerminkan etika agama ? wakil kepala melanjutkannya.
Mendengar komentaran seperti itu, Opik pun mulai merunduk. Pikiran dan perasaannya mulai galau. Keluwesannya dalam berekspresi pada beberap hari yang lalu, kemudian mengerut lagi, dan kini gen-ekspresifnya, energi kreativitasnya malahan mengerut mengecil kembali. Warna kulitnya yang memang hitam sejak kelahirannya, dalam beberapa hari yang lalu sempat memancarkan warna hitam manis, cerah, dan memesonakan sejumlah guru. Hal itu terjad, selepas dirinya mengekspresikan perasaannya dalam sebuah puisi dan kemudian puisi itu diapresiasnya dalam sebuah bazaar dan pameran Bulan Bahasa tahun 2011. Sayangnya, kecerahan dan aktualisasi diri dari siswa yang selama ini dianggap aktivis itu, harus memudar lagi setelah 3 hari bersinar dengan baik.

ibu, saya mohon maaf, bila puisi itu memang menyinggung perasaan ibu, dan bapak, atau siapapun…? ungkap Opik.
kami tidak tersinggung, hanya kami menyarankan, kalau membuat karya tulis itu, haruslah yang kreatif, berkualitas dan tetap menjunjung etika, karena kita ini adalah sekolah agama. Gunakan kata-kata yang baik, dan sopan, karena perkataan itu adalah cermin dari pendidikan kita… jawab wakil kepala sekolah.

Karena sudah hampir memakan waktu sekitar 2 jam, Opik dinasehati istilah wakil kelapa sekolah, maka obrolah itu pun ditutup juga. Menurut wakil kepala, proses itu adalah proses menasehati, dan menurut wali kelas itu hanya upaya sebagai klarifikasi, dan menurut pimpinan mereka, tindakan itu sebagai upaya untuk menggali informasi yang sebenarnya. Tetapi, bagi Opik sendiri, kejadian itu tidak jauh bedanya dengan interogasi. Interogasi.

Hingga pada akhirnya, dalam bathinnya, kini muncul lagi pertanyaan yang dituliskannya dalam puisi itu.
harapan tinggal harapan,

kau tidak sadari, mereka itu kecewa
harapan yang selama ini digantungkannya pada setiap papan tulismu,
tinggal harapan

harapan tinggal harapan
asa yang dilepasnya sejak injakan kaki pertama di sekolah ini
meninggi dan melangit
pada saatnya, yang terinjak hanyalah lumpur busuk belaka
semua tinggal harapan

dimanakah kesopanan,
bila ekspresi sudah dipasung
dimanakah etika,
bila hak asasi anak manusia sudah dipenjara
dimana namanya sekolah
bila kreativitas anak-anakmu sudah dijajah

semua tinggal harapan

Dengan kejadian itu, Opik sungguh merasa terkejut. Terkejut bukan saja, karena puisinya sempat membuat sebagian guru apresiatif terhadap karyanya, tetapi juga telah membuat gusarnya sebagian para pejabat di negeri pendidikan ini. Katanya, mereka menganggap dirinya sedang dalam depresi. Tetapi, sesampainya di bangku belajarnya di kelas, diapun terkaget-kaget lagi, karena ada sepucuk surat terbuka.

anakku,
lepaskanlah kendali pengikatmu,
teruslah berjalan,
kebenaran tidak selamanya mendapati jalan mulus
ekspresi ketulusan senantiasa membutuhkan pengorbanan

anakku,
di negeri kebohongan, kejujuran itu adalah penyakit
di negeri jujur, kebohongan adalah jahat
di negeri serakah, etika itu adalah bencana
di negeri santun, menyiksa itu adalah pembinaan
teruslah berjalan,
kebenaran tidak selamanya mendapati jalan mulus
ekspresi ketulusan senantiasa membutuhkan pengorbanan

Membaca bait pesan itu, Opik pun kini merekah lagi. Tersenyum. Dan kini dia mulai sadar. Bahwa yang depresi itu, bukan dirinya. Walaupun dia pun sempat merasa tertekan pula dengan interogasi yang baru saja dialaminya. Karena ada puisi yang dikirim lewat angin itu, kemudian dia pun tersenyum kembali membaca puisi yang digubahnya dalam beberapa hari yang lalu. Dia pun kian tersenyum, ketika membaca kembali baik-bait puisi yang sempat ditulisnya beberapa waktu lalu……..

Oh, sekolahku
Kulihat petugasmu bergegas masuk kelas
Mereka berkejaran
bukan dengan kesadaran yang kami miliki,
Tapi sekedar berkejaran dengan lonceng yang sebentar lagi berbunyi

Oh sekolahku,
Sudah berlalu seluruh janjimu
Hanya satu yang terbukti
karena itupun aku terdiam

Oh, sekolahku
aku menyadari
aku adalah siswamu yang tidak sepintar gurumu itu,
tapi, petugasmu duduk di meja dan berbicara
Entah apa yang diungkapkan
Semua anak tetap membisu
Kau tersenyum, Aku terdiam
Kau berbicara, Aku terdiam

Tapi, diakhir pelajaran, kaliah semua berucap, terima kasih, kelas ini adalah kelas yang paling baik, yang ibu ajar…

ternyata, di sekolah, di madrasah ini, lebih senang anak-anak itu diam daripada aktif….. ujarnya dalam bathin.

Advertisements