Ada sebuah buku, yang diberi judul Where We Live, ditulis oleh Emilie Van Beil Jacobs (2007). Buku itu terbit sebagai salah satu bentuk dedikasi dari Projek Gutenberg (The Project Gutenberg Ebook) . Buku ini menarik untuk dikaji, dan juga dipelajari oleh seorang guru, khususnya guru geografi. Karena, ini pengalaman pribadi saya, dengan membaca buku ini ternyata dapat membantu kita membangunkan kesadaran geografik. Mungkin itulah yang dimaksud oleh Cooper dalam pengantar buku ini, yang dia katakan sebagai sebuah buku kecil yang tidak sekedar menekankan deskripsi informatif, tetapi juga sekaligus memberi arah jalan untuk menemukan makna dan konsep geografik yang kaya.

Dalam versi e-book ini, ada karakter yang unik dari buku ini. Buku elektronik (ebook) sajian Beil Jacobs tersebut lebih menekankan pada aspek pertanyaan. Dia mengajukan sejumlah pertanyaan, yang disusunnya sedemikiran rupa sehingga, setiap pembaca, atau peserta didik dapat mengarahkan perhatiannya pada pengetahuan geografik, dan sadar geografik. Hukum pembelajaran atau materi pertanyaannya mengacu pada hukum pembelajaran yang tepat, yaitu dari yang diketahui menuju sesuatu yang belum di ketahui (from the known to the unknown). Menurut Cooper, itulah yang disebut dengan good pedagogy (pembelajaran yang baik). Tetapi, sudah tentu, untuk mewujudkan proses pembelajaran itu, kita harus benar-benar mampu menyajikan informasi yang diketahui itu sebagai modal pembelajaran yang tepat bagi anak.

Rumusan pembelajaran yang baik itu, yakni from the known to the unknown, sudah tentu yang dimaksudkannya pun, bukanlah yang diketahui guru. Bukan itu. Tetapi, berawal dan berangkat dari yang diketahui siswa. Pengetahuan awal siswa, atau pengetahuan dari pengalaman hidup siswa itulah yang harus dijadikan modal awal dalam melanjutkan proses pembelajaran. Dengan kata lain, belajar yang baik itu, menurut Cooper dan Beil Jacobs, adalah menggunaan pengetahuan siswa atau pengalaman hidup siswa sebagai modal awal untuk mengembangkan pengetahuan lebih lanjut. Pada konteks itulah, maka mengajukan pertanyaan yang tepat kepada siswa, merupakan rangsangan pembelajaran yang baik, untuk mengundang minat dan kemampuan belajar siswa.

Kelemahan kita selama ini, lebih banyak mengajarkan sesuatu yang tidak diketahui siswa. Sehingga, anak itu tidak tertarik terhadap materi ajar, dan atau kurang meminati materi ajar dimaksud. Atau pada sisi lain, kelemahan kita ini, adalah lebih banyak mengajarkan sesuatu yang diketahui guru, dan bukan sesuatu yang diketahui siswa. Akibatnya, gurunya merasa senang mengaar, sedangkan anak-anaknya tidak senang belajar. Hal itu, karena materi yang kita sampaikan itu belum nyambung (tidak konek) dengan pengalaman dan pengetahuan siswa. Hemat kata, dari penjelasan itu, dapat ditarik satu pengalaman mengajar yang baik, yaitu untuk meningkatkan partisipasi belajar dan minat belajar anak, maka mengajar itu, bukan berawal dari apa yang diketahui guru, tetapi berawal dari apa yang diketahui siswa….

Pendekatan yang digunakan dalam Where We Live, yaitu menggunakan pertanyaan sebagai rangsangan belajar. Pertanyaan tersebut, disusun sedemikian rupa dari hal-hal yang ada di sekitar siswa, atau hal-hal yang diasumsikan diketahui oleh siswa, kemudian beranjak pada materi pertanyaan yang lebih luas, yang membutuhkan eksplorasi atau penggalian kembali. Misalnya saja, mereka ditanya mengenai dimana rumah kamu ? apa alamat rumahmu ? dimana sekolah kamu ? apa nama jalan tempat sekolahmu, atau nama jalan rumahmu ?.

Terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam buku tersebut, Emilie Van Beil Jacobs (2007) mengajukan empat aturan main, satu diantaraya boleh dilakukan, yaitu, (1) siswa boleh membaca pertanyaan secara lisan, dan menjawabnya dengan lisan, (2) siswa boleh membaca dalam hati, dan menjawabnya secara lisan, dan (3) siswa boleh membaca secara lisan dan menjawab dengan tulisan, atau (4) membaca dalam hati tetapi jawabannya dalam bentuk tulisan.

Dari buku Where We Live ini, disajikan dalam dua bagian. Bagian pertama, menyajikan tema tentang sekolah kita, jalan, bangunan, kota, penduduk, industri dan pekerjaan, binatang dan tumbuhan, transportasi dan komunikasi, fisiografi, dan arah. Sementara pada bagian keduanya, menyajikan ruang lingkup geografi yang lebih luas. Pada bagian ini, disajikan mengenai Bumi (earth), musim, zonasi wilayah, dan Amerika Utara, serta Negara-negara di Amerika Utara, dan konsep tentang perjalanan (trips).

Pengalaman dari membaca buku tersebut, setidaknya ada lima pelajaran menarik yang dapat diambil. Pertama, proses pembelajaran itu, pada dasarnya adalah membangkitkan pengetahuan awal, dan kemudian mengembangkannya menjadi lebih luas, dan lebih kaya. Kedua, proses pembelajaran hendaknya mengacu pada kemampuan awal siswa, dan bukan pada kemampuan awal guru. Ketiga, bertanya ternyata memiliki kemampuan dahsyat dalam membangkitkan minat dan kemampuan seseorang. Karena ada pertanyaan, seseorang bisa terdorong untuk mencari dan menemukan jawaban (pengetahuan) yang lebih baik. Keempat, masih langkanya tradisi bertanya dalam proses pembelajaran, baik guru yang bertanya maupun siswa yanag bertanya. Tradisi mengajar kita, lebih banyak menggunakan model ceramah, satu arah, dan lebih mendoktrin. Dalam tradisi ceramah, sudah tentu hukum-hukum yang kita uraikan dalam tulisan ini tidak berlaku. Karena orang ceramah, tidak menggunakan pengetahuan awal siswa sebagai pijakan pembelajaran.

Terakhir, pertanyaan mampu merangsang sekaligus mengundang jawaban yang bisa menyentuh kesadaran manusia. Misalnya, coba jelaskan, mengapa lingungan kita banyak melahirkan bencana banjir ? apa yang sudah kita lakukan demi menghindari banjir di lingkungan rumah kita ?….

Advertisements