Bagi sebagian orangtua di Negara kita, biaya pendidikan masih tetap menjadi masalah. Tidak hanya di daerah pedesaan. Di tengah-tengah kota pun, masih ada orangtua yang mengalami kesulitan dalam masalah biaya pendidikan. Fenomena ini kian memperkuat dalil mengenai adanya fenomena kemiskinan kota (poor urban society). Seperti yang dialami oleh salah seorang wali siswa di madrasah aliyah ini.

Dengan persoalan utama itu, maka kehadiran Bantuan Operasional Siswa (BOS), atau Baantuan Walikota (Bawaku) Bandung, atau Bantuan Siswa Miskin (BSM), merupakan satu anugerah tertentu. Kehadiran kebijakan pemerintah tersebut, merupakan satu helaan nafas yang sedikit melegakan dalam kehidupannya. Termasuk yang dialami oleh Hambali dan Huzaifah, siswa kelas XI MAN 2 Kota Bandung.

Namun demikian, beasiswa yang di salurkan Pemerintah tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan pendidikannya di madrasah. Biaya pendidikan yang diberikan Pemerintah itu, harus dengan cermat dan strategis dibelanjakan, dengan target maksud dan tujuan pendidikan tercapai.

Seperti yang terjadi di berbagai sekolah/madrasah pada umumnya, bantuan biaya dari Pemerintah itu, tidak langsung diterima oleh siswa atau orangtua bersangkutan. Mereka itu, hanya dipanggil ke sekolah, kemudian berdialog dengan Pemerintah untuk menentukan keperluan pendidikan anak-anaknya selama mengikuti pendidikan. Hasil dialog inilah, yang kemudian dijadikan landasan keputusan dalam menentukan pengelolaan atau belanja pendidikan yang bersumber dari dana BOS tadi.

Silang pendapat keluar masuk, dan hilir mudik dalam forum dialog antara sekolah dengan orangtua siswa. Secara pribadi, dalam kapasitasnya sebagai salah satu bagian dari lembaga pendidikan itu, saya mengusulkan untuk visi dan misi pendidikan ke masa depan. Misi itu diantaranya adalah membangun madrasah yang aman dan nyaman untuk belajar. Konsep dasarnya, dikembangkan the green madrasah (madrasah hijau).
Terkait dengan hal ini, dicanangkan pada hari Sabtu sebagai hari ekstrakurikuler dan hari minim polusi. Bersandar pada misi inilah, dan juga terkait dengan kebutuhan siswa madrasah itulah, kemudian dikembangkan model beasiswa sepeda.

Ada beberapa argument pendukung dalam mengimplementasikan beasiswa sepeda di lingkungan madrasah ini. Pertama, siswa dengan latar belakang ekonomi yang minim, kerap kali mengalami kesulitan biaya transportasi. Iuran bulanan masih bisa ditangguhkan, atau menunggak, tetapi biaya transportasi harus tetap tunai. Tidak ada toleransi untuk menunggak dalam biaya transportasi. Oleh karena itu, biaya transportasi itu merupakan biaya rutin yang harus keluar.

Kedua, bila tidak memiliki biaya transportasi, para siswa banyak yang mengambil jalan pintas. Bolos sekolah. Pilihan hidup seperti ini, amat sangat merugikan. Karena pilihan itu, bukanlah pilihan terbaik. Pilihan itu adalah pilihan pahit dan buruk. Terlebih lagi, bila jumlah ketidakhadiran itu, akan turut mempengaruhi nasib kelanjutannya belajar. Dengan alasan ketidakhadirannnya itu pulalah, banyak siswa berekonomi lemah terpaksa dropout (DO), atau mengundurkan diri dari sekolah/madrasah.

Pilihan yang kreatif, yaitu bersekolah dengan berjalan kaki. Dari sudut olahraga dan kesehatan, pilihan ini kreatif dan menyehatkan. Tetapi, bila dilihat dari sudut jarak dan lokasi, maka pilihan ini pun masih tergolong dengan pilihan pahit. Walaupun, diantara sejumlah siswa madrasah yang sekolah di lembaga ini, cukup banyak siswa yang mengambil pilihan untuk berjalan kaki dengan alasan ketiadaan biaya tranportasi.
Ujung dari pilihan kedua ini, ada dua fakta, yaitu (1) mereka pergi sekolah berpagi ria, dan (2) berangkat pagi normal, tidak terlalu nyubuh (berangkat setelah subuh), dan kemudian dia harus menerima sarapan rutin harian diomel guru piket karena sering kesiangan. Dua fakta itulah, yang akan menjadi bagian dari kehidupan seorang siswa yang memiliki alternative berjalan kaki ria ke sekolah/madrasah.

Ketiga, bersepeda merupakan bentuk lain dari olahraga. Seni bersepeda memiliki nilai strategis untuk kepentingan kesehatan. Dengan bersepeda itu, seseorang telah melakukan aktivitas gaya hidup sehat (health life style) dalam kehidupan sehari-harinya. Itulah, gaya hidup aktif (active life style) yang mendukung pada usaha mempertahankan kesehatan dan meningkatkan kesehatan.

Di era modern ini, banyak sarana teknologi transportasi dan atau fasilitas hidup yang memanjakan tubuh. Karena adanya fasilitas hidup, seperti escalator atau lift, manusia kehilangan kesempatan untuk mengembangkan gaya hidup aktif. Perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lain, sudah dipenuhi oleh sarana transportasi. Setiap aktivitas hidupnya sudah dipenuhi oleh kehadiran sarana teknologi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kemudian banyak manusia yang mengalami gangguan kesehatan, khususunya karena minimnya aktivitas gerak (hipo-kinesia).

Kehadiran beasiswa sepeda ini, merupakan solusi kepada para siswa. Satu sisi, mengganti gaya hidup aktif berjalan kaki, dan sisi lain tetap melanggengkan gaya hidup aktiv sehat. Melalui beasiswa sepeda ini, gaya hidup aktif tidak menjadi gaya hidup aktif yang berimbas pada ketidakdisiplinan belajar, namun menjadi gaya hidup aktif dengan tetap disiplin sekolah. Karena dengan bersepeda ria ini, siswa tetap bisa menjaga gaya hdiup aktifnya sekaligus menjaga disiplin sekolah dengan tepat waktu. Tidak terjadi seperti ketika dia masih memilih alternative berjalan kaki. Gaya hidupnya aktif, tetapi banyak menyita waktu hingga sering kesiangan datang ke sekolah.

Terakhir, dan ini yang paling penting, kebijakan ini pun memberikan dukungan nyata pada usaha membangun madrasah hijau (the green madrasah). Walaupun belum membudaya, tetapi sekolah dengan bersepeda sudah mulai dicanangkan dan disosialisaisikan. Elemen madrasah, diantaranya siswa dan guru, sudah mulai menunjukkan kesadarannya dalam mendukung kebijakan untuk menciptakan sekolah hijau. Selain siswa, ada juga guru yang sudah banting setir menggunakan sepeda. Khususnya di hari Sabtu. Di sekolah ini, hari sabtu digunakan sebagai hari ektrakurikuler. Dan di hari ekstrakurikuler itulah, diantara sejumlah tenaga pendidik dan siswa memanfaatkannya sebagai hari hijau. Aktivitas naik sepeda sudah mulai berjalan.

Sekali lagi, kebijakan ini baru berjalan dalam semester ini. Tetapi inilah, mengeluarkan kebijakan beasiswa sepeda ini, bukan saja memecahkan kebuntuan mengenai kesulitan biaya transportasi, tetapi mendukung usaha untuk menciptakan madrasah yang hijau, tanpa polusi.

Kesadaran ini pula, merupakan bagian penting dari tanggungjawab elemen pendidikan untuk menciptakan aktivitas hidup yang selaras dengan kebutuhan dunia, untuk mencipatakan dunia tanpa polusi. Kami menyadari, dengan agenda the green madrasah, akan menjadi nafas untuk the green province, the green state dan ujungnya adalah the green world.

Advertisements