Kita akan menemukan jalan atau membuat jalan
Hannibal (MD Ibrahim, 2004: 72)


Alkisah ada satu keluarga yang memiliki dua orang anak. Kedua anak laki-laki itu, dikenal sebagai anak orang yang baik. anak yang pertama di kenal cerdas, sedangkan anak yang kedua di kenal sebagai orang yang baik. kecerdasan anak yang kedua, tidak sepandai orang pertama. Hal ini dibuktikan dengan nilai rapot di sekolahnya tidak pernah lebih tinggi dari kakaknya.

Pada suatu hari, kedua anak itu dikumpulkan oleh bapaknya. Kemudian, sang Bapak bertanya, anakku, sekarang bapak mendapat tawaran untuk membuka warung di kampong ini, siapa diantara kalian yang mau mencoba bisnis? tawar sang Bapak kepada anak-anaknya. Mendengar tawaran itu, anak pertama menjawab, Pak, saya tahu itu, dan tawaran itu menarik, namun saya ingin selesaikan dulu sekolah, biar nanti bisnisnya belakang saja. Jawabnya tegas. Sedangkan, anak yang kedua, menawarkan diri untuk menjadi pengelola warung bapaknya tersebut.

Selama lima tahun berikutnya. Keadaan keluarga itu berubah. Anak pertama, masih tetap menganggur bahkan sedang mengalami kesulitan mencari lapangan kerja. Sedangkan, anak yang kedua sudah sukses dengan warung yang dulu diberi modal oleh sang ayah. Sang anak ini, malah kini menjadi tulang punggung bagi kakak, dan orangtuanya. Seluruh kebutuhan hidup sehari-harinya, dia tanggung sendiri.

Mengapa hal ini terjadi ? jawaban kita adalah karena lemahnya Sang Kakak memanfaatkan peluang. Dia menganggap bahwa peluang bisa datang dua kali, dan peluang bisa ditangguhkan. Pandangan ini sungguh jauh dari kenyataan. Karena peluang dating sekali. Betul bahwa peluang bisa diciptakan. Tetapi peluang yang datang secara tiba-tiba, hanya datang sekali. Bila kita gagal memanfaatkan peluang tersebut, sama dengan membuang kesuksesan oleh ulah kita sendiri.

Pelajaran penting dari kisah itu, sesungguhnya kita melihat ada tiga kelompok manusia. Pertama, yaitu orang yang tidak mampu membaca peluang. Orang-orang seperti ini, akan bertindak berpikir dan atau melakukan sesuatu tanpa mengacu pada peluang. Hasil yang didapat pun sudah tentu akan lebih bersifat gambling atau untung-untungan. Orang yang tidak melihat peluang atau tidak mampu membaca peluang, sama dengan berjalan di hutan belantara. Langkah dan pikirannya hanya mengitu perasaan sesaat, dan tidak punya tujuan yang jelas atau sasaran yang pasti.
Kedua, yaitu orang yang mampu melihat peluang. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, dia mampu membaca peluang untuk bisa hidup sukses. Terkait dengan ini, puasa ramadhan memberikan latihan membaca peluang kepada kaum muslimin. Pada bulan ramadhan inilah, waktu luang dan peluang untuk meningkatkan deposito amalannya dihadapan Allah Swt. Mulai dari hari pertama sampai hari terakhir ramadhan, sarat dengan doorprize dari Allah Swt., bagi seorang muslim. Nilai-nilai ibadah sunnah, wajib, tadarus, infaq shodaqoh dan lain sebagainya dinilai lebih besar dari hari-hari biasanya. Ini adalah peluang mengumpulkan nilai pahala dihadapan Allah Swt.

Informasi mengenai keunggulan dan kemulian hari-hari di bulan ramadhan sudah banyak diketahui public. Hari-hari istimewa di bulan ramadhan ini, sudah diketahui oleh kaum muslim pada umumnya. Masyarakat Islam kita sudah memosisikan bahwa bulan ramadhan adalah kesempatan kaum muslimin untuk meningkatkan deposito amalannya dihadapan Allah Swt.

Hal yang memang mengerikan, ternyata tidak semua orang memanfaatkan peluang tersebut. shalat malam mereka hanya mendapatkan kantuk belaka. Shaum yang mereka lakukan hanyalah mendapatkan kantuk dan lapar. Selain itu mereka tidak mendapatkan apa-apa.bahkan, malam-malam istimewa di bulan ramadhan pun tidak banyak dimanfaatkan untuk mendongkrak spiritualitas kaum muslim.

Pada konteks inilah, manusia kelompok kedua belum mampu menghasilkan manfaat apa-apa dari kecerdasan yang dimilikinya. Dengan demikian pula, tidak mengherankan bila kemudian banyak kaum muslimin yang melewati ramadhan namun belum merasakan efek positif atau berkah dari puasa yang dilaksanakannya pada bulan suci ramadhan. semua hal itu, adalah bentuk nyata dari sikap manusia yang mengetahui peluang namun tidak memanfaatkan peluang.

Saya heran jika bertemu dengan orang Indonesia yang nganggur dan merasa kesulitan cari kerja. Jadi, yang saya lakukan kalau mereka mengeluh kepada saya adalah memberi mereka kertas dan memintanya menuliskan semua jenis pekerjaan yang ada di bawah terik matahari. Mereka rata-rata bisa menuliskan berpuluh-puluh atau beratus-ratus jenis pekerjaan dalam waktu sekali duduk. (MD Ibrahim, 2004: 72)

Kelompok yang terakhir itu adalah orang yang mampu memanfaatkan peluang, yaitu orang yang mengisi ramadhan secara maksimal. Berbagai peluang pahala sebagaimana yang dijanjikan Allah Swt, mulai dari peluang mendapatkan rahmat, maghfirah, dan itqun minaar diraihnya dengan secara seksama. Manusia kelompok ketiga ini, berusaha keras pula memanfaatkan lailatul qodr untuk melejitkan amalan dan deposito ibadahnya.

Dari uraian itu dapat disederhanakan bahwa cerdas membaca peluang adalah penting. namun lebih penting lagi adalah cerdas memanfaatkan peluang. Inilah prinsip penting dan kesadaran penting yang perlu tumbuh dalam diri kita. Cerdas membaca namun tidak memanfaatkan peluang, sama dengan membocorkan rahasia kesuksesan. Kejadian ini adalah satu kerugian besar bagi orang terkait, dan merupakan kelemahan bagi bangsa dan Negara ini.
Orang-orang yang sukses biasanya memiliki ciri khas seperti ini : Mampu membaca peluang di masa depan dengan belajar dari pengalaman di masa lalu dan mengamati trend yang sedang berkembang saat ini. Orang yang mampu membaca peluang seperti inilah yang akan selalu selangkah lebih maju dan berhasil meraup keuntungan besar, contohnya anda bisa lihat Bill Gates, Socihiro Honda dan mungkin sekarang yang lagi naik daun adalah adalah Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya .

Membaca peluang adalah kunci menuju kesuksesan. Membaca peluang adalah kunci menuju hidup berkah ! kecerdasan ini, perlu ditindaklanjuti dengan kecerdasan memanfaatkan peluang.

Pelajaran penting tentang kemampuan membaca peluang yang dipadukan dengan memanfaatkan peluang, dapat dilihat pada proses perkembangan perusahaan Air Asia milik maskapai Malaysia. Untuk lebih jelasnya, kita ikuti uraian yang dituturkan David Murdiyanto berikut ,

Beberapa tahun terakhir ini kita sering mendengar nama Air Asia maskapai penerbangan asal Malaysia dengan promo tarif yang sangat menggiurkan, awalnya maskapai ini beroperasi dengan beberapa pesawat dengan melayani beberapa rute saja. Dua tahun kemudian maskapai tersebut melebarkan sayapnya dan mulai membuka rute-rute internasional termasuk ke Indonesia. Kini maskapai tersebut sudah mengoperasikan lebih dari 20 pesawat dalam waktu yang relatif singkat.

Yang sangat menarik dari tulisan diatas adalah bagaimana keuletan dan tekad yang kuat dari perusahaan tersebut yang berawal dari mimpi dan keyakinan untuk membuka peluang bisnis baru. Rahasia sukses mereka adalah keberaniannya memanfaatkan peluang dan membuka peluang baru, bukan hanya sekedar membaca peluang. Setelah membuka dan memanfaatkan peluang, baru kemudian mereka merasakan dan menemukan peluang-peluang baru sehingga dapat melesatkan perusahaannya sendiri.

Membaca peluang adalah satu kecerdasan khusus bagi seseorang yang memimpikan sesuatu. tetapi membaca peluang saja tidak cukup. Bagi masyarakat kita, mungkin sering melihat, merasakan, dan menyesalkan perilaku anggota kita, atau masyarakat di sekitar yang memanfaatkan kamar mandi umum tidak ditutup krannya selepas mereka menggunakan air di kamar mandi. Ini adalah penyakit umum yang biasa terjadi di lingkungan masyarakat kita. Akibat dari kondisi ini, air di kamar mandi rumah kita banyak yang tumpah dan berhamburan secara sia-sia.

Fakta itu adalah perilaku social yang relative sering terjadi di masyarakat kita. Sehingga pada akhirnya kita menyimpulkan adalah masyarakat kita sering lupa menutup kran, atau malas menutup kran. Kesimpulan ini adalah hasil dari membaca peluang. Namun siapakah yang bisa memanfaatkan peluang ini menjadi sebuah bisnir produk kran yang bisa nutup dan muka secara otomatis ? sudah tentu, kelompok itu bukanlah kelompok orang yang mengeluh karena saudara-saudaranya sering lupa menutup kran.

Di sinilah, pentingnya membaca peluang harus dipadukan dengan cerdas memanfaatkan peluang, sehingga mimpi kita bisa diwujudkan !

Peluang dijauhkan dari api neraka, sudah dipetakan pada bulan ramadhan, peluang untuk meningkatkan deposito ibadah dan pahala sudah dipetakan dibulan ramadhan, mampu kita seorang muslim menjadi generasi barokah dengan memanfaatkan peluang-peluang tersebut ?

Ayo. Kita mampu, Kita Bisa, Kita adalah generasi Muslim barokah !
Salam barokah !!!

Dimuat dalam Mimbar Pembinaan. Kemenag Provinsi Jabar, edisi September 2011

Advertisements