Bila dicermati dengan baik, saya merasa yakin bahwa mahalnya biaya pendidikan itu, bukan dilihat dari apa yang kita keluarkan, tetapi apa yang kita dapatkan.., atau dalam makna yang lain, mahalnya biaya pendidikan itu, bukan dilihat dari biaya awal pendidikan, tetapi apa yang dapat diraih selama proses pendidikan..


Cukup sering, saya mendapat pertanyaan mengenai biaya pendidikan. Banyak anak-anakku, di madrasah ini mengajukan keluhan yang serupa. saya ini ingin kuliah, tetapi biaya pendidikan saat ini sangat mahal..ujarnya dihadapanku. Pertanyaan dan keluhan seperti ini, begitu banyak dan sering diajukan oleh anak-anak muda saat ini, khususnya di lingkungan pendidikanku, atau di lingkungan tempat tinggalku.

Pendidikan berbiaya mahal, adalah fakta. Khusus untuk kondisi di Indonesia saat ini, atau dalam beberapa tahun terakhir ini, biaya pendidikan dalam seluruh jenjang pendidikan itu, terus menerus meroket. Naik. Naik. Dan naik lagi.
Biaya pendidikan itu, ibarat biaya sembako, gampang naik dan terus naik, tetapi tidak pernah turun. Setiap tahun, setiap menjelang PSB, setiap tahun ajaran baru, berita yang muncul dari lembaga pendidikan itu, hanyalah berita kenaikan biaya pendidikan. Dan tidak pernah ada berita mengenai penurunan biaya pendidikan.

Biaya pendidikan di Indonesia ini, ibarat ongkos angkutan kota (angkot). Naik terus, tetapi perbaikan layanan dan peningkatan kualitas pendidikan tidak pernah diperhatikan. Keadaan konsumen, atau pengguna jasa pendidikan dibiarkan pasrah menerima apa adanya, dan membayar sesuai dengan apa keinginannya.
Ini adalah realitas yang sudah ada diluar kemampuan kebanyakan rakyat Indonesia. Termasuk saya, dan juga beberapa siswa yang menghadap. Tetapi, dibalik keluhan-keluhan itu, tetap saja, semangat untuk belajar masih membara, dan malah mencari solusi dalam menghadapi masalah tersebut.

Dalam konteks itulah, curahan ini dikemukakan kembali setelah beberapa saat berdiskusi dengan sejumlah peserta didik. Dalam kaitan ini, ingin mengucapkan terima kasih pada Hanny, Rossy, Syifa dan Syaima Putri dari MAN 2 Kota Bandung yang kerap kali mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis, mengenai dunia pendidikan ini.

Terkait dengan masalah biaya pendidikan ini, ada aspek penting yang perlu dicermati dengan baik.
mahalnya biaya pendidikan itu, bukan dilihat dari besaran biaya yang harus dikeluarkan, tetapi harus dilihat dari berapa banyak yang kita dapatkan

Sekedar contoh. Di Kota Bandung ini, ada sebuah sekolah atau Kampus (Perguruan Tinggi) yang menetapkan biaya pendidikan murah. Dengan murahnya biaya pendidikan itu, setiap pelamarnya akan mendapatkan ijazah. Tetapi, sayangnya, dikemudian hari, ijazah pendidikan dari lembaga pendidikan ini, tidak bermanfaat apa-apa, karena dianggap perguruan tinggi yang tidak berkualitas. Coba renungkan ! maukah, kita sekolah di tempat yang berbiaya murah, tetapi ijazah kita pun terlunta-lunta kurang mendapat penghargaan ?

Ada contoh lain. Dalam promosi pendidikannya, dinyatakan bahwa biaya pendaftaran dan SPP di sekolah/Kampus tersebut sangat murah. Kemudian banyak pula pelamarnya. Kata seorang teman yang juga sekolah di tempat ini, ternyata dalam setiap bulannya selalu saja ada buku/diktat atau biaya pendidikan yang harus dikeluarkan. Jatuhnya jumlah biaya pendidikan itu, tetap saja dianggap mahal. Karena, biaya murah diawal pendaftaran itu, tertutupi oleh mahalnya biaya proses pendidikan di dalamnya.
Selain kedua contoh itu, ada contoh yang menarik. Ini pengalamanku sebagai mahasiswa. Pada waktu pendaftaran menjadi mahasiswa, memang sangat terasa besar biaya pendidikan tersebut. Pendaftaran dan biaya semester pendidikan di kampus pendidikan ini sangat mahal. Tetapi, setelah menjalani proses pendidikan, tidak ada lagi pungutan tetek bengek yang lainnya, malahan ada beasiswa dari berbagai sumber/instansi yang diperuntukkan bagi mahasiswa perguruan tinggi tersebut. Itung punya itungan, beasiswa pendidikan yang didapat, dan juga honor bekerja sambil kuliah selama kuliah tersebut, melebihi dari biaya pendidikan yang dikeluarkan di awal tahun, atau disetiap semester.

Bila dicermati dengan baik, saya merasa yakin bahwa mahalnya biaya pendidikan itu, bukan dilihat dari apa yang kita keluarkan, tetapi apa yang kita dapatkan.., atau dalam makna yang lain, mahalnya biaya pendidikan itu, bukan dilihat dari biaya awal pendidikan, tetapi apa yang dapat diraih selama proses pendidikan..

Untuk selanjutnya, kita memang dapat mengajukan pertanyaan lagi, apakah cukup sampai pada prinsip tersebut tadi ? saya katakana tidak. Prinsip ini tidak cukup, dan tidak boleh ditelan bulat-bulat. Karena apa yang kita dapatkan, bukanlah tujuan dari pendidikan itu sendiri. Berbagai hal yang kita dapatkan, bukanlah apa yang kita inginkan.
Hidup bermakna dan belajar bermakna itu, bukanlah diukur dari berapa banyak yang kita dapatkan dari lembaga pendidikan, tetapi apa yang dapat kita rasakan dari hasil pemeblajaran

Kebermaknaan hasil belajar tidaklah cukup dari sekedar diukur dari apa yang didapatkan, tetapi harus dilanjutkan dengan langkah, apa yang dapat kita lakukan, buat diri sendiri, dan lingkungan, dan kemudian apa yang kita rasakan dengan hasil pendidikan itu sendiri.

Dihadapan Hanny, saya berpendapat, coba perhatikan oleh Hanny, berapa banyak sarjana yang stress dalam menjalani hidup?. Kelompok itu begitu beragam. Ada yang stress karena tidak urung juga mendapat pekerjaan, sementara ijazah pendidikannya sudah tergeletak di kamar tidurnya berbulan-bulan. Ada juga, para sarjana merasa minder bekerja di tempat kerja yang dianggapnya sebagai pekerjaan yang tidak cocok dengan ijazahnya. Lebih banyaknya lagi, mereka banyak mengambil posisi menunggu-nunggi ada lowongan kerja yang dianggap cocok dengan ijazah atau latar belakang pendidikannya. Mereka itulah, adalah orang-orang terbebani dengan apa yang didapatinya dari lembaga pendidikan. Mereka sudah mendapatkan ijazah pendidikanya sebagaimana yang diimpikannya selama ini, tetapi ijazah itu malahan yang membuatnya terpenjara untuk melangkah

Orang itu terpenjara oleh ijazah, karena malu dengan pekerjaan yang ada..
Orang itu terpenjara oleh ijazah, karena menganggap upahnya tidak setara dengan ijazahnya..
Orang itu terpenjara oleh ijazahnya, karena belum ada lowongan kerja yang sesuai dengan ijazahnya..

Akhirnya, kelompok orang inilah yang mengalami depresi gara-gara ijazahnya sendiri. Dari paparan itulah, maka Hidup bermakna dan belajar bermakna itu, bukanlah diukur dari berapa banyak yang kita dapatkan dari lembaga pendidikan, tetapi apa yang dapat kita rasakan dari hasil pemeblajaran

Hati-hatilah terhadap perangkap promosi pendidikan. Mengaku berbiaya murah diawal pendaftaran, padahal biaya proses pendidikan didalamnya sangat mahal, dan kurang efektif bagi peningkatan kualitas pendidikan. Kecilnya biaya pendidikan pun, akan terasa mahal hargainya, bila kita tidak mendapatkan apa-apa dari lembaga pendidikan tersebut.

Uraian seperti ini, tidak berarti bahwa saya pendukung biaya pendidikan berbiaya mahal. Tetapi, inilah langkah kita, dari para pencari lembaga pendidikan yang tidak memiliki kemampuan mengubah besaran biaya pendidikan. Walau begitu, sesungguhnya kita bisa mengubah pola pikir kita mengenai makna biaya pendidikan tersebut.

Advertisements