Adalah menarik, dan patut mendapat pujian. Gerakan reformasi di tubuh PSSI telah melahirkan perombakan personil. Setidaknya, rezim Noerdin Halid cs. telah turun, dan kemudian berganti ke arah yang baru. Berawal dari rasa keprihatinan terhadap prestasi sepakbola di Indonesia, kemudian kebutuhan akan adanya restorasi dalam tubuh organisasi pengelola sepakbola di Indonesia, serta mimpi indah mengenai sepakbola Indonesia di masa depan, gerakan reformasi di tubuh PSSI itu, menguat dan kemudian melahirka gerakan pelengseran rezim Noerdin Halid.


Sayangnya, kesuksesan pelengseran rezim itu tidak berarti kesuksesan prestasi dalam sepakbola. karena pasca pelengseran rezim itu, kongres demi kongres, termasuk yang dikawal oleh Komite Normalisasi yang dikomandani Agum Gumelar, ternyata mengalami kegagalan. mirip dalam permainan sepakbola, fakta ini menunjukkan serangan pemain depan sudah bagus, tetapi finishing touch-nya buruk, sehingga gagal melahirkan gol kemenangan.

kegagalan kongres PSSI melahirkan adanya kekosongan kekuasaan dalam tubuh PSSI. Kekosongan kekuasaan seperti yang terjadi saat ini, bukanlah satu kebetulan. Karena, kejadian seperti ini, tampak juga dalam bidang kehidupan keindonesiaan di luar PSSI. Kekosongan yang ada adalah fakta kelemahan yang ada di Indonesia, dalam bidang apapun.

Catatan kita selama ini. kita lebih banyak yang berhasil melengserkan kekuasaan, atau rezim yang dianggap perlu untuk diubah. Rezim Seoharto lengser, itu di tingkat Nasional. Rezim Noerdin Halid lengser. itu di tingkat PSSI. Fakta seperti ini, banyak pula dilihat dalam bidang hukum, pendidikan, atau ekonomi yang lainnya.

Namun hal yang paling mengerikan, adalah tiadanya kemampuan bangsa Indonesia untuk mengisi kekosongan kekuasaan, atau mengawal transisi reformasi. bangsa ini, seringkali mengalami kegagalan dalam mengawal masa transisi reformasi. seperti yang terjadi di tubuh PSSI.

transisi reformasi di tubuh PSSI, sama dan serupa dengan reformasi Indonesia. sejak lengsernya Orde Baru, Indonesia mengalami kegagalan dan kesulitan dalam mensukseskan masa transisinya. fakta yang ada, boro-boro melangkah, sekedar berjalan di tempat pun kita, banyak mengalami kegagalan. hal yang ada adalah, jalan mundur, lumpuh dan malah menghadap ke jurang kegagalan.

sisi lain, fenomena yang muncul saat ini, seolah-olah, kita akan bekerjasama dalam meruntuhkan rezim, tetapi kita malah berkonflik dalam mengisi kekosongan kekuasaan. saat merombak rezim, kita bisa bersatu, tetapi saat mengawal masa transisi reformasi malah saling berebutan kekuasaan.

bila kebiasaan, melengserkan rezim tanpa diselesaikan dengan baik, maka Indonesia benar-benar menghadapi ancaman sebagai negara gagal, atau organisasi yang gagal. Kita hanya bisa merombak, tetapi tidak bisa membangun. kita hanya bisa merusak, tetapi tidak bisa memperbaiki. kita hanya bisa mere-formasi, tetapi tidak bisa merekonstruksi.

http://politik.kompasiana.com/2011/05/25/pssi-gambar-nyata-indonesia/

Advertisements