Tidak sadar. seolah kita sedang melakukan pendidikan, padahal –bisa jadi, yang terjadi adalah sedang melakukan penyiksaan. Obsesi yang tak tersadari, atau tidak disadari, alih-alih mendidik dan memberdayakan anak, malah yang terjadi adalah memperdayakan anak.

Indikasi Tragedi Kemanusiaan
Untuk kesekian kalinya. Aku duduk dibangku kantin sekolah dengan maksud untuk sarapan pagi. Bersama denganku waktu itu, adalah guru olahraga yang telah menuntaskan pendidikan masternya di UPI tahun kemarin, dan juga alumni jurusan Kimia UPI, yang kini menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Kesiswaan. Di lokasi inilah, kami berbincang. Sekedara melepas lelah dan penatnya, di selang tugas mengajar di kelas. Terkadang jumlah rekanan ini, lebih dari itu. Bergantung pada situasi jam kosong mengajar, atau situasi keroncongannya perut. Kebetulan untuk hari ini, kita hanya bertiga.

Sebagai orangtua muda, obrolan di lokasi ini, tidak jauh dari seputar membicarakan anak-anak. Anak sendiri atau anak-anak di sekolah. Ke sana ke mari berbicara. Namun intinya, tidak lebih dari masalah masa depan anak-anak itu sendiri.
ada kenikmatan tersendiri, kata Ustad Uje (itulah panggilannya bagi guru Olahraga ini), bila kita melihat anak-anak bahagia. Tuturannya ini, dia kemukakan selepas dirinya mampu menyakinkan anaknya bisa mendaftar pada sebuah lembaga pendidikan Islam, yang dianggap moderat, tetapi berkualitas unggul. Dia melakukan ini semua, dengan harapan, ada masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya. terlalu riskan, bila di zaman sekarang ini, sedang seperti ini, anak-anak di sekolahkan di sebuah sekolah yang tanpa konsep jelas, dan target jelas.. paparnya lagi.

Sebuah ekspresi yang unik dan juga menarik. Ekspresi Ustad Uje ini, mungkin satu diantara sekian banyak orangtua yang serius memperhatikan anak-anak, dan masa depan anaknya. Kekhawatiran orangtua seperti ini, adalah wajar. Bila dikaitkan dengan situasi social budaya zaman modern ini, carut marutnya perilaku manusia sudah tidak terkendali. Narkoba merebak di mana-mana. Para selebritis pun, tidak malu-malunya untuk menjadi bagian dari konsumen narkoba. Hamper tiap bulan, tiada hentinya orang-orang yang dianggap sebagai public figure ditangkap dan dijebloskan ke dalam balik terali penjara, karena mengkonsumsi narkoba. Sementara, di lingkungan elit politik, hamper tiap bulannya juga, tidak kurang satu atau dua orang keluar masuk bui, karena kebongkar melakukan tindak pidana korupsi. Sedangkan di tingkat masyarakat awam, hamper tiap bulannya, kriminallitas yang berupa pembunuhan, mutilasi, perampokkan, tawuran, seks di luar nikah, atau gang motor seolah-olah menjadi makanan hidup sehari-harinya. Karena bacaan seperti itulah, maka kekhawatiran puncak orangtua itu diwujudkannya dalam bentuk usaha nyata untuk menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan yang berkualitas.

Ustad Use, yang juga hadir dalam pertemuan itu, memberikan pandangan yang searah dengan pemikiran Ustad Uje. hari ini, memang kita dipaksa untuk berfikir strategis. Bukan sekedar ekonomi katanya. biar agak mahal sedikit, tetapi capaian dari hasil pembelajaran itu, jauh lebih bermakna bagi anak-anak kita. biaya mahal itu adalah resiko ekonomi, tetapi pendidikan yang tepat adalah pilihan strategis untuk masa depan anak. Ungkapnya lagi.

Sebuah pandangan yang menarik, dan juga layak untuk dicermati dengan seksama. Bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini, disaat adanya ketidakpastian moral yang sedang mengemuka, kekhawatiran-kekhawatiran yang seperti ini menjadi bagian tak terpisahkan kehidupan orangtua. Bila ada yang mengatakan bahwa anak itu adalah pelanjut dari dinasti orangtuanya, maka pendidikan itu adalah proses transformasi nilai kepada generasi muda, sehingga mereka mampu mengelola hidupnya secara lebih baik.

Dalam konteks pendidikan anak ini, kadang kita mengalami kegamangan dalam mensikapi berbagai perubahan atau rangsangan hidup ini. berbagai hal, termasuk inovasi pembelajaran, materi ajar, atau mungkin, konsep-konsep baru, seakan sebagai sesuatu yang baik dan terbaik, sehingga melupakan nilai-nilai dasar yang lama. Nilai lama kerap kali dianggap sebagai sebuah nilai tradisional dan tertinggal, sedangkan nilai baru adalah nilai modern dan terbaik. Opini-opini seperti itu, tampak harus dicermati dengan baik, dan harus dikontekskan secara proporsional, sehingga kita tidak mengalami kegamangan hidup, dan kegagalan dalam merespons.

lembaga pendidikan yang disebut play group atau kelompok belajar, misalnya, kata Ustad Use, lembaga ini, kelihatannya terlalu ambisius dan tidak sesuai dengan psikologi perkembangan anak. Anak-anak yang masih dalam usia belajar, mereka itu masih terlalu kanak-kanak, sudah diberi beban belajar yang sangat berat. Anak usia 3 atau 4 tahun, sudah diberi tugas berhitunglah, membacalah dan belajar bahasa asing lah, dan lain sebagainya. Apakah model pembelajaran ini, adalah baik dan sesuai dengan perkembangan anak-anak ? kritiknya terhadap lembaga pendidikan yang banyak bermunculan dengan slogan bombastis dan ambisius, yaitu menjadikan anak belajar di Kober (kelompok belajar) bisa berhitung dan berbahasa inggris.
saya setuju. Kita harus paham, bahwa untuk anak-anak yang hidup di lingkungan masyarakat yang berbahasa Inggris, belajar bahasa inggris itu mudah. Karena mereka memiliki situasi social yang baik. Tetapi, bila mereka itu hidup di tengah-tengah masyarakat yang berbahasanya lain, maka belajar itu sudah mengarah ke wilayah kognisi. Paparku mengomentari perbincangan ini.

Perlu dijelaskan di sini. Khususnya untuk masyarakat Jawa Barat misalnya, atau masyarakat Kota Bandung khususnya, seorang anak itu tinggal di tengah-tengah masyarakat berbilingual (dua bahasa), yaitu Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia. Mereka hidup dalam kultur dwibahasa itu. Ini adalah bahasa organic, bahasa sosiologik, atau bahasa gaulnya mereka. Untuk bisa belajar kedua bahasa ini, mereka tidak membutuhkan tugas-tugas kognisi yang tinggi, karena dia belajar dalam situasi hidupnya sendiri. Tetapi, terkait dengan belajar bahasa Inggris, maka anak akan dipaksan harus mengembangkan fungsi kognisinya dalam mempelajari bahasa Inggris. Di bagian itulah, saya melihat bahwa anak-anak ini, sudah mendapatkan tugas yang teramat berat , dan berada diatas kewajiban perkembangan psikologisnya sendiri.

Sayangnya, hal-hal seperti ini, kurang dipahami oleh sebagian besar orangtua, dan juga para pengelola kober atau play group di negeri kita. Mereka memandang, bahwa inovasi pelayanan pendidikan ini, merupakan sebuah inovasi yang strategis dalam melejitkan kemampuan anak-anak bangsa. Mereka menganggap bahwa semua itu, adalah ditujukan untuk menjadikan sumberdaya manusia Indonesia yang berkualitas, unggul dan memiliki daya saing unggul.

Membaca hal ini, Ustad Uje mengatakan, bahwa hal itu terjadi, karena ada ambisi orangtua. Ambisi orang tua yang membunuh anak-anaknya katanya. Karena ambisi orangtua untuk mendapatkan popularitas, maka melalui anak-anaknya dia salurkan ambisinya. Ambisi orang tua itu, kemudian direkayasanya melalui berbagai cara, sekaligus melalui pendidikan, dengan harapan anaknya bisa menjadi anak yang unggul dan popular, yang kemudian akan melejitkan kehormatannya sebagai orangtua. Bukankah, menjadi sebuah kebanggaan, bila kita memiliki anak yang hebat dan banyak digunjingkan orang ?

Sebuah tragedy kemanusiaan inilah pandanganku. Di saat, ambisi orangtua memanfaatkan anak sebagai saluran pewujudan ambisinya. Ini adalah tragedy kemanusiaan. Karena, dalam waktu yang bersamaan, anak hanyalah diposisikan sebagai saluran hasrat dan ambisi orangtua itu sendiri. Sementara kemandirian anak, kebebasan anak, potensi anak, dan hasrat anak, semua itu terkubur oleh rekayasa hasrat orangtuanya sendiri.

atau mungkin juga, bukan sekedar orangtua. Rekayasa hasrat itu, terjadi pula di lingkaran guru? sela Ustad Use terhadap pembicaraanku ini. Beliau memaparkan, bahwa di zaman sekarang ini, disadari atau tidak, guru kadang bertindak otoriter dan menganggap bahwa masa depan anak itu haruslah sesuai dengan mimpinya sendiri. Anak itu, benar-benar dianggap sebagai gelas kosong, yang harus rela diisi oleh apapun oleh sang guru. di sinilah, tragedy kemanusiaan itu terjadi di lembaga pendidikan.

Tragedy kemanusiaan di lembaga pendidikan ini, jauh lebih parah lagi terjadi. Karena, cara pembunuhannya itu, bukan sekedar dengan pemaksanaan. Guru mungkin tidak memaksakan hasratnya terhadap murid-muridnya. Tetapi, yang terjadi itu adalah guru melakukan pembiaran terhadap kebekuan potensi anak didiknya. sikap guru yang tidak serius mengajar, dan tidak memberikan pembelajaran yang terbaik, adalah bentuk nyata dari pembunuhan karakter, dan pembiaran potensi anak oleh guru. Dan itulah yang saya maksud, tragedy kemanusiaan melalui pembiaran. Kemudian saya menambahkan, di sinilah, kita melihat, bahwa kebiasaan buruk guru dalam mengajar, pada dasarnya sama dengan pembunuhan karakter, sekaligus membiarkan potensi anak terpendam untuk tidak berkembang. Sayanganya memang, tidak banyak guru yang paham terhadap realitas ini.

dalam memahami hal ini, saya ingin menyebutkan bahwa fenomena itu terjadi, karena adanya pertemuan antara ambisi orangtua dengan pragmatism guru, kataku menimpali komentar-komentar mereka. Hal ini, tampak dalam trend atau indikasi perilaku guru atau penyelenggara pendidikan di zaman sekarang ini, sudah beralih haluan, bukanlah berada di koridor pendidikan, tetapi sudah berada di koridor ekonomi. Mengajar bagi mereka adalah profesi. Dan mengajar adalah sarana untuk mendapatkan komisi atau keuntungan ekonomi. Oleh karena itu, satu sisi ada ambisi orangtua, dan pada sisi lain ada hasrat ekonomi di para guru, akibatnya terjadinya transaksi tragedy kemanusiaan, yang menjadi korban sesungguhnya adalah anak kita sendiri.

Tidak Semua !
Diantara kami yang berbicara pun, sempat muncul pandangan bahwa, indikasi itu tidak menafikan adanya lembaga pendidikan yang masih berada dihaluan edukatif itu sendiri. Di sejumlah kota, masih dapat ditemukan, sejumlah lembaga pendidikan yang memiliki idealism untuk mengembangkan potensi anak, dan memperhatikan psikologi perkembangan anak.

sekolah alam..kata Ustad Uje, adalah salah satu inovasi pembelajaran yang unik, dan perlu diapresiasi dari sisi fungsi pendidikan. Dalam persepsinya, sekolah alam berupaya untuk membangkitkan kecerdasan emosional dan social anak, guna mengakselerasi kecerdasan intelektual. Setidaknya, dalam pemahaman Ustad Uje, sekolah alam itu tidak memberikan beban belajar yang didominasi oleh lingkungan yang kaku dan satu arah seperti yang terjadi di dalam kelas. Di sekolah alam ini, anak diposisikan sebagai makhluk bebas untuk bisa berinteraksi dengan guru, sesame siswa, dan juga alam terbuka. Ekspresinya jauh dibuka dan dikembangkan, dibandingkan dengan suasana belajar di dalam kelas yang terkungkung oleh bangunan berukuran 6 x 6 meter, dengan posisi sebagai objek pendidikan. Di dalam kelas itu, hanya guru yang dominan dan bebas berekspresi.

Terkait dengan ini pula, Ustad Use memberikan contoh serupa. Dia menemukan ada sebuah sekolah yang disebutnya the real play group. Ini, benar-benar TK, benar-benar play group, benar-benar sekedar kelompok bermain. Di sekolah ini, TK Pembina yang ada di wilayah Bandung Timur, anak-anak itu belajar-bermain, dan bermain belajar. Keluar dari sekolah ini, anak-anak hanya memiliki kemampuan mengekspresikan diri sebagai seorang anak, dan bisa bermain dengan teman-teman yang lainnya. Tidak ada beban untuk membaca, berhitung, apalagi tuntutan harus belajar bahasa asing. TK itu, tampak sekali sebagai the real play groups-nya.

Temuan demi temuan, dan curhatan demi curhatan, mengarah pada kesimpulan bahwa dalam situasi tragedy kemanusiaan ini, kita masih bisa untuk menemukan lembaga pendidikan yang baik, dan atau tenaga pendidik yang memiliki idealism baik. Setidaknya, ada sejumlah lembaga pendidikan, yang menjadikan tahapan perkembangan psikologi anak dan keragaman potensi anak sebagai sebuah asset belajar dan harus diberdayakan semaksimal mungkin.

Advertisements