Pengalaman hidup Ibu ini, sangat lika likututurnya membuka pembicaraan. Wanita yang kini berusia hampir mendekati setengah abad ini, dikenal sebagai Kepala madrasah sebuah sekolah swasta di Kota Bandung. Dalam pengakuannya, sebagaimana yang dituturkan waktu itu, beliau telah memiliki 3 orang anak dari suaminya yang pertama, dan kemudian menikah lagi dengan seorang Duda yang berputra 2 orang anak. Kini seluruhnya, dia mengasuh 5 orang putra dari dua perkawinan.

dari lika liku itulah, dan karena perjalanan itu jugalah, nasib ini berkata demikian..katanya sambil memberikan gambaran mengenai kehidupannya yang kini dijalani. Sejak lulus dari sebuah Sekolah Tinggi Hukum di Tasikmalaya tahun 70-an, ijazah D-2 ini kemudian digunakannya untuk mencari sesuap nasi. Mungkin karena pengalaman hidup di usia mudanya, lebih banyak dihabiskan di pesantren, maka lapangan kerjanya pun tidak jauh dari dunia pendidikan.

banyak orang yang kaget..tuturnya. ijazah pendidikan bidang hokum, tetapi melamar pekerjaan ke dunia pendidikan. Tetapi itulah, suratan takdir yang membawanya begini. Tiga tahun sudah dilaluinya di Kota Dangdut itu, kemudian pindah ke Kota Bandung. Kejadian ini terjadi pada tahun 75-an. Kepindahannya ini, pada dasarnya tidak alasan penting. Ini semua dilakukanya, hanya karena ingin mendekati keluarga atau nenek moyang sendiri.

ibu ini, masih keluarga besar dari Pesantren Sukamiskin Bandungpaparnya lagi. Oleh karena itu, setelah perjalanan mencari pengetahuan ke sana ke mari, sejauh-jauh terbang bangau, suatu saat akan kembali ke peraduannya juga. Itulah peribahasanya. Dan kini, sudah saatnya, ibu harus pulang kandang.

Dalam suasana yang penuh keingin tahunan itu, saya menyempatkan diri untuk mengajukan pertanyaan. Di sela-sela tuturan istri seorang kontrakstor bangunan ini, saya bertanya seputar tip menjalani lika liku hidup ini.

pertamanya, ibu melamar kerja ke Mts di Cicadas. Singkat kata diterima. Tetapi, mungkin, karena ibu agak sedikit cerewet, jadi Kepala sekolah di sini tidak berkenan. Seringkali ada bentrokan pemikiran atau prinsip dalam pengelolaan madrasah. Jika dia berpikiran A, ibu kandang melihatnya kurang baik, dan lebih baik menggunakan strategi B. kejadian itu, seringkali berulang, sehingga budaya kerja di sekolah ini kurang sehat..katanya.

Urungnya, karena persoalan banyaknya perbedaan pendapat dalam pengelolaan sekolah itu, Ibu dari 5 orang anak ini merasa perlunya mencari tempat kerja yang baru. Maka dicabutnyalah pekerjaan dari sekolah ini. dorongan untuk keluar dari tempat ini, begitu besar, karena yakin akan dapat bekerja di tempat lain, apalagi keluarga besar Ibu Ina Jamilah ini, adalah masih keluarga besar yang memiliki lembaga pendidikan sendiri. Dan dirinya, bisa melamar ke madrasah ini.

Neng, lain ulah, tapi karagok jeung kulawarga mahjawab dari pihak pesantren. Jawaban itu, menunjukkan bahwa pihak pesantren merasa kurang pas untuk menerima lamaran kerja dari Ibu Ina, karena merasa pakewuh bila berhadapan dengan anggota keluarga. Kita tidak mungkin bisa professional, atau tegas dalam menetapkan standar kinerja, bila staf pekerja di lembaga kita adalah orang-orang yang dekat kita, atau orang-orang dari keluarga kita sendiri. Dengan alasan itulah, kemudian ibu muda usia yang masih bersemangat mencari jalan hidup ini disarankan untuk mencari tempat kerja di lain sekolah.
Penolakan ini tidak membuatnya patah semangat. Justru malah sebaliknya. Penolakan itu, adalah inti dari pentingnya hidup. Dunia ini, bukan miliki saudara-saudara kita. kejayaan kita di dunia ini, haruslah diperjuangkan, dan dijalani sesuai dengan hokum-hukum hidup itu sendiri, dan bukan karena belas kasihan orang lain. Saya harus tetap bisa mendapatkan pekerjaan baru.. itulah pikiran yang hadir dalam dirinya.

Dengan bekalan semangat itu, kemudian diapun menemua sekolah yang lainnya. Sekolah inipun, pada dasarnya bukan pula sekolah orang lain. Masih ada jalur keluarganya, dari pihak kakek. Untungnya lagi, keluarga dari pihak kakek ini, memiliki prinsip hidup yang berbeda dengan keluarganya yang di pondok pesantren tersebut. Pak Agus, ke sini, pokoknya Neng Ina ini harus diterima di sekolah kita, pilih pelajarannya yang bisa diampu, biar dia bisa bertugas di sinipintanya kepada Agus yang saat itu menjadi kepala sekolah Mts di lingkungan yayasan tersebut.

Mendengar permintaan itu, Agus hanya tersenyum. jangan sekedar senyum. Cepat urus, biar si Neng bisa tenang, dan langsung masuk kerjapintanya lagi. Sementara orang yang dimintanya, tetap saja berdiam diri di depan Ibu yayasan sekolah tersebut.

Bu, bukan tidak mau mengerjakan titah ibu. Pemberkasan itu mah gampang. Tapi, Neng Inanya, harus bersabar. Sebab, siswa di kita saat ini, kan sedang menurun. Artinya, kalau bulan juli tahun ajaran yang akan dating, kita kedapatan siswa, Neng Ina boleh ngajar, tetapi kalau waktu penerimaan siswa baru tidak ada siswanya, mau bertugas di kelas mana ? jelasnya kepada Ibu Yayasan.

Mendengar komentar seperti itu, Ibu Yayasan tersentak. Setengah kaget. Begitu pula Bu Ina ini. Ya, tidak apa-apa kan Neng, tugasnya nanti aja bulan Juli, sekarang istirahat saja dulu di rumah..jawab Ibu Yayasan kepada Ibu Ina.

Orang yang diberi jawaban itu, sejenak berfikir kemudian mengambil kesimpulan. sekarang ini, Neneng kan membawa surat tugas, yang harus dilaksanakan sekarang juga, tidak boleh diundurkan. Jadi, harus ada keputusan sekarang. Kalau kelak tidak ada siswa, masa harus nunggu tahun depannnya lagi. Ya, udah biar aja Bu, Neneng mau nyari lagi ke tempat lain jawabnya dengan tegas.

Setuntasnya perjalanan itu, kemudian dia melamar ke sekolah lainnya yang ada di sekitar Bandung Timur. Akhirnya dia mendapatkan tempat, di sebuah sekolah swasta yang sedang berkembang. Di lokasi inilah, dia mendapatkan oase kehidupannya yang jauh lebih baik daripada tempat kerja sebelumnya, baik yang di Cicadas maupun di Tasikmalaya. Di sekolah ini pula, hamper 15 tahun lamanya, menjabat sebagai kepala sekolah Mts. Kemudian hari, diangkat sebagai kepala sekolah madrasah aliyah sebuah sekolah swasta yang ada di pusat Kota Bandung. Di lokasi ini pun, kini sudah dijalaninya hamper 5 tahunan.

Sebuah pekerjaan yang melelahkan. Setiap hari harus mengelola sekolah swasta, dan anak-anaknya yang kini sudah mulai beranjak besar. Bila dalam keadaan penat dan lelah, diapun menghabiskan waktu untuk berselonjor ria di tengah rumah, sambil menanti waktunya istirahat, untuk sekedar melepas lelah demi pekerjaan besok yang terus menantinya secara berulang.
Istirahat. Istirahat. Itulah, kegiatan rutin yang setiap hari dihabiskannya. Hidup ini lelah. Semangat tetap dia pupuk, tetapi kelelahan adalah bentuk dari kejujuran biologis manusia. Tidak bisa dipungkiri. Semangat jiwa mampu dikelola dengan baik. Banyak cara untuk membangun semangat dalam hidup ini. Tetapi, kejujuran fisik harus tetap diakui keberadaannya.
Mah sapa, Ami kepada Ibunya. Untuk menghiasi hidup ini, kita tidak boleh sekedar jadi objek kehidupan.. tuturnya dalam membuka pembicaraan. Mendengar ucapan itu, Ibu Ina sedikit terperangah, dan kemudian menoleh ke anaknya yang sulung. Lika liku perjalanan hidup Mamah ini, seolah-olah hanya sekedar untuk mencari pijakan hidup, sekedar pijakan kerja. Itu tidak bagustuturnya lagi. Mendengar lanjutan penjelasan anaknya yang kini duduk di bangku kuliah ini, Ibu Ina semakin heran.
mengapa begituselanya kepada anak sulung tersebut.

Hidup ini, bukan sekedar menjadikannya sebagai tempat pijakan hidup, kita harus bisa berjalan dan bermain dalam irama hidup. Karena itulah, arti dari hidup dan kehidupan. Gajah berpijak di bumi. Sapi pun menginjak bumi. Bahkan, batu pun menginjak di bumi, termasuk juga kandang ayam. Semua itu berpijak di bumi. Tetapi, manusia bukanlah mereka. Kita tidak sekedar berpijak di bumi, tetapi kita harus hidup. Maka jalanilah hidup, dan menarilah dalam tarian kehidupan ini
Paparan Anaknya ini, seolah sambaran petir dan mengingatkan perjalanan dirinya selama ini. Ibu Ani, terbangun dan tersadarkan dari tidur panjangnya selama ini. Ibu kita ini, mulai sadar, bahwa kelelahan yang ada selama ini, karena dirinya mati di tengah-tengah kehidupannya. Selama ini, banyak diantara kita, hanya menjadi makhluk mati yang diombang-ambingkan kehidupan. Dan bukan hidup, sesuai dengan irama kehidupan itu sendiri.

Advertisements