tradisi studi banding, yang biasa dilakukan oleh anggota dewan, kini mulai menular ke tingkat satuan pendidikan. Apa jadinya, dan apa urgensinya program ini terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini.

Ternyata, usulan untuk studi banding ke Singapura itu serius, ya..? Tanya seorang kepala madrasah kepada rekan seprofesinya yang lain. Pertanyaan ini, kendati memiliki aura penegasan, tetapi tersimpan pula adanya ketidakpercayaan terhadap apa yang sedang terjadi saat itu. Di kira, sekedar guyonan Pak Asep aja ungkapnya lagi. ternyata, celetukan itu, diiringi dengan motif yang sunggu hati. Paparanya kepada teman-teman yang lainnya.

Mendengar paparan dari ibu kepala itu, kepala-kepala yang lainnya belum banyak komentar. Maklum, mereka itu, memang baru saja selesai melaksanakan Ujian Akhir Sekolah/Madrasah (UAS/M), jadi dalam benaknya usulan studi banding ke luar negeri itu, belum menjadi agenda di sekolahnya. Karena alasan itulah, mereka tidak banyak komentar.

program ini, katanya sih..kelanjutan dari studi banding tahun sebelumnya..katanya, lagi. Mendengar, pernyataan itu, semua yang ada mulai agak kaget. Bukan tersentak, Cuma penasaran dan ingin tahu, apa maksudnya dari perkataan ibu kepala yang dianggap oleh teman-temannya yang lain sebagai ibu yang sering menggosip.

kelanjutan gimana ? tanya, Uyan, yang menjadi kepala madrasah swasta di daerah Bandung Timur. Pertanyaan ini, hampir senada dengan pikiran sejumlah kepala yang lainnya. Ibarat di Gedung DPR, pertanyaan Uyan ini dianggapnya sebagai aspirasi politik yang sama dari sejumlah kepala yang lainnya. ceritakan terus, apa maksud dari kelanjutan itu, memangnya ada rekomendasi dari hasil studi banding sebelumnya?

Bila studi banding ini jadi dilaksanakan, orang lain akan mengatakannya bahwa studi banding di lingkungan sekolah ini, seolah menjadi agenda rutin. Sekarang-sekarang ini, kepala-kepala sekolah, dan juga pejabat pendidikan, kerap kali menjadikan studi banding sebagai salah satu program yang katanya dianggap bisa mendongkrak kualitas pendidikan di negeri ini.

Entah benar. Entah tidak. Sebagai penutur kisah ini, belum menemukan ada penelitian (biar rada keren dikit, belum ada riset yang sistematis) mengenai dugaan ini. Hal yang paling banyak ditakutkan, justru penyakit anggota Dewan di DPR (D) menular kepada pelaku pendidikan di negeri ini, baik di tingkat satuan kerja, maupun birokrasi.

Tidak sulit untuk menemukan indikasi seperti ini. Di tingkat Satuan Kerja (Satker), program kecil-kecilan ada studi banding antar sekolah di lingkungan Kota/Kabupaten. Meminjam istilah didunia transportasi, kita menemukan ada Studi Banding antar sekolah dalam Kota/Kabupaten (SUBASAK). Studi Banding antar sekolah Dalam Propinsi (SUBASADAP), Studi Banding antar sekolah antar Provinsi (SUBASAP), dan Studi Banding antar sekolah Antar Negara (SUBASAN). Semua itu, pasti ada biayanya, dan biayanya itu kalau tidak dibebankan kepada Anggaran Negara, ya…. anggaran dari masyarakat. Tidak ada pilihan lain !

Saat dikonfirmasi oleh pihak lain, mereka menjawab, masa harus belajar dari sekolah yang lebih rendah kualitasnya dari kita ? itu tidak masuk akal..jawab sejumlah kepala, yang dimintai komentarnya mengenai alasan pemilihan tempat studi banding ke luar negeri.

tetapi, bukankah mereka yang pernah melakukan itu, adalah mereka yang dirancang oleh Pemerintah sebagai Sekolah berstandar internasional ? sergahnya lagi. Kelompok ini, kerap kali agak kencang mempertanyakan motif dibalik studi banding ke luar negeri.

Mendengar pertanyaan seperti itu, eksekutif sekolah itu, dengan mudah menemukan jawabannya. Bahkan, jawabannya pun, seolah didukung oleh birokrat pendidikan di tingkat yang lebih tingginya. ini, sudah hasil konsultasi dengan pemerintah, dan mereka memandang bahwa percepatan kualitas pelayanan pendidikan itu, harus merata pada setiap sekolah, dan bukan hanya sekolah bertaraf internasional dengan argument seperti itulah, tidak mengherankan bila kemudian, sebagian anggaran di sekolah/madrasah itu, disisihkan untuk program studi banding, entah itu SUBASAK, SUBASADAP, SUBASAP, atau SUBASAN. Hal itu, bergantung pada kekuatan anggaran sekolah masing-masing.

Bagi kita yang diluar, atau malah yang belum keajakan studi banding, hanya bisa bertanya, semoga studi banding-studi banding tersebut, bisa menghasilkan sesuatu. Setidaknya, memberikan inspirasi positif dalam pengembangan pendidikan, dan bukan inspirasi virus studi banding saja. Artinya, gara-gara kepalanya studi banding, guru-gurunya pun keranjingan berstudi banding ria, dan itu dilakukan saban tahun lagi .

Wah, gimana jadinya sekolah kita di masa depan ?!!

Apapun yang terjadi, itu sudah terjadi. Inilah yang disebut fakta. Dengan kata lain, studi banding itu sudah menjadi fakta, menjadi bagian dari program rutin elit-elit di negeri ini. hanya karena, inisiatif dan greget yang besar dari kalangan elit itulah yang bisa mengubah, sebuah tradisi rutin menjadi tradisi yang bersifat substantive dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi lembaga atau masyarakat pada umumnya.

Khusus bagi kita, yang masih ada di luar, dan atau yang belum keajakan, memiliki kewajiban untuk terus mengingatkan, bahwa program berbiaya mahal itu, perlu ditindaklanjuti dengan aneka program yang mendukung pada usaha-usaha peningkatan pelayanan kepada masyarakat (siswa). Karena tanpa kegairahan hal seperti itu, maka kegiatan ini, hanya akan benar-benar menjadi sebuah tradisi konsumtif belaka.

Apa yang bisa dilakukan ? atau, apa yang harus dilakukan selepas (ada rencana) studi banding tersebut ? pertanyaan ini, normative dilakukan, baik oleh kelompok oposisi, maupun orang yang tersadarkan dengan pentingnya pertanggungjawaban (accountability).

Pertama dan utama, perlu ada kajian intensif mengenai uji relevansi dari studi banding terhadap perubahan kinerja sekolah. Apapun alasannya, siapapun yang melakukan studi bandingnya, perlu ada uji relevansi dari sebuah program dengan target yang ingin dicapai. Hal itu, selaras dengan program kerja yang tertulis dalam proposal itu sendiri.

Kita sudah mafhum, bahwa sebuah kegiatan diawali dari proposal. Dalam proposal itu, ada latar belakang, maksud dan tujuan, serta target yang ingin dicapai. Karena ada proposal itulah, dan karena rasionalitas yang terdapat dalam proposal itulah, kemudian usulan itu dikabulkan baik oleh Komite Sekolah/Madrasah, dan atau Pemerintah. Oleh karena itu, tahapan awal yang perlu dilakukan itu, adalah pengujian tingkat keberhasilan dan atau relevansi antara program kegiatan dengan perubahan kinerja di sekolah dimaksud.

Kedua, setiap studi banding harus ada laporan yang konkrit, baik berupa laporan deskriptif maupun rekomendasi hasil kunjungan yang kemudian disampaikan kepada guru-guru, orangtua maupun Komite madrasah bahkan public. Karena, apapun yang dilakukan seorang eksekutif sekolah, adalah penggunaan dana public yang berimplikasi wajib adanya pelaporan kepada public.

Terakhir, ini yang paling penting, di jaman sekarang ini, model dan informasi model pendidikan luar negeri dapat diakses di dunia internet, dan tidak mesti kunjungan secara fisik ke luar negeri. Lebih murah lagi ?!

Dalam tradisi penelitian, riset ilmiah bisa dilakukan dengan cara yang beragam. Tidak selamanya, kita harus melakukan observasi ke lapangan. Masih banyak pendekatan lain, cara lain, atau metode lain, untuk mendapatkan hasil penelitian yang berkualitas. Salah satu diantaranya, adalah dengan menggunakan studi literature. Pendekatan ini, dapat dilakuakn sebagai pengganti dari survey lapangan.

Studi banding dengan observasi lapangan, hanyalah salah satu dari metode yang bisa digunakan. Internet yang ada saat ini, pada dasarnya bisa dijadikan alternative lain untuk mendapatkan sejumlah informasi terkait dengan model pembelajaran, atau system pendidikan di Negara lain, tanpa harus hadir di lokasi tempat.

Pada konteks inilah, bila motivasi studi banding itu, hanyalah riset ilmiah mengenai system pembelajaran, studi banding jarak jauh, jauh lebih murah dan lebih mudah dilakukan, daripada studi banding langsung ke lokasi. Maksudnya, bila studi banding itu dilandasi oleh kebutuhan mendapatkan informasi berkualitas mengenai system pendidikan yang kita inginkan ?!?

Advertisements