Menolong itu, bukan sekedar memberikan waktu, kepemilikan, atau kemampuan diri kita kepada orang lain. dibalik kesediaan kita menolong, tersimpan modal sosial untuk keselamatan diri sendiri. menolong itu adalah ikhtiar untuk menyelamatkan diri sendiri.


Lagi duduk santai. Di depan kantor tempat kerja. Hilir mudik rekanan yang sedang serius bekerja, entah mengerjakan apa. aku tak paham itu. di lain pihak, ada juga anak-anak yang sedang belajar. kenampakan itu, terjadi secara rutin dalam kehidupan di ruang kerja ini. Mereka ini, seolah-olah tidak pernah mengenal lelah. Terus bergerak. Terus berputar. terus berulang. Hari itu, sebagian diantara kita ini, ada pula yang lagi duduk santai menunggu tibanya waktu shalat jum’at. Termasuk yang kulakukan saat itu.

Kebakaran. Kebakaran. Kebakaranteriak sejumlah orang, sambil gesit menghadap wajah ke arah langit, yang menjadi ruang terbuka untuk melihat kepulan asap. Nyata sudah, di ujung sebelah selatan kampus madrasah ini, kepulan asap hitam membumbung langit. Entah dalam jumlah berapa bar, tekanan asap itu mengepul menembus ruas-langit-langit di atas rumah yang sedang terbakar tersebut. Hitam pekat mengepul, menunjukkan besarnya golakan api yang tengah membakar tempat dimaksud.

Semua yang ada di lokasi itu, khususnya di madrasahku, belum banyak yang tahu mengenai apa dan mengapa hal itu terjadi. Sebelumnya ada isu, ruang koperasi yang terbakar. Ada yang bilang, kantin yang terbakar. Ada lagi yang mengatakan, laboratorium yang terbakar. Simpang siur informasi itulah, yang kemudian menyebabkan paniknya orang-orang yang berada di lokasi tersebut.

Tidak karuan saja. Teriakan demi teriakan. Bersahutan, bergelombang dan bergelora, menyebabkan suasana jiwa yang ada di lokasi itu, tidak keruan. Rasa was-was muncul bersamaan dengan penasaran yang tinggi. Bukan hanya guru yang sedang santai-santai ria di ruang guru, tetapi para guru dan siswa yang ada di dalam kelas pun tersentak, untuk mencari tahu mengenai apa yang sedang terjadi dalam kebakaran dimaksud.

Tidak ada yang mengkomando. Semua orang bergerak dari berbagai tempat menuju satu titik pusat. Pusat api kebakaran. Itulah yang menjadi magnet orang-orang yang ada di sana. Kendati tidak tahu apa yang mereka akan lakukan, namun mereka memiliki hasrat yang sama, yaitu ingin tahu apa yang sedang terjadi. Tidak ada aturan siapa duluan, atau siapa melakukan apa. Mereka bergerak menuju pusat kebakaran. Kepala madrasah. Guru. Penjaga sekolah. Pedagang. Masyarakat di sekitar madrasah. Semua bergerak tanpa komando menuju lokasi kebakaran.

Dalam suasana itu, ada sebagian yang bersyukur. Apakah ini, rasa syukur atau sikap egois. tetapi, ekspresi sebagian orang ini merasa senang dan bersyukur karena ternyata, seluruh dugaan yang tadi dikemukakan sebelumnya itu tidak benar. Lokasi kebakaran itu, bukan berada di dalam kampus madrasah, tetapi berada di belakang kampus di luar kampus. Keluarga besar madrasah merasa lega.

Tetapi kelegaan itu, tidak lama. Karena mata dan kepenasaran itu terus tertarik ke lokasi kepulan asap. Dia berada di luar kampus. Menuju satu titik. Di belakang kampus MTs Al-Misbah. Tidak jauh dari kampus MAN 2 Kota Bandung, Sebuah rumah penduduk terbakar.
Hendak keluar tapi tak bisa. Pintu tertutup. Kunci di ruang sekuriti. Petugas sekuriti pun belum juga tiba. Padahal, api terus melalap berbagai barang yang ada dalam rumah . Hal itu tampak dari jilatan si jago merah dan kepulan asap yang tada hentinya menampakkan terror ke wajah-wajah orang yang menatapnya. Mata terbelalak, dengan kecemasan yang memuncak. Hembusan angin di sekitar lokasi, kian mencemaskan. Karena dengan hembusan angin itulah, memungkinkan jilatan api bisa menjalar ke sana ke mari, tanpa kendali.

Karena tiadanya kepastian, datangnya petugas sekuriti ditambah dengan kehawatiran seluruh warga madrasah, terhadap merambahnya jilatan api ke berbagai tempat. Maka pintu gerbang madrasah langsung didobrak. dengan menggunakan kapak, kunci pintu pintupun didobraknya. BRAK !!!

hal ini, dilakukan dengan maksud untuk mempercepat penyelamatan dan penaklukan api yang membakar. Semua orang yang hadir di sekitar itu, takut jilatan api menjalar, termasuk ke madrasah yang berlokasi kurang dari 10 meter dari titik api kebakaran.
Dengan terbongkarnya pintu gerbang, yang memang selama pembelajaran disiplin ditutup ini, keluarlah sejumlah warga madrasah. Guru dan siswa juga pegawai madrasah bergerak menuju pusat kebakaran

.

Dalam posisi kekhawatiran dan kecemasan yang tinggi, diantara mereka banyak yang mengambil peran semampunya. Siswa. guru, masyarakat, pegawai madrasah, anak SD dan Mts sekalipun mereka bergerak bersama dalam satu irama, satu tujuan. TAKLUKKAN API !!.

Ember diambil, dijadikan sarana membawa air untuk menyiram pusat kebakaran. Kaleng. Tong sampah. Drum minyak tanah. Atau apapun juga, yang mereka anggap sebagai bahan yang bisa mengangkut air, mereka gunakan semampunya.

Keberuntungan masih menghampiri kami semua. Di lokasi kebakaran itu ada kolam. Tiga buah kolam ikan, yang berisi air penuh, menjadi penyelamat pusat kebakaran. Di sisi lain, sejumlah anak baik dari Al-Misbah maupun MAN 2 Kota Bandung, serta warga di sekitar yang berada di lokasi, secara bahu membahu memadamkan pusat titik api kebakaran. Kesinergian antara sumberdaya air, dan sumberdaya manusia yang besar inilah, dalam hitungan menit, sekitar 35 menitan lamanya, api mulai bisa ditaklukkan.
Hal yang memang kami pun tidak menutup diri. Dalam kekhawatiran itu, ada sejumlah siswa yang mengontak Dinas Kebakaran Kota Bandung, dan atau pihak lain yang bisa membantu proses pemadaman kekabaran. Mereka datang, setelah kobaran api mulai melemah dan bisa dikendalikan.

Namun hal yang pasti, dari pengalaman ini, kami menyimpulkan bahwa (a) pertolongan pertama itu, adalah tenaga saudara-saudara kita yang terdekat. Saudara jauh, termasuk petugas Negara itu, bukanlah penolong pertama. Karena, andaipun mereka itu kerap berada pada dua hal yang memprihatinkan, datang terlambat atau tidak datang sama sekali. Nilai kedua, yang perlu ditegaskan di sini, membantu orang lain, termasuk membantu menyelamatkan orang lain, pada dasarnya adalah upaya preventif untuk menyelamatkan kepentingan sendiri.

Kita tidak bisa bayangkan, bila dalam konteks itu, kebakaran di rumah orang lain kita biarkan. Dengan alasan tidak peduli, karena itu adalah urusan mereka, kita biarkan kebakaran itu melalap rumah orang itu. Betul rumah orang itu habis. Musnah. Tetapi, jilatan api adalah jilatan tak terduga dan sulit diprediksi. Bukan hal yang mustahil, musibah itu malah merambah ke perumahan kita sendiri. Oleh karena itu, menyelamat orang lain, dan atau membantu orang lain, pada dasarnya adalah upaya preventif untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Lebih jauh dari itu, kalau kita tidak terbiasa membantu orang lain, jangan salahkan bila orang lain enggan membantu diri kita sendiri. selain itu, kami merasa yakin, bahwa penolong pertama dan utama itu adalah orang-orang yang ada di sekitar kita. tetangga atau orang paling dekat dengan kita, itulah penolong pertama dalam kecelakaan. !

setelah reda. didapatkan informasi bahwa penyebab kebakaran itu, yakni adanya kelalaian tukang las yang tengah membuas rangka rumah dilantai atas. Pekerjaan ini dikerjakannya di lantai dua, sedangkan antara lantai dua ke lantai bawah ada ruang-ruang kosong yang memungkinkan percikan api lepas ke bagian bawah. karena kelalaian inilah, percikan las itu lepas ke bawah dan meluncur ke kasur. karena kejadian itulah, kemudian menyebabkan adanya kebakakaran. beruntungnya, sekali lagi kata ini harus diungkap, kebakaran itu tidak menjalar ke rumah yang lain. dan hanya membutuhkan kurang dari dari 1 jam, api sudah bisa dikendalikan.

Advertisements