Dua puluh tahunan lalu, ketika memulai kuliah dan tinggal di Bandung, banyak orang luar kota merasa kedinginan. Kendati waktu sudah menunjukkan pukul 9 atau 10 siang. Kadang dirasa pula sebagai udara yang sejuk. Bandung dingin. Bandung sejuk. Itulah atmosfera yang banyak dirasakan banyak orang saat itu. Namun suasana seperti ini, akan lain suasananya bila dikaitkan dengan tahun-tahun terakhir ini. Selepas ada pembangunan kota, banyak aura kota yang jauh berbeda dengan dua dekade sebelumnya. Perasaan gerah dan panas cukup dan mudah dirasakan oleh penghuni kota.


Sebagaimana dimaklumi, untuk megurangi kemacetan di Kota Bandung pemerintah akan menyiapkan jalan layang tol baru yang rencananya dimulai pada tahun 2010-2011 ini. Jalan layang tol itu akan terbentang dari Pasteur-Jalan Diponegoro-Ujung Berung-Cibiru- pintu tol Gede Bage dan tersambung ke pintu tol Cileunyi.

Untuk proyek jalan layang ini, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional membantu pendanaan dari pinjaman luar negeri. Nilainya mencapai US $ 150 juta. Kota Bandung sendiri berkewajiban membebaskan lahan yang akan dipakai jalan tol. Pembangunan jalan direncanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama ruas Pasteur-Pusdai (Jalan Diponegoro), tahap kedua meliputi Gede Bage-Ujung Berung, dan tahap terakhir menyambungkan ruas ke Cileunyi. Dampak atau kelanjutran dari rencana tersebut, dari Atas nama sebuah pembangunan, Pemerintah Kota mulai melakukan penebangan pohon, populasi yang sudah jauh lebih lama tinggal di kota ini dibandingkan manusianya.

Disamping itu, atasnama akselerasi pembangunan infrastruktur ekonomi, pemilik modal pun dengan semangat melakukan penebangan hutan yang telah lama menghuni Kota Bandung. Tidak mengherankan, bila kemudian kita akan merasakan ada aura yang berbeda antara dua decade yang lalu, dengan suasarana kota Bandung saat ini. Bila kita naik kendaraan di jalur Timur Kota Bandung ini, Bandung terasa terang dan terbuka, dan sangat mudah menatap langit. Hal ini, akan sulit dilakukan dalam waktu yang lalu, karena kota Bandung dirimbuni oleh pepohonan besar berusia tua.

Reaksi publik yang muncul, diantaranya yaitu adanya desakan dari warga terhadap lokasi pembangunan pusat ekonomi di Kawasan Bandung Timur. Warga di sekitar pengembang pusat ekonomi Tanrise City, mendesak pengembangnya untuk segera menghentikan perusakan ekosistem lingkungan selama proses pematangan lahan. Aksi warga dipicu sikap pengembang yang tidak terbuka. Bahkan, warga juga menuding pengembang sudah melakukan pembalakan/penebangan pohon di lokasi yang akan digunakan sebagai area bisnis itu.

Bagi pengelola dan atau pemerintah, sudah tentu telah memiliki agenda tersendiri mengenai masa depan Kota Bandung itu. Atas nama sebuah pembangunan jalur transportasi, pembukaan jalur tol di Bandung Timur itu, memaksa pepohonan tua harus menyingkir dari lokasinya. Dan kelak akan diganti dengan pepohonan muda.

Terkait hal ini, ada beberapa catatan penting dari fenomena penataan lingkungan kota Bandung saat ini.
Pertama, kita masih memiliki citra pembangunan yang bersifat parsial. Satu sisi, kita ingin mendukung usaha pengurangan emisi demi terwujudnya penurunan pemanasan global, sebagaimana yang dituntut oleh berbagai deklarasi terkait dengan penyelamatan bumi. Misalnya, Kongres Geothermal Dunia 2010 menghasilkan Deklarasi Bali, memberikan amanat mengenai pentingnya optimaliasi sumberdaya terbarukan. Kemudian, The United Nations Climate Change Conference (UNCCC) 2007 berhasil melahirkan Bali Road Map. Road Map ini menghasilkan kesepakatan aksi adaptasi, jalan pengurangan emisi gas rumah kaca, transfer teknologi dan keuangan yang meliputi adaptasi dan mitigasi. Semua hal itu, memberikan isyarat pentingnya kerjasama dan koordinasi antar lembaga dan Negara dalam menjaga lingkungan.

Sedangkan pada sisi lain, kebijakan pengadaan alat transportasi kota tetap dipertahankan, dan pengurangan kualitas kota malah terus dilakukan. Oleh karena itu, logika sederhana kita akan mengalami kesulitan untuk bisa mendapatkan lingkungan kota yang sehat, bila dua paradoksal sikap ini terus dipertahankan.

Dengan mempertahankan kualitas kota sebagaimana yang ada sekarang ini saja, kuota kendaraan (produsen atau sumber emisi) harus dikurangi. Hal itu dilakukan, bila kita ingin kualitas kota jauh lebih baik. Sedangkan bila kendaraan terus bertambah, dan pepohonan berusia tua itu ditebang, itu sama dengan penyebab tingginya emisi dibiarkan stabil, sedangkan penyebab bertahannya kualitas lingkungan dikurangi. Di suruh bekerja keras, tetapi jumlah makan harus dikurangi. Maka suatu saat, kota akan mengalami kelaparan ekologis.

Kedua, dalam paradigma pembangunan lingkungan, kita memang belum populer untuk mengatakan membangun boleh, tetapi pepohonan yang sudah menjadi ciri kota, harus tetap dipertahankan. Artinya, izin mendirikan bangunan atau pusat kegiatan mempersyaratkan adanya agenda untuk mempertahankan lingkungan, minimalnya pepohonan kota yang mencari ciri kota. Artinya, proses pembangunan diharapkan tidak mengganggu kondisi ekologi kota. Pembangunan flyover (jalan layang) atau jalur tol adalah sebuah kebutuhan ril masyarakat kota atau masyarakat modern, tetapi menjaga lingkungan dan kesegaran kota adalah sebuah keniscayaan.

Sinkronitas antara motif pembangunan dengan dorongan untuk mensukseskan program pelestarian lingkungan, setidaknya perlu dijadikan sebagai asumsi awal dalam melakukan penataan pembangunan. Dengan kata lain, prinsip membangun kota dengan menjaga pepohonan kota adalah bagian penting dari usaha menjaga kelestarian kota dan lingkungan.

Penutup, keprihatinan kita terhadap kondisi lingkungan termasuk lingkungan global adalah sebuah keprihatinan global. Namun hal yang sudah pasti, kerusakan lingkungan adalah sebuah kondisi yang memiliki efek sistemik dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penataan lingkungan, akan terasa jauh lebih indah, bila kedaulatan ekologis menjadi bagian penting dari proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

Manusia memiliki hak dan memiliki kedaulatan dalam mengekspresikan harapan dan mimpinya. Termasuk berdaulat dalam merancang pembangunan kota. Namun, kita pun perlu peka pula, bahwa lingkungan pun memiliki hak dan kedaulatan tersendiri. Kita perlu toleran terhadap kedaulatan ekologi tersebut. Karena, pada saat kedaulatan ekologis itu dilanggar, maka persoalan pun akan kembali menjadi masalah manusia. Pemanasan global, minimalnya pemanasan kota, sebagaimana yang dirasakan oleh masyarakat kota Bandung saat ini, adalah contoh kecil dari melemahnya kedaulatan ekologis kota oleh ideologi pembangunan yang kita laksanakan selama ini.

Advertisements