Nasib buruk menimpa Nanin. Baru menjabat sebagai kepala sekolah di sebuat sekolah negeri di kampungnya ini, dia harus berhadapan dengan pengadilan. Awal kejadiannya, justru adalah masalah sepele. Dia menginstruksikan kepada siswa kelas XII, yang akan lulus ujian untuk menyumbangkan buku pelajaran, bebas tidak ada criteria apapun, untuk diserahkan ke sekolah. Harga buku pun tidak ditentukan. Hanya itu. Tetapi, instruksi itu malah berbuntut panjang, dan kini menyeretnya masuk kubangan pengadilan.

mengapa, anak-anak harus menyumbang buku paket, bu ?Tanya Bu Vira. Beliau inilah yang membuka lembaran kelam bagi Kepala Sekolah ini. Vira adalah orangtua dari Ate yang kini duduk di kelas XII. Pertanyaan itu, pada dasarnya hanya sebuah kepenasaran seorang orangtua terhadap kebijakan sekolah.

bukankah, anak kami ini sudah mau lulus, SPP sudah bayar, kok ada tambahan beban biaya terus ? Tanyanya lagi. Kepenasarannya ini, terus meningkat dan menguat. Terlebih lagi, ternyata, orangtua siswa yang lainnya pun turut menyumbang dukungan kepadanya, untuk mengungkap masalah ini. pernyataan dan sikap ini, muncul dalam sebuah Rapat Orangtua yang dihadiri oleh pimpinan sekolah, dan Komite Sekolah.

Dari pihak sekolah, melalui Wakil Kepala bidang Kurikulum, yang biasa mendampingi kepala ini, memberikan jawaban bahwa, kebijakan itu adalah dalam rangka meningkatkan kelengkapan sarana belajar di sekolah. Kebutuhan perpustakaan yang lengkap itu, adalah cara utama dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan lulusan pendidikan. Tidak mungkin, sekolah ini akan menjadi baik, bila kita tidak memiliki sarana perpustakaan yang lengkap. Begitulah paparannya.

Mendengar paparan seperti itu, semua orangtua mengerti. Penjelasan Waka Kurikulum itu sangat gamblang, dan mudah dipahami. Terlebih lagi, saat Waka kurikulum itu mengajukan pernyataan retoris, bukankah kita ingin, anak-anak kita berkualitas ?

Tidak ada orangtua yang menolak. Pernyatan retoris itu, amat sangat mudah dipahami, dan mudah diterima oleh nurani kebanyakan orangtua. Karena, siapa orangtuanya yang berkeinginan menyekolahkan anak, tetapi kemampuan anaknya tidak menunjukkan hasil yang membanggakan ? maka, kalimat demi kalimat, dari penjelasan perwakilan sekolah itu diterimanya. Ditelan bulat-bulat.

Hanya satu orang yang tetap gelisah dengan penjelasan itu. Orang yang gelisah ini, tiada lain adalah ibu Vira, orangtuanya Ate Cesiwati. Orangtua siswa kelas XII IPA 3 ini, tetap menyimpan kepenasarannya. Entah apa yang menjadi buah pikirannya itu, namun tampak kegelisahan itu terus menggelayut dalam keningnya. Tak ayal lagi, karena gelayutan kepenasaran itu tidak kuasa dia tahan, kemudian meluncurlah dalam bentuk pertanyaan.

saya tidak menolak, terhadap argumentasi tadi. Penjelasan itu mudah dipahami. Dan saya terima. Sebagai orangtua, kita harus sama-sama mendukung terhadap program tersebut. Karena itu, adalah demi kebaikan anak kita, juga sekolah ini. bahkan, bisa jadi bermanfaat terhadap adik kelasnya nanti…tuturnya dalam membuka kepenasarannya tersebut. tetapi, bukankah dari Negara juga ada Bantuan Operasional Siswa, serta biaya rutin tahunan untuk kepentingan perpustakaan ?
Sontak saja. Semua yang hadir merasa kaget. Seolah ada halilintar menyambar ke ruangan rapat tersebut. Tidak hanya pihak sekolah yang kaget. Orangtua siswa yang hadir pun, termasuk Pengurus Komite Sekolah menggeliat dikagetkan oleh pernyataan tersebut. Pernyataan ibu Vira itu, bukanlah sekedar sebuah pertanyaan, tetapi sekaligus memberikan informasi koreksi terhadap kebijakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah ini.

Celakanya lagi, diantara orangtua tersebut ada yang berprofesi sebagai jurnalis. Dia bekerja di sebuah media massa ibu kota, yang juga dianggap sebagai media massa senior dan juga jurnalis senior. Dari titik inilah. awal berubahnya nasib ibu Nanin.
Pertanyaan Ibu Vira, menuntun beberapa pihak bertanya dan bersikeras untuk tahu mengenai biaya BOS dan atau biaya rutin tahunan sekolah untuk kegiatan perpustakaan. Bahkan, pihak komite pun bertanya mengenai laporan keuangan pada tahun-tahun sebelumnya.

Kisruh persoalan ini, kemudian tercium oleh Organisasi non-pemerintahan (NGO) atau biasa disebut LSM (Lembawa Swadaya Masyarakat). Memang tidak semua LSM itu buruk, tetapi tidak juga berarti bahwa setiap LSM itu baik. Artinya, ada saja LSM yang memancing di air keruh. Mendengar kisruhnya masalah buku perpustakaan ini, kemudian dijadikannya sebagai peluru untuk membongkar masalah keuangan sekolah.

LSM tersebut, bekerjasama dengan media massa, kemudian mempublikasikan kasus itu ke public. Karena ada berita itulah, kemudian udara di kantor sekolah ini, dan juga instansi yang lebih tingginya mulai memanas. Bukan panas karena suhu alam, tetapi simpang siur pembicaraan sudah tidak karuan, dan apalagi muncul oknum-oknum yang bermain dikeruhnya persoalan tersebut.

Akhirnya, sebagai penanggungjawab sekolah, Ibu Nanin dipanggil. Bukan saja dipanggil secara profesi, tetapi diapun sudah masuk dalam daftar orang yang diminta hadir di meja hijau. Di sinilah, nasib kepala sekolah ini memasuki babak baru.
Perjalan demi perjalanan. Sidang semi sidang. Terus dia jalani. Akhirnya, terbuka sudah masalahnya. Berdasarkan hasil investigasi pihak pengadilan, Ibu Nanin dinyatakan bersalah karena (a) mengeluarkan kebijakan bagi siswa untuk menyumbangkan buku pelajaran ke sekolah, (b) buku pelajaran itu, diklaim sebagai milik sekolah, dan (c) biaya pembelian buku pelajaran sumbangan siswa itu, diklaimnya sebagai hasil pembelian dari uang Negara. Singkat kata, buku perpustakaan hasil sumbangan itu, ternyata digunakan sebagai bagian dari bukti fisik pembelian buku dari biaya Negara ! Nah Lho!
Karena alasan itulah, Ibu Nanin harus pindah kantor ke balik jeruji di Lembaga Pemasyarakatan.

Saat kami mengunjunginya, yang ditemani oleh sejumlah pejabat kepala sekolah yang ada di kota ini. Diantara pimpinan itu, ada yang sudah senior, bahkan seniornya ibu Nanin. Setibanya ke lokasi itu, kami langsung masuk ke ruang kantor bu Nanin yang baru itu. Tampak, wajahnya kusut menunjukkan tekanan psikologis yang tinggi. Tidak diduga, dia kemudian menatap kami. Lama sudah menatapnya, kemudian tersenyum. Diantara kami, terdapat juga sejumlah pimpinan sekolah, bahkan ada pimpinan baru pengganti Ibu Nanin. Mereka semua memberikan senyuman balasan. Namun, inilah yang kami tidak sangka. Ternyata dan tak disangka sebelumnya, bu Nanin berteriak kencang sekali.
Pak Jaksa, Tangkap dia, saya ini diajari sama mereka !!!? pekiknya.

Mendengar celotehan itu, kami buru-buru pulang. Meninggalkan kantor baru Bu Nanin ini. Sambil menenangkan detak jantung ini. Kami pulang ke rumah masing-masing ! diantara kami, ada yang tersenyum simpul, dan ada pula yang berdegup jantungnya gak karuan

Nah..lho..kaget Ya!?

Advertisements