Kita perlu membentuk karakter generasi muda ini, mirip bola, dan bukan telur. Itulah analogi yang dikemukakan Dr. Peter Waterworth dalam Seminar Internasional. Hal ini, setidaknya, terkait dengan tantangan dan ancaman hidup yang ada saat ini, memang begitu sangat kuat, dan membutuhkan sikap mental yang kuat, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi, sehingga seseorang bisa bertahan hidup dan juga eksis.

Tidak biasanya, hari ini saya ikut seminar internasional. Hal ini dilakukan mungkin juga disebabkan karena kebutuhan. Maklum, status profesi belum disertifikasi. Jadi, kebutuhan akan sertifikat kegiatan ilmiah menjadi sangat penting, dan terus harus diburu. Walaupun untuk tahun-tahun ini, sudah ada isu bahwa model sertifikasi pendidikan itu, tidak akan melalui portofolio, tetapi akan langsung dengan model pendidikan profesi. Namun, hasrat untuk mengikuti kegiatan seminar Internasional ii tetap hanya menguat. Terlebih lagi, sudah mendapat izin dari Kepala Madrasah, Drs. Misbakhudin. Karena alasan-alasan itulah, keinginan mengikuti kegiatan ilmiah ini tetap ada. Terlebihh lagi, ada peluang menjadi bagian dari kelompok penyumbang makalah (call for paper), saya tidak sia-siakan kesempatan dimaksud.

Dalam seminar bertajuk developing social skill and characters in learning social studies in school, yang diselenggarakan Program Pendidikan IPS Universitas Pendidikan Indonesia ini, menghadirkan Dr. Peter Waterworth dari Universitas Deakin Australia. Pemateri yang lain, yaitu ada Prof. Said Hamid Hassan, Prof. Rochiati Wiriatmadja, dan Dr. Hermana Somantrie dari Puskur Jakarta. Kemudian, dalam Proceeding Internation Seminar itu, tertera ada 21 buah makalah yang terkumpul dari pemakalah pendukung lainnya, termasuk tulisan saya yang bekerjasama dengan Dr. Cecep Darmawan dari Universitas Pendidikan Indonesia. Judul tema yang dikedepankan, Pengembangan Nilai Nasionalisme dan Kesadaran Berkonstitusi di Madrasah (2011).

Banyak pengetahuan yang menarik dari paparan-paparan yang disampaikan pemakalah di depan, dan juga pemakalah pembantu lainnya. Namun dari sekian banyak pengetahuan itu, satu diantaranya adalah analogi yang disampaikan Peter Waterworf tentang karakter manusia, merupakan satu dari sekian informasi yang mudah diingat. Dia dengan mudah, menjelaskan bahwa karakter manusia itu dapat diibaratkan dengan dengan bola (ball) atau telor (egg). Kendati, memang kita tidak memahami makna itu seluruhnya, dan mungkin tidak setuju dengan analogi itu, namun analogi itu, menarik untuk direnungkan.

Dalam pandangannya, pendidikan karakter yang perlu dibangun itu, adalah pendidikan karakter anak muda yang mampu hidup toleran, fleksibel, memiliki ketahanan mental yang kuat serta demokratik. Sikap fleksibel dan resilience ini menjadi penting, karena saat ini, anak muda banyak menghadapi tekanan hidup yang begitu sangat ketat dan berat.

Bentuk nyata dari generasi yang memiliki ketahanan mental dan kuat itu, tercermin dari karakter bola. Bola yang baik itu, adalah bola yang mampu bergerak bebas, dan memantul kembali, kendati dia sudah jatuh ke tanah. Kemampuan anak muda sekarang ini, harusnya adalah menjadi generasi muda yang mampu bangkit kembali, dikala dia mengalami musibah kejatuhan.
Karakter anak muda ini, jangan mirip telor. Mungkin benar, telor itu lebih menarik untuk dipilih dibandingkan dengan bola. Tetapi, telor tidak memiliki ketahanan mental yang kuat, dan kurang fleksibel. Di saat dia dijatuhkan ke tanah, dia tidak memiliki kemampuan yang hebat untuk kembali memantul, dan atau tanpa mengalami keterpecahan karakter.

Tidak aneh. Bila dalam beberapa waktu terakhir, generasi muda kita ini, sangat mudah tersulut emosi. Karakternya mudah pecah. Mudah terpengaruhi. Mudah terprovokasi. Mudah hanyut dengan pengaruh lingkungan. Walaupun dikampusnya adalah seorang bintang pelajar, namun setelah masuk birokrasi, dia pun malah hanyut menjadi bagian dari mafia-korupsi. Seperti yang ditunjukkan oleh Gayus Tambunan. Seorang alumni sekolah tinggi dengan nilai akademik yang istimewa.

Di kota-kota besar, generasi muda kita pun amat sangat mudah menunjukkan keterpecahan karakter. Emosional. Kurang disiplin. Tawuran dan berperilaku tak produktif, senantiasa banyak mereka tunjukkan. Itu semua, dikategorikannya sebagai karakter telur, mudah pecah dan retak karena adanya interaksi dengan bidang luar.

Tuturan ini, tidak dimaksudkan untuk menutupi dengan adanya sejumlah generasi mudah berkualitas dan berkemampuan dalam mengharumkan nama baik bangsa dan Negara. Tuturan ini, hanyalah ingin bertanya kepada diri kita saat ini, Bagaimana dengan karakter kita saat ini, telor apa bola ? begitulah pertanyaannya.

Advertisements