Salah satu membaca posisi peradaban sebuah bangsa, dapat menggunakan model yang dikembangkan oleh John Naisbith. Kendatipun sesungguhnya, dia tidak mengarahkan tulisan menjadi sebuah peta peradaban masyarakat, atau peradaban sebuah bangsa. Namun, tulisan ini setidaknya terinspirasi oleh tulisan John Nasibith, dan juga Komarudin Hidayat (2010 : 146). Dengan dua tulisan dari kedua pemikir modern itulah, kemudian kita, khususnya saya merasa bahwa ada wilayah lain yang perlu terus dikembangkan. Maksudnya, kedua tulisan itu, rasanya tidak langsung memetakan peradaban manusia secara utuh dan eksplisit. Pada konteks inilah, wacana yang kita kedepankan ini, diposisikan menjelaskan wacana-wacana yang belum diuraikan secara terbuka, dan jelas oleh kedua pemikir ini.


Sebagaimana kita dapat ikuti bersama, John Naisbith berkonsentrasi untuk menjelaskan peta peradaban manusia modern. Spirit yang dikedepankan oleh John Naisbith yaitu berupaya untuk menunjukkan adanya indikasi berkembangnya masyarakat-modern kapitalis yang mengabaikan sentuhan-moral dan kebermaknaan hidup. Pada sisi lain, prestasi dan kualitas lingkungan material masyarakat modern sudah sangat tidak terukur tingginya.

Sehari-hari, masyarakat modern sudah terbiasa dengan teknologi tinggi (high tech). Teknologi internet, sarana transportasi, media komunikasi, fasilitas hidup dan konsumerisme, semuanya itu adalah dikembangkan sebagai bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Namun dibalik itu semua, sebagaimana yang dibaca John Naisbith, ternyata perkembangan high-tech tidak diimbangi dengan ketercapaian kebermaknaan hidup. Sentuhan nilai-nilai kebermaknaan hidupnya, masih sangat lemah dan atau malah kian terus melemah (low touch).

Sementara itu, Komaruddin Hidayat (2010) melihat perkembangan di Indonesia, justru ada aspek yang sebaliknya. Setidaknya, dia mengungkapkan ada potensi local yang mengarah pada prinsip nilai yang sebaliknya. Dia menyebutnya sebagai sebuah kondisi low tech high touch. Fenomena kehidupan yang dia contohkan itu, yaitu pengalaman hidupnya membuat mobil-mobilan di masa usia kanak-kanak. Saat pembuatan mobil-mobilan itu, dimaknai sebagai bentuk low-tech, atau teknologi sederhana atau malah teknologi rendah. Namun, dalam suasana hidup dengan budaya teknologi rendah itu, prosesi kehidupan, jauh lebih terasa dan lebih bermakna. Siapapun kita, bila menjalani porsesi pembuatan mobil-mobilan, dan hidup dalam suasana kekanak-kanakan (childhoodness), akan merasa nyaman, enak dan membahagiakan. Aura kehidupan kekanak-kanakan itu adalah aura kebahagiaan dan kenyamanan dalam hidup. Itulah yang disebutnya high-touch.

Dengan memadukan pemikiran John Naisbith dan Komaruddin Hidayat itu, kita dapat menemukan ada 2 ruang peradaban lagi yang belum terulas. Walaupun sesungguhnya, tanpa diulaspun kita mungkin, sudah dapat menebak dan menyadari ada 2 kamar kualitas peradaban lagi yang potensial hadir dalam peradaban manusia itu. Kedua kamar/ruang peradaban itu, yaitu peradaban low tech-low touch, dan high tech-high touch. Itulah dua ruang peradaban, dari peta peradaban yang dikemukakan oleh kedua pemikir tersebut

Di bagian itulah, tulisan ini hanya membantu, jika memang itu perlu diungkapkan seperti itu, membantu menjelaskan tafsiran lanjutan mengenai peta peradaban sebagaimana yang dikemukakan oleh kedua pemikir tersebut. Walaupun pada dasarnya, sebagaimana yang saya kemukakan sebelumnya, bahwa secara implicit kita bisa memahami peta pemikiran itu sampai pada empat ruang peradaban manusia. Setidaknya itulah yang saya rasakan, setelah membaca tulisan John Naisbith dan juga Komaruddin Hidayat.

Saya kembali kemukakan di sini, pertama ada peradaban manusia yang cenderung ke arah high-tech dengan low touch. Dalam bahasa yang sederhana, peradaban manusia ini ditandai dengan teknologi-material yang canggih namun minim kebahagiaan. Makna hidup hilang, dan kurang didapatkannya dihadapan teknologi yang serba canggih. Manusia kategori ini, atau masyarakat kelompok ini, mengalami kehampaan spiritual ditengah-tengah perkembangan kecanggihan teknologi.

Trend perkembangan masyarakat ini, dimulai sejak abad pertengahan, yaitu pada saat perkembangan rasionalisme-material terus berkembang. Manusia terobsesi mencari dan menemukan gaya hidup dari aspek material dan teknologi. Upaya-upaya terus dilakukannya, hanya untuk memenuhi hasrat materialnya. Mulai dari bangun pagi, sampai menjelang tidur dan bahkan di masa-masa tidur pun, mereka tidak pernah lepas dari peran-sentuhan teknologi canggih. Namun, di saat seperti itu juga, mereka mengalami kekeringan spiritual.

Kedua, suasana kontras terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat Bangsa Timur, khususnya masyarakat agama. Kendati pun masih bersifat klaim, atau setidaknya cenderung lebih merupakan bentuk pengklaiman diri, kelompok ini memandang dirinya sebagai masyarakat yang lebih dekat pada status masyarakat yang mampu meraih kebermaknaan hidup. Kendatipun masih dianggap sebagai masyarakat yang belum canggih (low tech), tetapi masyarakat Bangsa Timur ini masih terus memegang nilai-nilai moral dan atau aspek spiritual secara lebih baik (high-touch).

Bila hendak berkomunikasi, masyarakat sederhana ini masih terbatas oleh ruang. Kita harus berjalan menyusuri jalan menuju lokasi yang akan kita kunjungi. Selain menghabiskan waktu, proses shilaturahmi atau komunikasi ini juga menghabiskan banyak modal. Karena perjalanan untuk berkomunikasi itu, akan memakan biaya dan tenaga yang cukup besar. Hanya untuk sekedar menyampaikan pesan, masyarakat kita ini harus datang dan berkunjung ke lokasi yang dimaksud. Namun, makna yang didapatnya jauh lebih besar dari sekedar menelepon dari jarak ratusan kilometer.

Bershilaturahmi langsung (direct face communication), mampu merangsang hadirnya suasana batin yang terbuka dan mendalam. Komunikasi bertatap muka langsung, merangsang nilai-nilai kemanusiaan dan pemaknaan hidup yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan e-mail atau chatting-an. Pada konteks itu, bukan masalah teknologi yang dipersoalkan. Pada konteks itu, nilai sentuhan kemanusiaan dan nilai kehidupan jauh lebih mengenai dan sampai pada spirit hidup dan kemanusiaan. Inilah yang disebut high-touch

Ketiga, ini tipe yang tidak boleh dilupakan. Walaupun makna dan inspirasinya sudah dapat ditangkap dari tulisan Komarudin Hidayat dan atau John Naisbith, namun belum dieksplisitkan, atau ditegaskan dalam wacananya. Artinya, di luar dua kelompok itu (high tech – low touch, atau low tech high touch), ada masyarakat yang masih dan/atau malah mengalami keterpurukan peradaban. Masyarakat ini mengalami low tech-low touch.

Saya tidak menyebut, kelompok ini sebagai kelompok primitive. Mungkin iya. Masyarakat primitive dapat dikelompokkan pada kategori ini. Kelompok masyarakat primitive, misalnya, dia itu belum memiliki teknologi canggih, dan belum memiliki format system nilai yang modern. Hidup masih liar dengan system nilai yang bar-bar. Kira-kira itulah, indikasi awal dari masyarakat primitive. Ada sebuah acara di media elektronik dengan judul primitive runaway. Acara intertain tersebut, pada dasarnya berupaya mengangkat keragaman budaya masyarakat Indonesia. Namun, hal yang tampak justru sekedar mempertontonkan kesederhanaan, atau ketradisionalan satu kelompok masyarakat tertentu di Indonesia.

Disamping masyarakat tradisional, saya melihat bahwa nasib menjadi masyarakat low-tech dengan low touch bisa terjadi pada masyarakat kita di alam modern ini. Kondisi itu, bisa terjadi khususnya bila kita menjadi masyarakat berperadaban sampah. Sebagai masyarakat berperadaban sampah, kita hanya mendapatkan sampah-sampah dari materialism-kapitalis. Dengan semangat materialismenya, kita hanya menjadi kelompok yang termarginalkan, karena tidak mendapatkan akses ekonomi yang sejahtera, dan dengan teknologi canggihnya kita malah mendapatkan dampak buruknya. Akibat dari itu, masyarakat itu menjadi masyarakat miskin dan bar-bar di zaman modern. Kelompok ini, adalah kelompok masyarakat yang hanya mendapatkan butiran-sampah dari setiap peradaban canggihnya, baik kecanggihan di masa lalu, maupun kecanggihan di masa sekarang.
Kita patut prihatin. Selama ini, kita bangga dengan kisah-kisah peradaban Indonesia yang kerap disebut sebagai masyarakat yang ramah, santun, penuh kekeluargaan, dan rukun. Pernyataan itu, mungkin kini telah menjadi sebuah slogan mengenai budaya masyarakat Indonesia. Karena nilai budaya yang ada saat ini, kita hamper tidak berhenti melihat ada kekerasan, kriminalitas dan konflik serta masyarakat stress. Kondisi ini, merupakan sebagian contoh atau sebagai cirri dari low touch.
Kecanggihan teknologi yang ada saat ini, pada dasarnya bukanlah bentuk nyata dari kecanggihan masyarakat kita. Karena posisi kita, masih banyak yang berada pada derajat konsumerisme. Aslinya dari masyarakat tipe ini, adalah masih lemah dalam teknologi dan kurang kompeten. Masyarakat pada tipe ini, masih beradap pada posisi masyarakat yang berteknologi rendah, tetapi konsumtif terhadap teknologi canggih. Saya ingin menyebutnya, masyarakat tipe ini masih tetap sebagai low tech

Sebagai penutup, sudah tentu, kita berharap, evolusi dan dialektika peradaban masyarakat dan bangsa kita ini, diharapkan mencapai derajat high-tech dengan high-touch. Di sinilah, terminalnya mimpi dari perjalanan peradaban manusia. Ke situlah, kita semua akan bermuara. Proses evolusi dan dialektika kehidupan ini, diharapkan akan menjadi bekal dan antaran kepada kita semua, untuk mewujudkan masyarakat canggih, baik dari sisi teknologi maupun moralitas dan spiritualitas. Namun demikian, untuk meraih posisi dan prestasi peradaban tersebut, sudah tentu membutuhkan adanya gerakan kolektif dari seluruh komponen bangsa, khususnya untuk mengembangkan kemodernan dengan kemasan kecerdasan spiritual/moral yang tinggi.

Advertisements