Kehadiran teknologi memang senantiasa bermata-dua. Ada sisi negative, dan ada pula yang bernilai positif. Ada yang bersifat membantu, dan ada pula yang bersifat menggantikannya. Ini adalah realitas-objektif dari fungsi teknologi dalam kehidupan manusia. Bahkan, ini merupakan salah satu implikasi praktis dari filsafat teknologi itu sendiri, yaitu membantu aktivitas manusia dalam mencapai tujuan dan kebutuhan manusia.

Hal yang menjadi sulit dipahami, dan atau kurang disepakatinya, adalah seberapa jauh peran dan posisi teknologi dalam kehidupan manusia. Apakah peran-peran teknologi itu, harus sampai pada mengganggu eksistensi manusia dan kemanusiaan ? inilah problema dasar dalam hubungannya teknologi dengan manusia.

Pada dasarnya, sudah cukup lama masalah ini menjadi pikiran manusia. Semenjak kuliah pun, saya sudah sempat diberikan peta persoalan hubungan antara manusia dengan teknologi. Adalah Armahedi Mahzar, filosof dari ITB yang mengenalkan evolusi hubungan manusia dengan teknologi. Awalnya, teknologi itu adalah ciptaan manusia untuk membantu sebagian aktivitas manusia. Cangkul dan pisau adalah contoh teknologi yang membantu kelancaran kegiatan manusia khususnya dalam kegiatan memotong. Namun, berikutnya, teknologi menjadi partner manusia yang tidak bisa dipisahkan dari manusia dan kemanusiaan. Jika tidak menggunakan teknologi, citra diri manusia terasa berkuran atau malahan hilang. Kehadiran kacamata, misalnya, barang ini menjadi identitas dan citra kewibawaan manusia. Begitu pula dengan adanya ponsel (telepon selular). Citra, harga diri, rasa percaya diri atau kebanggaan manusia terasa tidak lengkap bila tidak mengikutsertakan teknologi dalam kehidupannya. Pada tahapan ini, teknologi sudah menjadi setara dengan manusia dan kemanusiaan.
Gerak perubahan peran teknologi itu ternyata tidak berhenti. Dengan lahirnya teknologi informasi dan komunikasi, serta percepatan ilmu pengetahuan, sejak akhir millennium II, peran teknologi sudah bukan lagi setara dengan manusia dan kemanusiaan, bahkan melebihi kewibawaan manusia.

I

nilah tahapan yang mengkhawatirkan manusia pada umumnya. Walaupun, ada juga yang menganggap bahwa kekhawatiran itu tidak beralasan. Karena sampai kapanpun, manusia tetap diposisikan atau terposisikan sebagai subjek pembuat teknologi. Namun, suksesi kekuasaan itu, bukan hal yang mustahil terjadi. Suatu saat, kata kelompok yang optimis dengan kemampuan teknologi, akan memiliki kemampuan jauh diluar kemampuan manusia.

Untuk sekedar contoh, kecepatan berfikir computer dalam berhitung melebihi kemampuan umum manusia. Daya ingat dan kecepatan hitung computer, seakan (dan itulah yang banyak dirasakan) melebihi kemampuan manusia. Inilah yang saya sebut sebagai suksesi-eksistensial. Peristiwa ini terjadi, disaat teknologi mampu mencitrakan dirinya melebihi kemampuan dari si pembuatnya (baca : manusia).

Relasi teknologi dan manusia ini terus bersentuhan dengan berbagai kehidupan manusia. Bukan saja pada masalah peran-peran operasional, seperti memotong, mengangkut, berhitung, atau memindahkan barang, tetapi juga berkaitan dengan citra dan kewibawaan manusia dan kemanusiaan. Kondisi inilah, yang terus berkembang dan menjadi titik kekhawatiran manusia. Termasuk yang dirasakan oleh sahabat saya di MAN 2 Kota Bandung, Ustadz Iing Ahmad Nasrudin.
Pada saat memberikan Khutbah (4/02/2011) di Masjid Ianatuth Thalibin MAN 2 Kota Bandung, beliau memberikan sebuah gambaran mengenai melemahnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupan manusia. Kendatipun tidak bermaksud untuk membicarakan mengenai filsafat teknologi, namun dia sempat mengutip penjelasannya mengenai peran teknologi dalam kehidupan manusia.

Dalam bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan mengena, dia mengatakan kadang kita khilap, mengenai kebutuhan melakukan sesuatu untuk ibadah atau bukan. Bila kita tidak hati-hati, banyak teknologi modern di zaman ini malah mengurangi kesempatan kita untuk beribadah, daripada menambah kualitas peribadahan kita. Coba renungkan. Mengucapkan salam itu ibadah. Tetapi, dalam ajaran agama, yang termasuk dalam ibadah itu adalah mengucapkan salam secara lisan, dan bukan oleh bel. Sayangnya kita lupa atau tidak sadar bahwa lahan ibadah untuk mengucapkan salam, sudah direnggut atau dirampas oleh belsementara kita sendiri, terus mengalami penggerusan nilai-nilai spiritual oleh arus zaman yang terus mengalir.
Dari wacana inilah, sampailah pada pertanyaan dasar kita saat ini. Pilihan hidup kita ini, apakah akan menjadikan teknologi sebagai sesuatu yang diibadahi, atau menjadikan teknologi sebagai sarana dalam meningkatkan peribadahan ? dalam istilah lain, dalam hidup ini, apakah kita mengibadahi teknologi atau mengembangkan teknologi ibadah ?!!

Advertisements