Pertanyaan peserta didik tidak selamanya terungkap dalam bentuk kata-kata. Begitu pula pertanyaan masyarakat pada umumnya. Seorang guru tidak jauh berbeda dengan pemerintah. Dia memiliki kewajiban untuk membaca kebutuhan peserta didik (masyarakat), dan kemudian aspirasi (kebutuhan masyarakat) itu harus diapresiasi dan ditindak lanjuti. Guru yang baik adalah guru yang peka terhadap kebutuhan peserta didik. Sedangkan guru yang terbaik adalah guru yang mampu mewujudkan kebuutuhan dan/atau aspirasi peserta didik.

Dalam kaitan inilah, kita diingatkan kembali oleh Karl Popper (Bailey, 1995) bahwa seorang pendidik bukan untuk menjawab pertanyaan yang tidak diungkapkan siswa. Guru memiliki kewajiban moral untuk menjawab pertanyaan yang diajukan peserta didik. Kelemahan kita selama ini, adalah sering ditemukannya guru yang tidak peka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan atau dikemukakan peserta didiknya. Guru tidak mampu membaca dengan tepat pertanyaan yang ada dalam diri seorang peserta didik.

Kalau mendengarkan pertanyaan mungkin dia mampu. Mendengar pertanyaan itu mudah. Tetapi memahami substansi pertanyaannya membutuhkan kecermatan tersendiri dalam merumuskan substansi pertanyaan itu sendiri.
Misalnya saja, ada seorang siswa bertanya kepada gurunya, Pak, bagaimana cara belajar yang baik, kenapa saya ini kalau belajar tentang pelajaran Bapak sangat sulit untuk memahami materi ajarnya?.

Bagi guru yang tidak peka, dia akan menjelaskan mengenai cara-cara membaca, atau menulis, serta cara menyimak pelajaran yang disampaikan guru. Termasuk yang disampaikan oleh dirinya. Kemudian dia mengutip ke kanan dan ke kiri dengan maksud supaya peserta didik yang bertanya itu, mengetahui bahwa penjelasan yang dikemukakannya itu ilmiah dan didukung oleh banyak teori. Tidak lupa, guru ini pun menjelaskan mengenai beberapa cara belajar yang salah, bahkan sedikit menyinggung kemungkinan kelemahan si penanya itu sendiri dalam membaca. Penjelasannya itu, diantaranya adalah mungkin siswa tidak konsentrasi, mungkins siswa kurang aktif dalam mengikuti pelajaran, atau mungkin siswa kurang sungguh-sungguh dalam berlatih. Dalam analisis lainnya lagi. Hal yang pasti, dan dapat saya simpulkan, jawaban guru ini cenderung memosisikan pertanyaan siswa sebagai sebuah kelemahan siswa, dan hanya memahami makna-ketidakmampuan belajar siswa itu sebagai sebuah kelamahan siswa. Inilah kesimpulan yang dapat ditarik oleh sang guru tersebut.

Bagi kita di sini, khususnya saya, melihat ada makna pertanyaan yang tidak terbaca oleh si guru tersebut. Sehabat apapun analisis dan solusinya, tetapi tetap dia tidak mampu membaca substansi masalah yang dikemukakan peserta didik tersebut.
Kita harus jujur (fair), bahwa orang yang suka bertanya adalah orang yang memiliki minat dan kesungguhan belajar yang baik. Orang yang kritis dan suka bertanya adalah orang yang sadar akan perlunya pengetahuan dan adanya kebutuhan terhadap ilmu pengetahuan tersebut. Bila asumsi ini, benar maka, kejadian yang kita sebutkan di atas, pada dasarnya bukanlah mengenai kelamahan siswa dalam menyimak pelajaran tetapi lebih mengarah pada kelemahan guru dalam memberikan penjelasan.

Logikanya sederhana. Si penanya saja, yang kita asumsikan sebagai orang yang kritis dan aktif belajara, ternyata mengalami kesulitan dalam memahami penjelasan yang disampaikan guru, apalagi siswa yang lainnya ? oleh karena itu, pertanyaan tersebut, pada dasarnya lebnih mengarah pada makna mengapa Bapak/Ibu tidak menunjukkan cara mengajar yang efektif, biar saya dana teman-teman saya jauh lebih mudah memahami penjelasannya.

Makna penjelasan yang saya sampaikan ini, memiliki paradigm berbeda dengan penjelasan yang sebelumnya. Artinya, jika ada pertanyaan, mengapa saya sulit memahami pelajaran yang saya jalani ini? mengandung dua makna. Pertama, jika paradigm pemikiran kita senantiasa mengarah pada menyalahkan siswa, maka guru akan menjelaskan mengenai cara-cara belajar. Sedangkan, kedua, bila kita berorientasi pada diri sendiri, dan cermat berintrospeksi maka jawabannya adalah bagaimana dirinya (sebagai guru) mau mengubah gaya mengajarnya.

Cara menafsirkan pertanyaan yang berbeda, melahirkan respon yang berbeda. Dengan respon yang berbeda, akan berujung pada solusi yang berbeda. Itulah yang saya sebutkan bahwa kebanyakan kita selama ini, sebagai seorang guru, banyak mengalami ketidaktepatan dalam membaca arah pertanyaan siswa. Selama ini, kita seringkali hanya mengartikan kesulitan anak dalam belajar itu adalah benar-benar kesulitan anak, dan bukan kesalahan guru dalam mengajar. Sikap yang terakhir itu memang tidak adil. Sikap yang terakhir itu, cenderung menyalahkan siswa sebagai pihak yang lemah dan tidak memiliki kemampuan prima dalam memahami pelajaran. Menurut hemat saya, sikap seperti ini, adalah sikap guru yang tidak adil.
Untuk membangun pola interaksi pendidikan yang sehat dan positif, tampaknya perlu ada sikap adil dari seorang guru dalam memahami masalah pembelajaran itu. Artinya, masalah belajar itu, tidak boleh diartikan sebagai masalah belajar saja, tetapi juga harus diartikan sebagai masalah mengajarnya itu sendiri. Dengan pemahaman seperti ini, maka kita akan menemukan sebuah iklim pembelajaran yang jauh lebih sehat dan memberdayakan.

Saya ingin menyebut praktek ini sebagai praktek pembelajaran yang memberdayakan atau membebaskan. Karena dalam praktek ini, seorang guru benar-benar dituntut untuk mampu membaca kebutuhan belajar siswa dengan sebaik-baiknya, dan kemudian merumuskan solusi pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan minat bakat yang dimiliki siswa.
Di bagian lain, ikhtiar guru dalam membangun praktek pembelajaran yang memberdayakan itu, maka guru tersebut memiliki kebutuhan untuk menyusun perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan minat peserta didik. Di sinilah yang kita sebut, bahwa seorang guru itu harus mampu membaca aspirasi peserta didik.

Aspirasi peserta didik adalah kebutuhan hidupnya. Seorang peserta didik itu, memiliki potensi, memiliki kelamahan, dan juga memiliki asa atau harapan mengenai masa depan. Tautan antara persoalan-persoalan itulah, yang disebut sebagai petanyaan laten peserta didik yang harus dijawab oleh seorang guru. Tautan antara minat, tantangan dan kebutuhan zaman itu, melahirkan sesuatu yang harus disiapkan atau dimiliki oleh peserta didik. Kendati siswa itu tidak bertanya, tetapi itulah pertanyaan asasi peserta didik kepada para gurunya di kelas.
Berdasarkan pertimbangan ini, maka seorang guru memiliki kewajiban moral yang sangat luhur dihadapan peserta didik dan peradaban manusia. Karena guru, berkewajiban untuk memberikan bekal yang positif kepada peserta didiknya, sehingga dia bisa beradaptasi dengan perubahan zaman, dan mampu hidup eksis secara optimal. Peserta didik yang berkualitas, yaitu mereka yang sudah lulus dari lembaga pendidikannya, secara unggul dan kompetitif di masyarakat. Lahirnya mereka sekualitas itu, sudah tentu adalah adanya peran dari guru dalam menciptakan lingkungan belajar. Itulah yang saya maksudkan dengan belajar itu ternyata dalah upaya serius manusia dalam menjawab kebutuhan zaman, dalam rangka memaksimalkan eksistensi manusia dan kemanusiaannya.

Daftar Pustaka

Richard Bailey. 1995. Karl Popper as Educator. Interchange, Vol. 26/2, 185-191, @Kluwer. Academic Publishers. Printed in the Netherlands.

Advertisements