Bila posisi kita sebagai siswa, sering kita merasakan bahwa guru itu suka menjelaskan sesuatu yang tidak kita butuhkan. Perasaan itu, jarang kita ungkapkan. Karena kalau diungkapkan, khawatir ada komentar bahwa perasaan itu terjadi karena otak kita saja yang belum sampai pada pemikiran guru yang ada di depan kelas. Perasaan itu terjadi, bisa jadi karena kita saja yang malas menyimak dan merenungkan materi pelajaran. Karena, secara umum —-ini doktrin pendidikan di kita, guru sudah paham mengenai hakikat pelajaran dan manfaat materi pelajaran bagi manusia di masa depan. Dengan kata lain, dengan adanya doktrin tadi, seorang siswa dipaksa dan terpaksa harus rela menelan mentah-mentah materi yang diajarkan guru, seiring dengan memendam mentah-mentah perasaan yang berkecamuk dalam hatinya tersebut.
Pada sisi lain,

perasaan itu tetap saja tidak bisa dihilangkan. Maka, tidak mengherankan, bila dalam waktu-waktu bebas tertentu, dengan teman sekelas atau teman curhat, dimunculkannyalah perasaan tadi. Dalam kenyataannya, ternyata bukan hanya diri kita, teman kita yang lain pun, ada yang merasakan (untuk tidak menyebut kata banyak) hal yang serupa kita tadi. Mengapa guru itu sering menjelaskan apa yang tidak kita butuhkan, atau tidak kita tanyakan ?

Bisa jadi, ada banyak alasan yang menyebabkan terjadinya fenomena tersebut. Dan salah diantaranya, mungkin karena guru lebih mengutamakan kepentingan kurikulum daripada kebutuhan riil kita sebagai peserta didik. Guru lebih senang menyampaikan apa yang sudah ada dalam LKS (lembar kegiatan siswa), dari pada LKS (Lembaran Kebutuhan Siswa). Guru lebih disiplin menggunakan RPP guru (rencana pelaksanaan pembelajaran guru) daripada RPP siswa (Rencana Pemberdayaan Potensi siswa).

Sedangkan bila kita sebagai guru, kadang kita menyampaikan sesuatu yang dirasa kita sudah tahu materinya. Kita tidak berfikir atau kalau pun berfikir porsinya cukup sedikit untuk menyampaikan sesuatu yang belum diketahui. Selama ini, kita sebagai guru, lebih banyak menyampaikan apa yang dirasa perlu oleh diri sendiri, dan paham materi ajarnya. Sebagai guru, jarang kita memikirkan apa yang diinginkan anak, atau yang dibutuhkan oleh anak didik, dan kemudian kita harus menyiapkan jawabannya terhadap pertanyaan anak didik tersebut.

Dengan demikian, tidak mengherankan bila kemudian kita menemukan gaya mengajar guru yang relative konservatif. Karena pemahamannya yang itu-itu saja, maka jangan kaget bila guru tersebut menyampaikan materinya yang itu-itu lagi. Tidak maju dan tidak mundur. Tidak berkembang. Berputar-putar dalam materi yang diulang-ulang. Praktek seperti itu, menyebabkan kita jenuh mendengarkan uraiannya, dan atau malas mengerjakan tugas yang sering disampaikannya. Sebagai siswa, kita sering kelabakan, atas ulah guru tersebut. Kalau mengajar itu-itu saja, tetapi kalau ngasih tugas tak kepalang tanggung. Malah membuat kita stress dibuatnya. Masalah ini, sepertinya sederhana. Tetapi bila direnungkan dengan cermat, kita menemukan ada titik krusial mengenai filosofi pendidikan yang dianut oleh si pengajar tersebut.

Merenungkan hal-hal seperti ini, mengingatkan saya pada tulisan Richard Bailey (2005) tentang Karl Popper sebagai seorang guru. Sebagai seorang pengajar di Jurusan Pendidikan Guru di Christ Church College United Kingdom, Richard Bailey memaparkan pemikiran atau pandangan Karl Popper tentang pendidikan dan guru. Karl Popper, dikenal sebagai filosof atau pemikir ilmu social. Tetapi, Karl Popper pun menurut Bailey memiliki pemikiran yang cerdas mengenai pendidikan dan atau profesi keguruan.

Salah satu diantara pemikiran Karl Popper tersebut, yakni memosisikan proses pembelajaran itu sebagai upaya merangsang peserta didik supaya memahami diri dan kebutuhan dirinya. Peserta didik adalah makhluk utuh yang bisa berfikir dan memiliki potensi untuk berkembang dengan optimal. Kita tidak boleh mengartikan siswa sebagai objek pendidikan yang bisa dihitam-putihkan.

Terkait dengan hal ini, maka upaya guru itu adalah menciptakan lingkungan belajar, sehingga anak mengenali kebutuhan dirinya dan memahami potensi dirinya. Dalam rangka mendukung tujuan tersebut, maka upaya yang harus dilakukan guru adalah membangun tradisi pembelajaran yang mampu merangsang siswa untuk memahami diri dan mengenali kebutuhan serta menemukan solusi pemecahan masalahnya.

Setiap anak memiliki potensi dan memiliki kebutuhan hidup. Potensi dan kebutuhan hidup itu adalah pertanyaan laten yang harus dijawab oleh guru. Potensi dan kebutuhan hidup peserta didik adalah pekerjaan sekolah (lawan pekerjana rumah yang diberikan guru kepada siswa), yang harus dikerjakan guru. Pekerjaan sekolah itulah yang sejatinya harus dijadikan sebagai bahan pembelajaran dan tujuan dari proses pembelajaran.

Kehadiran pekerjaan sekolah ini, berdampak pada jiwa pembelajaran yang ditampilkan seorang guru. Dengan adanya pekerjaan sekolah ini, tugas pembelajaran itu adalah menjawab kebutuhan kebutuhan dan mengembangkan potensi siswa. Mari kita andaikan saja, bahwa kebutuhan dan potensi siswa itu adalah pertanyaan laten yang diajukan siswa kepada guru, dan guru harus menjawabnya. Oleh karena itu, tugas guru itu adalah menjawab pertanyaan yang diajukan siswa, dan bukan menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan oleh siswa. Karl Popper dalam Bailey, menggunakan kalimat unasked questions.
Kembali masalah pokok, kita dapat menemukan kelemahan gaya mengajar guru sekarang ini. kelemahan itu, adalah guru mengajarkan sesuatu yang tidak menjadi kebutuhan anak dan tidak sesuai dengan potensi anak. Kejadian seperti ini, mirip dengan guru menjawab pertanyaan yang tidak diajukan oleh anak, atau guru menerangkan sesuatu yang tidak (atau belum ) perlu diketahui anak didik. Akibat dari itu semua, materi pembelajaran dan tujuan pembelajaran menjadi kurang match dengan kebutuhan anak didik. Nasib selanjutnya yaitu materi pembelajaran dan atau praktek pendidikan belum menjadi modal hidup anak setelah lulus sekolah. Pengetahuan dalam dunia pendidikan belum menjadi sesuatu yang siap pakai.

Kesimpulan dari pemikiran ini, dan merenungkan pandangan dari Karl Popper (Bailey, 1995), tugas utama guru/dosen itu adalah merangsang peserta didik untuk mampu mengembangkan potensi diri. Inilah misi suci pendidikan, atau misi suci seorang guru. Oleh karena itu, proses pembelajaran itu bukan menyampaikan apa yang diketahui oleh guru, tetapi apa yang dibutuhkan siswa. Mengajar itu adalah menjawab apa yang ditanyakan siswa, dan bukan menjelaskan apa yang ingin disampaikan oleh guru.

Daftar Pustaka

Richard Bailey. 1995. Karl Popper as Educator. Interchange, Vol. 26/2, 185-191, @Kluwer. Academic Publishers. Printed in the Netherlands.

Advertisements