Dalam seminggu ini, saya sedang digandrungi oleh buku-buku yang elektronik (e-books). Bukan hanya buku umum, tetapi buku disiplin ilmu pun merangsangnya untuk ditengok. Tidak jarang, dalam satu atau dua jam online, terus menerus menngunduh buku-buku tersebut. Maniak-download. Itulah mungkin istilah yang dapat disematkannya.


Tidak aneh. Memang ini terjadi karena baru ketemu dan baru saat itu, mengenal 4hsared, mesin pencari dokumen elektronik. Sebelum-sebelumnya, tidak pernah mengases fasilitas elektronik itu. Oleh karena itu, bulan madu dengan mesin pencari tersebut, kemudian mengiringinya untuk terus berjalan-jalan ke berbagai belahan data, dan mengunduh sejumlah buku. Salah satu diantara sumber yang terakses itu, adalah fungctional skill support program, development skill in geografi yang dikembangkan oleh Departmen for Children, Schools and Families, kemudian BIS (departemen for Bussines Invention skill) serta LSIS (Learning and Skill Improvement Service) di Sherwood Park Annesley Nottingham Inggris.

Dalam buku panduan tersebut, dituturkan mengenai peran dan fungsi geografi menurut kurikulum Nasional, 2007. The study of geography stimulates an interest in and a sense of wonder about places. Geographical enquiry encourages questioning, investigation and critical thinking about issues affecting the world and peoples lives, now and in the future. Geography inspires pupils to become global citizens by exploring their own place in the world, their values and their responsibilities to other people, to the environment and to the sustainability of the planet. (The importance of Geography, National Curriculum, 2007). Geografi memfasilitas peserta didik untuk memahami tempat atau lokasi. Dengan pembelajaran geografi itu, peserta didik dikondisikan untuk mampu menggali dan berfikir kritis mengenai isu-isu kritis baik di dunia maupun di lingkungan kehdupannya, baik sekarang maupun masa depan. Melalui pembelajaran geografi, memberikan inspirasi kepada setiap peserta didiknya untuk menjadi warga Negara yang baik, dan memiliki kepekaan nilai serta tanggungjawaba terhadap lingkungan serta keberlanjutan planet bumi.

Peran, tujuan pembelajaran dan fungsi pendidikan geografi ini, sudah tentu merupakan sebuah visi yang membutuhkan adanya peran nyata dari setiap tenaga pendidik geografi dan atau geograf. Visi pendidikan geografi ini, tidak akan mudah dapat mewujud, bila tidak disertai dengan perangkat pembelajaran geografi yang se-nafas dengan visi tujuan pendidikan geografi itu sendiri. Pada konteks itulah, lembaga-lembaga tersebut diatas, merumuskan model program yang mendukung pada usaha pengembangan keterampilan fungsional (functional skills) dalam pelajaran geografi.

Tujuan utama dari pengembangan program ini, yaitu (a) memahami dan menerapkan disiplin ilmu, (b) memecahkan masalah yang ada di lingkungan, dan (c) mengkomunikasikan pengetahuan. Oleh karena itu, keterampilan fungsional yang dibutuhkan itu, menurut DCSF, BIS dan LSIS ada tiga ranah, yaitu (1) Functional English, (2) Functional Mathematic, dan (3) Functional ICT. Kontekstualisasi dalam kehidupan kita, di lingkungan satuan pendidikan di Indonesia ini, maka ketiga keterampilan fungsional itu, dapat diterjemahkan dalam tiga aspek dasar pembelajaran.

Pertama, keterampilan bahasa (language skill). Mau tidak mau, untuk pengembangan keterampilan hidup (life skills) setiap peserta didik dituntut untuk memiliki keterampilan bahasa, baik dalam pengertian untuk menggali informasi (baca) maupun untuk komunikasi. Geografi adalah mata pelajaran yang mengkaji mengenai keanekaragaman dan persamaan fenomena geografi. Dengan kata lain, ketika seseorang melakukan perjalanan ke luar daerah, maka kebutuhan pertama dan utamanya adalah keterampilan bahasa.

Sebagaimana yang saya alami saat ini. Bila kita tidak memiliki kemampuan bahasa, maka berbagai sumber yang ada di dunia maya sulit untuk dimanfaatkan. Berbagai informasi dan buku sumber, dapat dengan mudah ditemukan. Walaupun memang tidak seluruh buku sudah bisa diakses secara gratis. Tetapi, sejumlah bahan bacaan dapat dengan mudah didapatnya di dunia maya ini. Mereka yang memiliki kemampuan bahasa, setidaknya kemampuan membaca, maka banyak informasi yang bisa didapatkannya.

Kedua, keterampilan membaca dan menguasai data. Data-data bumi (geo information) itu menjadi penting, khususnya untuk kepentingan memahami realitas yang ditempati. Data-data ini, bisa berupa data statistic (matematika) maupun data kualitatif. Dengan adnaya data-data ini, diharapkan akan mampu memahami, menganalisis dan mengkonstruksi informasi sehingga menjadi sebuah informasi yang berguna dalam menentukan keputusan dan atau tindakan.

Terakhir, yaitu keterampilan teknis. Dalam pandangan DCSF, BIS dan LSIS, ditekankan mengenai pentingnya ICT (information and Communication Technology). Kita hidup di zaman teknologi. Penguasaan terhadap keterampilan ini menjadi sangat penting, bahkan bisa jadi menjadi kebutuhan sekunder (bila tidak menjadi primer sekalipun) bagi kehidupana manusia. Dalam setiap segi kehidupan kita, hamper tidak bisa dilepaskan dari sisi ICT. Dalam pembelajaran dan keterampilan geografi pun, kita memiliki fasilitas google earth, stellarium, dan software lainnya. Informasi buku sumber pun, dapat dengan mudah diakses di dunia elektronik ini. Untuk Indonesia saat ini sudah mulai mengembangkan e-book (BSE : buku sekolah elektronik).
Dalam pandangan kita, yang dimaksud dengan keterampilan teknis itu tidak selamanya ICT. Karena pada dasarnya, kebutuhan praktis manusia itu, tidak cukup dengan ICT. Akan tetapi, setiap manusia memiliki kebutuhan akan penguasaan keterampilan teknis yang sesuai dengan lingkungan masing-masing.

Tiga keterampilan ini, akan hadir sebagai sebuah keterampilan fungsional yang sangat praktis. Karena di setiap tempat, di berbagai titik di bumi ini, tiga keterampilan ini menjai sangat penting. Setiap manusia butuh kemampuan bahasa, tahun informasi dan memiliki keterampilan praktis untuk menyampaikannya. Itulah keterampilan fungsional yang perlu dikembangkan.
Sudah tentu, ada keterampilan-keterampilan fungsional yang sifatnya kontekstual sesuai dengan lingkungan geografi masing-masing. Sesuai dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), maka keterampilan teknis yang fungsional dari pembelajaran geografi itu, perlu diselaraskan dengan lingkungan sekolah dan kehidupan peserta didiknya sendiri.

Sebagai catatan, kebutuhan rumusan mengenai keterampilan fungsional dalam pembelajaran geografi itu, adalah (a) untuk menghindarkan diri dari pembelajaran geografi yang bersifat verballistik, hanya konsep dan kata, (b) menyelamatkan anak dari sekedar terkembangkannya keterampilan kognitif, dan (c) mendorong pembelajaran geografi menjadi sebuah ilmu praktis.

Saya jadi ingat, komentar Bambang Rudianto (2010) ketika mengisi DIKLAT Survey Terestrial di ITENAS Bandung, yang disampaikan dihadapan anggota MGMP Geografi Kota Bandung. Dalam pandangannya, geografi akan menjadi sebuah disiplin ilmu informative belaka, jika tidak diiringi oleh keterampilan teknis. Orang yang belajar geografi, hanya sekedar tahu mengenai data geografi, tetapi tidak bisa menggali dan atau menggunakannya (mengeksekusinya) menjadi sebuah keterampilan praktis yang bisa dimanfaatkan (langsung) bagi kehidupan manusia.

Pada konteks itulah, pengembangan keterampilan fungsional dalam pembelajaran geografi, akan menjai alternative dalam mengupayakan pembelajaran di sekolah menjadi sebuah pembelajaran praksis dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Hal ini pun, setidaknya akan menjadi bagian penting dalam mendukung misi pendidikan untuk membangun model pembelajaran yang mendorong life skills pada peserta didik.

Advertisements