Pernahkah kita melihat, merasakan, atau berfikir, mengenai posisi duduk anak-anak di dalam kelas ? mungkin sering kita rasakan, kendati tidak selalu ditindaklanjuti dengan penelitian tindakan kelas (PTK). Padahal, salah satu aspek yang bisa dikembangkan dalam PTK, yaitu pengelolaan kelas (classroom management), khususnya pengelolaan tempat duduk (seating arrangement style). Dengan kata lain, memaksimalkan proses pembelajaran dan hasil pembelajaran dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan strategi pengelolaan tata ruang kelas, atau tata-duduk peserta didik.


Pengalaman kita masa lalu, khususnya saya yang belajar di kampong, selain sudah bersifat tradisional, tempat duduk siswa tersebut dianggap paten-tetap dan tidak berubah. Untuk setahun lamanya, atau satu tahun akademik, kita berada pada meja dan kursi yang sama, dengan teman duduk yang sama pula. Kondisi ini, kadang kurang mendapat perhatian, dan atau malah tidak mendapat perhatian seksama dari para guru. Padahal, secara teoritik, tindakan seseorang di dalam ruang, merupakan bagian penting dari gambaran persepsi individu terhadap ruang itu sendiri. Perilaku manusia dalam ruang ini, dikaji dalam Geografi Perilaku (Abdurrahman, 1988).

Geografi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan (Baydil,2007 :8 dalam Cinar ). Geografi mempelajari perilaku manusia dalam lingkungannya. Sekolah atau kelas adalah bagian kecil dari lingkungan, atau malah prototype lingkungan, sedangkan siswa atau guru adalah human dalam lingkungan pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, sangat rasional bila telaahan mengenai pola perilaku siswa dalam ruang kelas, ditafsirkan sebagai bentuk perilaku-geografik dari siswa terhadap ruang-kelasnya itu sendiri.

Dalam catatan Cinar (2010), ada penelitian Pedersen (1994) yang mengkaji keterkaitan antara tempat duduk dengan aspek psikologi individu, kemudian Tatusek dan Staton-Spicer (1982) menemukan informasi bahwa siswa yang duduk di tengah, memiliki sikap yang lebih kreatif, assertif dan kompetitif dibandingkan mereka yang duduk di samping kanan atau kiri, sementara Pedersen (1977) dan Walberg (1969) mendapatkan informasi bahwa siswa yang memiliki gaya belajar yang baik, dan cenderung memiliki kesuksesan dalam belajar yang baik duduk di depan. Ini semua memberikan gambaran bahwa lokasi, atau tempat duduk yang lahir dari pola tata ruang tradisional memberikan informasi yang terkait dengan kecenderungan aktivitas psikologis dan intelektual peserta didik.

Ikram Cinar, dari Fakultas Pendidikan Universitas Kafkas Turki melakukan penelitian mengenai pengelolaan kelas, khususnya mengenai tempat duduk siswa. Penelitian ini, tidak sekedar melihat mengenai peta tempat duduk anak, tetapi melakukan kajian lebih dalam lagi, yaitu mengenai preferensi siswa, baik dalam konteks partisipasi belajar maupun dengan latar belakang siswa. Unit analisisnya yaitu kelas, dengan alat analisisnya menggunakan SSAT (The Scale for Student Arrangement in Traditional Classrooms). Adapun preferensi yang ditelitinya, yaitu aspek gender, lokasi, latar belakang keluarga (ibu dan ayah), pekerjaan dan jenis pekerjaannya.

Untuk sekedar informasi, yang dimaksud dengan kelas tradisional (traditional classrooms) yaitu (a) meja dan posisi guru berada pada titik pusat, misalnya ada di depan sebelah kanan ruang belajar, (b) meja duduk siswa, berbaris dan berbanjar ke belakang dengan jumlah variasi sesuai dengan luas ruang kelas dan atau jumlah kelas. Untuk jumlah meja dalam kelas Indonesia, rata-rata 4 x 5 meja (jumlah 20 meja dengan 40 kursi), untuk jumlah siswa antara 32-40 orang. Kemudian (c) posisi duduk siswa, semuanya menghadap ke papan tulis atau menghadap ke guru.

Kesimpulan kajiannya mengenai geografi-kelas, Ikram Cinar (2010) mengatakan bahwa siswa yang duduk di depan menunjukkan semangat belajar dan partisipasi belajar yang tinggi, sedangkan mereka yang duduk di belakang menunjukkan sikap yang sebaliknya. Kelompok perempuan, lebih banyak mengambil tempat duduk didepan, daripada di belakang. Kecuali mereka yang berasal dari kelompok berlatar belakang ekonomi rendah, dan atau dari desa. Kelompok siswa yang berasal dari Kota, berada di garis lebih depan dibandingkan dari kelompok desa.

Implikasi Praktis

Terkait dengan hal ini, perlu ditindaklanjuti dengan telaahan mengenai implikasi praktis dari penelitian geografi kelas (classroom geography). Studi ini, merupakan cabang khusus dari geografi pendidikan yang memperhatikan aspek interaksi antara manusia dengan lingkungan belajar, atau lingkungan pendidikan. Hasil penelitian geografi kelas ini, setidaknya dapat memberikan inspirasi bagi para pendidik, baik guru maupun dosen, untuk senantiasa memperhatikan aspek tata ruang kelas dan pengelolaan kelas.

Pertama, setiap guru perlu memperhatikan tata ruang kelas. Kesehatan dan keharmonisan tata ruang kelas, memberikan pengaruh psikologis terhadap setiap penghuninya. Sebuah ruangan yang tidak sehat, kotor, dan tidak rapih, potensial menjadikan tempat belajar itu sebagai tempat yang —meminjam istilah Yi-Fu Tuan, topophobia, yaitu tempat yang tidak menyenangkan, menakutkan atau membuat gerah seorang siswa belajar. Begitu pula sebaliknya, seorang siswa yang duduk di kelas yang nyaman, indah dan menyegarkan, akan menjadi bagian yang memotivasi dirinya untuk bisa betah belajar.

Kedua, rotasi dan migrasi tempat duduk, menjadi satu strategi pilihan dalam menata kedinamisan peserta duduk. Gerak adalah energy sehat untuk menyegarkan jiwa. Orang yang tidak bergerak, potensial akan menjadi kaku dan beku. Oleh karena itu, mendinamisir gerak intelektual dan emosional siswa, dapat dilakukan dengan mendinamisir kelas. Suasana baru, diharapkan dapat merangsang gerak jiwa dan intelektual siswa yang baru.

Ketiga, dalam membangun dan membangkitkan kesadaran yang merata, pola dan formasi tempat duduk, perlu dibangun secara lebih elegan. Dalam konteks itulah, kecerdasan seorang guru dalam menata ruang kelas, menjadi modal dalam menata ruang kelas. Formasi ruang kelas itu, bisa berbentuk U, O atau bentuk caf yaitu kelompok kecil untuk small group discussion (kelompok diskusi kecil).

Hal terpenting dari itu semua, saya hanya ingin mengatakan bahwa kesadaran ruang seorang guru, menjadi penting dalam membangun kebahagiaan ruang pada peserta dirik, sehingga mereka betah, nyaman, dan semangat belajar. Ketidakpekaan guru terhadap ruang kelas, akan menjadi penyebab awal tidak pekanya terhadap kebutuhan penataan ruang, dan pada akhirnya dampak itu akan menyebabkan anak tidak nyaman belajar di kelas, dan lebih nyaman tinggal di luar kelas, atau malah di WC sekalian.

Banyaknya indikasi siswa yang betah di luar kelas, bisa menjadi gambaran adanya topophobia, yaitu ketidakbetahan anak pada ruang-kelas, karena ruang kelas tidak menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Bisa jadi, penyebab topophobia itu tidak semata-mata karena masalah tempat duduknya saja, tetapi tata ruang kelas pun sangat perlu diperhatikan !

Rujukan :

inar, Ikram. 2010. CLASSROOM GEOGRAPHY: WHO SIT WHERE IN THE TRADITIONAL CLASSROOMS? SINIF COGRAFYASI: GELENEKSEL DERSL_KTE K_M, NEREDE OTURUR? Kafkas University, Faculty of Education. Kars, Turkey,. The Journal of International Social Research. Volume 3 / 10 Winter 2010

Abdurachman, Maman. 1988. Geografi Perilaku : Suatu Pengantar Studi Tentang Persepsi Lingkungan. Dirjen DIKTI. PPLPTK : Jakarta.

Advertisements