Dalam rangka merenungkan proses pendidikan di negeri kita, studi banding itu memang perlu. Studi banding ke Negara lain. Tetapi, di zaman modern seperti ini, studi banding itu tidak mesti dilakukan seperti halnya para pejabat Negara, atau pejabat pendidikan di negeri ini. Mereka membuat anggaran besar, dengan nama studi banding untuk kemudian isinya adalah jalan-jalan ke luar negeri. Namanya studi banding, padahal yang ada adalah studi shopping.

Studi banding di era teknologi canggih seperti saat ini mah, bisa langsung clik, langsung terjadi. Seperti yang baru saja kita lakukan. Tanpa sengaja, sesaat ketika mencari kurikulum pendidikan geografi, rencananya sih untuk mencari kurikulum pokok geografi dan atau kompetensi dasar geografi. Namun yang terbuka malah kurikulum geografi di Finlandia.

Walaupun dalam bentuk presentasi, yaitu Hannele Cantell, Ph.D., namun paparannya tersebut memberikan informasi pengantar mengenai apa dan bagaimana pembelajaran geografi-in-finlandia. Cantel yang menjadi Dosen Pendidikan Geografi dan Biologi di Jurusan Pendidikan Ilmu Terapan University Helsinki, menegaskan bahwa geografi merupakan materi pembelajaran yang disampaikan kepada peserta didik mulai dari pendidikan dasar. Di tingkat pendidikan dasar, yaitu tingkat 1-4, diberikan mengenai pendidikan lingkungan hidup, 5-6, pendidikan geografi dan biology, dan 7-9 pendidikan geografi spesialis (tidak terpadu).

Khusus untuk kualifikasi guru geografi itu sendiri, dia harus belajar geografi selama 3 tahun, kemudian belajar biologi (atau pelajaran lainnya) 1 tahun, dan belajar pedagogic selama satu tahun. Dalam pandangan Cantel, guru geografi itu setidaknya harus memiliki penguasaan ilmu geografi dan biologi secara cukup, sehingga bisa menjadi guru geografi yang berkualitas.

Adapun standar ketuntasannya, pembelajaran geografi mencakup pada tiga kemampuan dasar, yaitu penguasaan konsep atau pengetahuan geografi, penguasaan keterampilan proses, dan penguasaan serta keterampilan kontekstual. Bagi negeri kita, keterampilan kontekstual ini, kiranya baru dikembangkan dalam tahun-tahun terakhir, sesaat kita mengenal model pembelajaran kontekstual (contextual learning).

Adapun elemen dasar pendidikan geografi di Finlandia, mencakup lima unsur, yaitu, Pertama, perilaku (behaviorism), yaitu untuk mengetahui apa dan bagaimana konsep atau pengetahuan geografi baik geografi fisik maupun budaya, Kedua, eksperimen (empirism), yaitu untuk penguatan keterampilan geografi. Ketiga, pengalaman (humanism), yaitu bagaimana mengembangkan kesadaran diri dan kesadaran hidup di dunia. Keempat, keterampilan berfikir (conctructivism), yaitu bagaimana menyusun informasi dan pengetahuan menjadi sebuah pengetahuan utuh (ideal). Dan terakhir, yaitu kemampuan mentransfernya ke dalam situasi atau konteks yang berbeda (contextualism).

Sumber : Recent Change In Geography Education in Finlandia. Hannele Cantell, Ph.D.

Advertisements