syariat adalah langkah untuk mencapai derajat hakikat. Karena kesadaran inilah, Syeikh Yusuf tampil bukan saja sebagai pejuang nilai-nilai spiritual, tetapi sebagai pejuang, pembela masyarakat, dan kemerdekaan.

Pagi itu. Sahabatku, menawarkan sebuah sejumlah buku untuk dijualbelikan. Saya sendiri, dihari itu atau dipagi itu tidak berniat untuk membeli buku. Namun, diantara buku itu, terdapat salah satu buku berjudul Syeikh Yusuf Al Taj Al-Makasari Menyingkat Intisari segala Rahasia. Buku ini, menarik daripada buku-buku yang lainnya, karena selain berisikan sebuah naskah dan dokumen nusantara, juga mengulas tentang salah seorang yang memiliki nama baik di Indonesia. Syeikh Yusuf (1626-1699), telah ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 1995. Seorang tokoh pejuang, dan juga ulama abad 17, telah mendapat tempat yang tepat dihati bangsa dan Negara ini, bahkan di tengah-tengah masyarakat Afrika Selatan serta Sri Langka. Karena alasan itulah, buku yang satu ini kubelli juga.

Buku karangan Nabila Lubis ini (1996/2006), memberikan informasi kepada kita mengenai pandangan khas seorang sufi Nusantara, yang juga turut berjuang dalam membela bangsa dan Negara. Dengan tersajikannya buku ini ke masyarakat, setidaknya memberikan data tambahan, bahwa gerakan sufistik di Indonesia senantiasa berinteraksi dengan masalah social kemasyarakatan. Syeikh Yusuf, bukan saja gemar memberikan pendidikan dan pencerahan spiritual kepada masyarakat, tetapi juga tetap memberikan pendidikan politik kepada masyarakatnya.

Medan juang yang dijalaninya, mulai dari kampong halamannya Goa-Tallo Sulawesi Selatan, kemudian Banten, Tasikmalaya dan juga di daerah pengasingan yaitu di Sri Langka dan Tanjung Harapan Afrika Selatan. Kegigihan serta luasnya wilayah perjuangan Beliau, telah menjadi bukti nyata bahwa kecerdasan spiritualnya, tetap berpadu dengan kepekaan dan kepeduliannya kepada masalah social politik di masyarakat sekitar. Hingga, tokoh sekaliber Nelson Mandela pun (Lubis, 1996/2006:21) memberikan apresiasi yang positif, dan mendapat inspirasi kejuangan dari kegigihannya Syeikh Yusuf dalam membela kaum tertindas. Itulah, tokoh social kemasyarakatan yang memiliki kepekaan global, yaitu kepekaan kemanusiaan, dan terus berjuang untuk membangun martabat manusia yang merdeka secara spiritual dan social politik.

Entah karena propaganda Belanda atau Orde Baru, sebagian diantara masyarakat Islam dan atau tokoh Islam, seolah tengah berusaha untuk memisahkan masalah agama dengan masalah social politik. Beragama itu seolah beda kapling dengan ruang politik. Beribadah itu seolah tidak ada kaitannya dengan masalah kehidupan di masyarakat. Sehingga pada ujungnya, yang muncul itu bukan kecerdasan spiritual yang bernilai luhur, malah menjadikan dirinya sebagai masyarakat yang permisif (cuek, dan tidak peduli) pada lingkungan sekitar.

Lahirnya pribadi agung, sebagaimana yang ditunjukkan Syeikh Yusuf, kiranya lahir dari sebuah kesadaran yang erat kaitannya dengan prinsip hidup beragamanya itu sendiri. Dalam pandangan Syeikh Yusuf, syariat adalah langkah untuk mencapai derajat hakikat. Karena kesadaran inilah, Syeikh Yusuf tampil bukan saja sebagai pejuang nilai-nilai spiritual, tetapi sebagai pejuang, pembela masyarakat, dan kemerdekaan.

Dari pelajaran itulah, muncul pertanyaan, di saat mereka sudah bisa menuliskan sejarah hidupnya dengan masyarakat dan peradaban manusia dengan tinta mas, dimanakah posisi kita saat ini ?

Advertisements