Dalam perut bumi, di kedalaman tersebut terdapat banyak batu mulia. Selain batu bara, ada emas dan intan, serta batu mulia lainnya. Namun, sadarkan diri kita, bahwa semua benda-benda berharga itu, bermanfaat dan berguna bagi kehidupan manusia ? jawabannya, sudah tentu, belum. Karena sesungguhnya, nilai kegunaan benda-benda berharga itu, ternilai setelah benda itu digunakan, dan bermanfaat bagi kehidupan. Sepanjang dia tidak digali, dieksplorasi, dikemas, direkayasa, digunakan, dan ditebarkan dalam kehidupan ini, maka benda-benda itu memiliki nasib yang sama, layaknya batu-batu yang lainnya. Itulah kenyataan hidup.

Dalam tubuh manusia pun, ada permata dan benda mulia yang sangat berharga. Bila benda itu, dibiarkan apa adanya, maka dia tidak akan berharga, sedangkan bila dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka benda itu akan memiliki nilai kemuliaan yang tinggi. Benda yang saya maksudkan itu, adalah hati nurani.

Hati nurani manusia, adalah pusat kemuliaan manusia. Bila nurani ini digali, dikembangkan, dan ditebarkan kepada sesama, dan dijadikan energy dalam bergaul dan bermasyarakat, dia akan menjadi energy besar dalam membangun peradaban dan kemuliaan. Saya setuju dengan Ali Syariati, (2008), ketika dia mengatakan bahwa modal kemuliaan manusia itu adalah kearifan dan cinta. Dengan kearifan seseorang bisa meraih wawasan yang luas dan mendalam, dengan cinta mampu mendapatkan makna hidup yang sesungguhnya. Pada bagian inilah, hati nurani adalah aspek cinta manusia yang butuh dan perlu dikembangkan di kehidupan ini.

Kita semua paham. Sejak akhir 2004, negeri kita kerap kali ditimpa bencana alam. Mulai tsunami Aceh, hingga saat ini, gempa dan gunung meletus, seakan tidak pernah bosannya menghampiri negeri kita. Dan akibat dari bencana itu juga, korban bencana alam ini sudah banyak kita rasakan. Korban jiwa, sudah tak terhitung jumlahnya. Saudara kita yang tinggal di pengungsian, bukan saja kehilangan barang, rumah dan sanak saudara, juga mereka hampir-hampir kehilangan masa depannya.

Di bagian inilah, peran kita, sebagai sesama saudara sebangsa dan setanah air, menjadi sangat penting. Saya mengajak, kepada setiap diantara kita yang hadir, mari ulurkan tangan, dan tunjukkan kiprah kita, dalam membantu orang lain. Karena dalam pemahaman kita, kemuliaan manusia itu terletak pada kemampuan kita dalam memberikan manfata kepada orang lain.

Tindakan memberikan bantuan kepada sesama, merupakan bentuk nyata, usaha kita dalam mengembangkan nilai dan manfaat dari benda mulia yang kita miliki. Dengan menunjukkan kepekaan, kepedulian, dan tindakan nyata itu, adalah bentuk lain dari mengemas butiran emas dalam perut bumi, menjadi aneka perhiasan hidup, baik cincin, kalung, atau perhiasan lainnya.

Ketidakpekaan kita, dan matinya nurani, menyebabkan banyak masalah social politik di negeri terus terjadi. Korupsi, kolusi, dan juga kriminalitas lainnya. Kebijakan Negara yang tidak berpihak pada rakyat, dan rakyat yang terus-terus menjadi penderita dan objek kekuasaan, merupakan bentuk-bentuk lain, dari alpanya nurani dalam jiwa sebagian warga Negara kita. Kepapaan yang terjadi di sebelah rumah kita, atau sebagian daerah di negeri ini, adalah contoh tambahan mengenai matinya nurani para penguasa terhadap rakyatnya sendiri. Padahal kita, tahu, kemuliaan pejabat Negara itu adalah terletak pada kepekaan, kepedulian dan tanggungjawabnya terhadap rakyat. Semakin besar kepedulian pejabat pada rakyat, semakin tingga kecintaan rakyat kepadanya.

Terkait hal inilah, Rasulullah Muhammad Saw, bersabda sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang memuliakan orang lain (khairunnas anfauhum linnas). Ini menunjukkan bahwa Islam, sangat memberikan penekanan kepada ummatnya, bahwa untuk menjadi mulia itu, bukan dengan cara memuliakan diri sendiri, melainkan dengan cara memuliakan orang lain. Semakin banyak orang memuliakan orang lain, semakin tinggi nilai kemuliaannya dihadapan manusia dan dihadapan Allah Swt. Semakin banyak dia memuliakan dirinya sendiri, dia akan akan semakin dikucilkan oleh orang lain.

Memuliakan orang lain itu, pada dasarnya adalah memuliakan diri kita. Dengan memberikan manfaat keindahan dan pesona kepada pemakainya, sebenarnya nilai intan dan emas itu semakin tinggi. Kemilau emasnya semakin menjulang, pemakainya semakin tinggi dihargainya. Itulah hubungan saling memanfaatkan, dan saling memancarkan keindahan antar duabelah pihak. Oleh karena itu, menjadi relawan, pada dasarnya adalah memberikan manfaat dan kemuliaan kepada orang lain, sekaligus memuliakan dirinya sendiri.

Mengabdi pada sesama, itupun adalah bentuk dari pengorbanan dan kepahlawanan. Menjadi relawan itu adalah bentuk lain, dari usaha kita membagi kebahagiaan kepada sesama, dan mengurangi penderitaan sahabat kita.

Kita semua paham, membagi kebahagiaan itu, tidak akan mengurangi kebahagiaan, malah akan meningkatkan kualitas kebahagiaan, sedangkan membagi penderitaan bisa menyebabkan berkurangnya kualitas penderitaan.
Seorang yang sedang ulang tahun. Dia akan merasa tersiksa, dan menderita. Bila kebahagiaan ulang tahun dirinya, hanya dirayakan oleh dirinya sendiri, di kamar pribadinyanya. Itu adalah penderitaan yang sangat menyakitkan. Ketika tidak ada yang menyapanya, atau mengucapkan selamat ulang tahun padanya, penderitaan itu akan semakin kuat. Begitu pula sebaliknya, kendati harus berkorban banyak hal, dia akan merasa bahagia, jika dapat berbahagia dengan sesama kawan, karib kerabatnya untuk merayakan hari ulang tahunnya. Di ulang tahun itulah, dia bahagia, dan teman-temannya pun turut berbahagia. Itulah hukum hidup, membagi kebahagiaan itu, tidak akan mengurangi kebahagiaan, malah akan meningkatkan kualitas kebahagiaan.

Kemudian bila kita memiliki masalah, nangis, dan curhat dengan sesama, dan atau ada teman berbicara, kendati belum menyelasaikan masalah yang dihadapai, tetapi beban masalah itu, semakin ringan dirasakan. Posisi sahabat, orang tua, guru, therapis, psikolog atau siapapun, yang diajak curhat, semakin penting dalam meringankan beban. Dengan curhat, pada dasarnya kita tengah berusaha membagi penderitaan. Tetapi, hukum hidup itu, berwujud, membagi penderitaan bisa menyebabkan berkurangnya kualitas penderitaan. .
Sebagai penutup, saya ingin tegaskan bahwa menjadi relawan, dan atau memberikan manfaat kepada sesama merupakan bentuk nyata dalam membangun kemuliaan diri kita. Semakin banyak kita memberikan kemuliaan kepada orang lain, semakin banyak pula orang lain mengangkat derajat diri kita.

Oleh karena itu, maksimalkan diri kita, dalam memainkan peran sebagai anggota SMS (Santri Madrasah Siaga) MAN 2 Kota Bandung. Karena, inilah tempat dan peluang untuk kita, menjadikan diri kita sebagai santri yang bisa memuliakan orang lain, dan mengangkat derajat kemuliaan diri kita sendiri. Setidaknya, kita berharap, anak-anak di madrasah ini, sudah siap untuk mengabdi kepada masyarakat sekitarnya, minimalnya di madrasah ini. Semoga !

Rujukan Pemikiran

Selain terilhami oleh pemikiran dan pola pikirnya Mario Teguh, wacana ini, merujuk pula pada :
Ali Syariati. 2008. Fatimah : The Greates Woman in Islamic History. Terjemahan Yulianti Liputo. Tahira : Jakarta.

Azim Jamal. 2008. Diary of Happiness. Terjemahan Hanif. Mizan : Bandung.

*materi disampaikan dalam DIKLATSAR Rescue-MAN, 27 November 2010.

Advertisements