Dalam konteks ini, ada perkembangan proses pembelajaran yang terus terjadi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam konteks pembelajaran geografi. Setidaknya, kita melihat ada lima tahapan penting dalam proses pembelajaran ini.

Pertama, menjadikan manusia berpengetahuan. Dengan belajar, seseorang bisa tahu mengenai materi ajar, seperti pelajaran sejarah, fisika, kimia, matenatika dan atau pelajaran geografi. Indikator dari tahapan ini, sangat jelas, lebih ke arah kognitif, yaitu dari tidah tahu menjadi tahu mengenai sesuatu. Perubahan yang terjadi, lebih mengarah pada perubahan kompetensi intelektual (kognisi).

Dalam penguatan kompetensi atau keterampilan intelektual (intellectual skill) ini, proses pembelajaran lebih mengarah pada transfer pengetahuan atau pemahaman (knowledge and understanding) dengan berbagai hal terkait geografi. Pengukuran pembelajarannya, sebagaimana dikemukakan tadi, mengarah pada keterampilan intelektual atau aspek kognitif.

Seorang guru (pendidik), sangat berkepentingan untuk memberikan informasi mengenai konsep, prinsip dan atau materi inti kegeografian. Di kelas, misalnya, peserta didik (pembelajar) dikondisikan untuk memahami mengenai fenomena keragaman alam, proses perubahan bentuk alam, distribusi fenomena alam, dan interaksi antara manusia dengan alam, serta pewilayahan.

Semua itu, merupakan contoh kecil dari keterampilan intelektual yang perlu disampaikan kepada peserta didik. Sehingga pada akhirnya, peserta didik memiliki pengetahuan dan atau pemahaman terkait dengan fenomena geosfera.

Kedua, pembelajaran bertujuan untuk mengubah pengetahuan menjadi keterampilan. Peserta didik, tidak sekedar diajari untuk mengetahui geografi, tetapi mengarah pada usaha memberikan keterampilan-keterampilan praktis (the practical skill) yang bisa digunakan dalam kehidupannya.

Dalam kurikulum pendidikan nasional, pada tahun 2001/2002, sudah diluncurkan mengenai KBK (kurikulum berbasis kompetensi). Filsafat dari KBK (competency-based curriculum) ini, pada dasarnya dalam pandangan saya, merupakan bentuk nyata dari pergeseran maksud pembelajaran di Indonesia, yaitu dari sekedar tahu ke kompeten, atau berketerampilan praktis.

Inti masalah dalam kompetensi ini, yaitu adanya kebutuhan aktual dari setiap peserta didik untuk menunjukkan keterampilan nyata dari proses pembelajaran tersebut. Misalnya, para peserta didik mampu membuat peta atau sistem informasi geografi terkait satu fenomena alam, peserta didik memiliki kemampuan untuk menyusun analisis kewilayahan mengenai distribusi sumberdaya alam di Indonesia, atau peserta didik mampu mengkomunikasikan ide dan penilaiannya mengenai kondisi lingkungan kepada pihak lain. kunci hasil pembelajarannya, yaitu pembelajaran tahap ini, bukan sekedar TAHU, tetapi BISA melakukan sesuatu.

Ketiga, pembelajaran bertujuan untuk mengubah dari terampil ke produktif. Tidak terjadi pembelajaran, jika sekedar bisa mengulang sesuatu yang sudah ada. Pembelajaran itu berhasil, jika peserta didik mampu mengembangkan keterampilan yang dimilikinya menjadi sesuatu yang produktif.

Dari perspektif ekonomi, produktif itu adalah menghasilkan barang atau jasa. Dari sisi sosiologi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Anthony Giddens, yaitu mengolah ulang sehingga mampu menjadi sesuatu yang bernilai praktis. Pengetahuan apapun, tidak akan menjadi sesuatu yang bernilai, jika tidak diproduksi ulang (reproduksi) sebagai alat hidup, dan atau media komunikasi dan interaksi.

Perbedaan dasar antara tahapan pembelajaran dua dan tiga, yaitu pada konsistensi. Terampil dalam pengertian kedua tadi, yaitu BISA. Sedangkan, produktif itu, adalah keterampilan (bisa) secara konsisten, dan bisa diulang untuk waktu dan frekuensi yang tinggi.

Pada saat di kelas, seorang peserta didik mungkin bisa membuat peta. Tetapi, yang disebut produktif itu, adalah kemampuan membuat petanya tersebut, dapat berlanjut dalam konteks kehidupan sehari-hari di rumahnya. Misalnya ketika dia ingin membuat kamar pribadi, membuat rumah, atau membuat taman rumah, ternyata dia mampu membuat konsep pemetaannya secara tepat dan praktis. Itulah yang dikategorikan sebagai kompetensi produktif.

Keempat, pembelajaran adalah mengubah produktivitas menjadi modal hidup. Apapun yang dimiliki dan dilakukan manusia, ditujukan untuk menjadi modal hidup. Pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia adalah modal hidup. Oleh karena itu, tujuan dari pembelajaran geografi, pada dasarnya bukanlah BISA geografi, tetapi BISA HIDUP dari, dengan dan untuk Geografi.

Pada bagian ini, keterampilan geografi tidak lagi sekedar menjadi modal untuk mendapatkan nilai akademik. Pengetahuan dan keterampilan geografi, telah menjadi bagian penting dari kehidupannya, dan bahkan menjadikan modal hidupnya sendiri. Geografi dan paradigma geografi, telah menjadi satu kekuatan (modal ilmu) yang memberikan dorongan dan cara mengisi hidupnya. Di sinilah, peran geografi sudah memasuki tahapan penting dalam kehidupan manusia, yaitu menjadi pandangan hidup-nya sendiri.
Meminjam istilah politik, orang yang sudah sampai pada tahapan ini, adalah dia bisa belajar dari geografi, dengan geografi, dan hidup untuk geografi.

Belajar dari geografi, artinya mendapatkan sejumlah informasi dan keterampilan mengenai geografi. Belajara dengan geografi, artinya proses hidupnya senantiasa menggeograf, dan seluruh aktivitasnya pun didedikasikan untuk kepentingan pengembangan geografi dan atau pembelajaran geografi. Itulah potret umum mengenai geografi sebagai sebuah modal hidup.

Terakhir, ini adalah tujuan akhir dari pembelajaran yaitu mengantarkan peserta didik untuk bisa hidup bermakna. Dengan kata lain, tujuan pembelajaran, apapun materi pembelajarannya, diarahkan untuk mencapai tujuan hidup bermakna.

Pada saat seseorang bisa hidup dari, dengan dan untuk geografi (form, with, and for geography), ada dua kemungkinan dasar yang terjadi pada aras psikologis kehidupan manusia. Satu sisi, dia mendapatkan kenyamanan hidup dengan lingkungan, dan pada sisi ada konflik dengan lingkungan.

Pada tahapan ini, tujuan pembelajaran yaitu untuk mengantarkan peserta didik bisa mencapai derajat hidup bermakna. Dengan belajar geografi, bukan menjadikan peserta didik menjadi eksploitator lingkungan, yang kemudian menjadikan lingkungan rusak dan merusak kehidupan manusia, tetapi harus menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan kehidupan.

Manusia (peserta didik) yang dapat berinteraksi dengan lingkungan secara harmonis, akan mendapatkan kenyamanan hidup, sedangkan bila tidak mampu mewujudkan keharmonisan dengan lingkungan, kita sebut sebagai adanya konflik-lingkungan.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa manusia hadir di dunia ini adalah memasuki lingkungan yang baru. Begitu pula, jika manusia melakukan migrasi antar satu tempat ke tempat lain. Perpindahan lokasi itu, memberikan peluang akan bertemunya dengan lingkungan baru, yang menuntut manusia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Pembelajaran geografi adalah memberikan fasilitas dan bantuan kepada manusia (peserta didik) untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, dimanapun dia berada. Proses penyesuaiannya itu, diarahkan untuk menciptakan keseimbangan baru, dan atau keharmonisan interaksi antara manusia dengan lingkungannya, sehingga manusia dan lingkungan dapat berdaya secara maksimal.

Advertisements