Setiap aktivitas manusia memiliki konteks. Pada konteks itu, terdapat ruang dan waktu.
Makna terhadap ruang dan waktu, memberikan pengaruh nyata terhadap makna
kontekstual. Kegagalan kita memahami konteks, sama dengan kegagalan kita dalam
memahami peristiwa tersebut. Terkait dengan wacana itulah, makalah ini bertujuan
untuk menjelaskan dinamika transfungsi-ruang, sebagaimana yang terjadi pada saat ini.
Dalam wacana ini, fungsi ruang yang dijadikan fokus analisis yaitu ruang publik
terbatas (conditioned public space), yang kemudian dipadukan dengan makna waktu
(publik, pribadi dan suci). Perpaduan antara dua aspek itulah, kemudian melahirkan
adanya variasi fungsi ruang, yang tumbuh kembang di masyarakat modern.

perubahan dan pergeseran fungsi ruang, menyebabkan lahirnya perubahan makna dan juga konflik sosial budaya baru. Terkait dengan hal ini, untuk memahami dinamika itu, diperlukan ada pemahaman lain mengenai bagaimana fungsi ruang itu menggejala dalam kehidpuan kita saat ini.

Ranah Diskusi

Analisis ini membawa kita pada satu fakta, bahwa sudah ada gejala transformasi ruang, atau transfungsi ruang. Kejadian ini, merupakan fenomena geografis yang perlu disikapi dengan bijak. Karena pada satu sisi, transfungsi ruang adalah satu kebutuhan sosial masyarakat modern, namun pada sisi lain potensial melahirkan adanya kekerasan makna ruang.

Tanpa bermaksud untuk menilai buruk terhadap niat Menkokesra (Agung Laksono) yang ingin melakukan kajian intensif terhadap penyebab terjadinya longsoran tanah di Pasir jambu, Ciwidey (27/02/2010). Bila dilihat setting sosia dan setting alamnya, kita bisa menemukan bahwa di kawasan itu ada pengelola kebun teh, ada pemetik teh, ada bukit, dan ada interaksi antar pihak terkait. Kemudian musibah longsor terjadi.

Dalam pemahaman umum, setiap peristiwa harus ada penanggungjawabnya, tetapi ketika ada bencana longsor (seperti di Ciwidey Bandung) itu, patutkah kita mencari oknum orang (pihak) yang bisa dipersalahkan ? patutkah kita mencari dan meminta pertanggungjawaban kepada pihak tertentu ?

Sikap dari Menkokesra itu, bisa kita anggap sebagai bentuk reaktif terhadap peristiwa alam. Namun, memaksakan makna peristiwa, tanpa memahami ruang-waktu, maka usaha mencari pihak yang bersalah dari sebuah bencana alam, hanya akan menjadi sia-sia. Hal ini, lebih disebabkan karena ruang-waktunya yang sesungguhnya tidak boleh dicabut dari peristiwa itu sendiri. Di sinilah, yang kita sebut bahwa memaksakan makna, dan perselingkuhan ruang, potensial menjadi penyebab awal kita bersikap keliru terhadap peristiwa sosial atau peristiwa alam. Dalam kaitan inilah, saya khawatir kita harus menyebut bahwa mempelai perempuan sedang sedih, karena dia mencucurkan air mata !

Penutup

Dengan memahami makna ruangwaktu ini, kita akan diajak untuk cermat dan cerdas dalam memahami fenomena sosial atau fenomena alam. Pada satu sisi, kita dituntut untuk cerdas dalam memahami makna ruang, dan pada sisi lain, kita pun tidak boleh memaksakan makna ruang, dan atau mengeksploitasi ruang waktu.

Advertisements