Dalam masjid itu, saya bertemu dengan seorang alumni dari sebuah lembaga pendidikan. Dia dikenal sebagai siswa kreatif. Kendati anak ini dari kelas eksakta, namun sangat gandrung terhadap dunia music, khususnya music-musik islami. Hasrat, minat dan bakatnya ini unik. Di saat kalangan muda bangsa ini, sangat gandrung pada aliran music modern yang cenderung ngepop atau ngerock, dia malah menggandrungi aliran music yang jarang digandrungi anak remaja.
bagaimana sekarang, masih suka nyanyi ? tanyaku padanya. Mendengar pertanyaan ini, senyumnya merekah. Karena saya melihat senyumannya merekah dan penuh ekspresi, pikiranku saat itu langsung memberikan jawaban tebakan awal, bahwa anak-muda ini, masih memiliki semangat yang kuat pada bakatnya tersebut.


insya Allah masih. Malah, sekarang lagi ada tawaran untuk manggung. Namun, kami segroup, belum bisa maksimal lagi berlatih atau merilis album baru jawabanya. Jawaban ini cukup memberikan jawaban bagi pertanyaanku itu. Saya tahu, sewaktu di sekolahnya dulu, kelompok group musiknya pernah mengeluarkan album. Kendati belum menjadi album komersil, namun dengan launchingnya album tersebut, telah membuatnya memiliki jalan hidup yang jauh lebih terbuka dari sebelumnya.

Sukses hidup memang bukan hadiah. Itulah penghayatannya selama ini. Hidup sukses adalah sebuah proses usaha manusia yang berkelanjutan. Tidak ada kisah, bahwa kesuksesan itu lahir dari sebuah hadiah. Andaipun ada yang menganggapnya demikian, mungkin yang dimaksudkannya itu bukanlah sukses itu sendiri. Tetapi hadiah itu sendiri. Karena pada dasarnya, sukses itu lebih besar maknanya dari hadiah itu sendiri.

Anda mendapatkan hadiah tropy juara 1 dalam sebuah perlombaan. Hadiah itu, bisa dianggap sebagai sebuah kesuksesan. Tetapi, sebenarnya itu bukanlah kesuksesan. Barang yang diterima kita itu, adalah hadiah dan bukan kesuksesan yang dimaksudkannya. Karena hadiahnya itu hanya hadir satu kali, dan setelah itu tidak ada lagi maknanya, kecuali tinggal kisah (cerita atau dongeng). Sedangkan sukses dan kesuksesan, adalah proses itu sendiri. Oleh karena itu, hadiah hanya symbol kesuksesan sesaat. Dan kesuksesan jauh lebih bermakna dari hadiah itu sendiri.

Anak berusia muda ini, menjadi inspirasi bagi kita. Dalam dirinya, kesuksesan berkarir, bukanlah terletak pada banyaknya kepingan CD (compact disc) yang beredar di masyarakat. Karena CD a-susila pun cukup banyak beredar di masyarakat. Namun, itu bukan berarti sebuah kesuksesan. Karena pada dasarnya, dengan beredarnya kepingan itu, menunjukkan runtuhnya benteng moralitas dari masyarakat tersebut. Kesuksesan dalam karir itu, perlu diwujudkan dalam bentuk kebermaknaannya karir yang dijalani, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat. Di saat masyarakat mendapat makna dari profesi kita itulah, kebermaknaan dan rasa sukses itu akan sangat mengakar dalam hidup ini.

Saat ini, kami tengah kuliah, jadi agak sulit mengatur waktu untuk menerima job dari rekanan yang lainujarnya. Cerita ini mensiratkan bahwa di kelompok musiknya ini, tengah dihadapkan pada situasi genting, situasi pilihan atau sikap dipersimpangan jalan. Menerima tawaran manggung yang bertaraf kontrakan satu tahun, tetapi kuliah terbengkalai, atau sungguh-sungguh kuliah hingga lulus namun melupakan tawaran penajaman karir dibinyak music. Itulah simpang jalan yang tengah dihadapinya.

Kini kita bisa melihat realitas kehidupan kita saat ini. Seorang Kakek, akan kian lambat berjalan, bila beban dipundaknya terus ditambah. Satu pikul dia membawa rumput untuk hewan piaraanya di rumah, dan satu pikul lagi dia harus membawa buah-buahan yang ditawarkan orang lain kepadanya. Rumput untuk kambing, dan buah-buahan untuk makanannya sendiri. Tawaran buah-buahan itu datang dari orang yang tak dikenal di tengah jalan, ketika sang Kakek hendak pulang ke rumahnya yang cukup jauh untuk ditempuh.

Kita percaya. Bila bebanya ringan, maka sang Kakek akan dapat lebih mudah berjalan. Lebih cepat bergerak, dan lebih cepat sampai ke tujuan. Tetapi, sudah tentu, hal itu berarti bila bebannya ringan. Tetapi bila bebannya berat, maka hal itu akan menuntuk energy yang banyak dan kuat, untuk sampai pada memikulnya hingga sampai ke rumahnya sendiri.

Dalam bagian ini, saya ingin mengemukakan pendapat. Pertama, kita tidak perlu takut dengan berapa berat beban yang akan kita pikul, tetapi hal yang paling perlu ditakuti itu adalah kita tidak pernah mau mencoba untuk memikul beban yang ditawarkan. Karena, ketika kita tidak pernah mencoba memikulnya, maka kita tidak pernah tahu beratnya beban yang kita pikul.

Bukankah Tuhan sudah berkata, bahwa DIRINYA tidak akan memberikan beban yang tidak sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Artinya, beban yang diberikan kepada manusia itu, akan senantiasa diselaraskan dengan kemampuan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, bukan berat beban yang perlu ditakuti, tetapi ketidakmauan mencoba mengangkat beban itulah penyakit kegagalan dalam hidup.

Kedua, bukan lamanya waktu sampai pada tujuan yang harus ditakuti, tetapi kita harus takut bila kita berhenti berjalan. Setiap manusia memiliki energy dan kecepatan yang berbeda untuk sampai pada akhir perjalanan. Tidak ada yang sama. Itu adalah kenyataan.

Ada orang yang cepat sampai pada tujuan, ada yang lambat, dan ada yang sedang-sedang saja. Realitas hidup manusia, menunjukkan bahwa ada perbedaan kecepatan dalam mencapai tujuan perjalanan.
Berdasarkan pertimbangan itu, maka kita tidak perlu takut terhadap lamanya perjalanan mencapai tujuan perjalanan. Karena hal yang patut ditakuti itu adalah kita harus takut jika kita BERHENTI dalam berjalan. Karena dengan berhenti berjalan, maka mustahil kita sampai pada tujuan. Sedekat apapun jaraknya, kita tidak akan sampai pada tujuan. Seringan apapun bebannya, tetapi kalau kita berhenti berjalan, maka kita pun tidak akan sampai pada tujuan.

Dari pertimbangan itu pula, menambah beban potensial akan memperlambat kecepatan berjalan. Itu wajar. Itu alamiah. Tidak perlu dikeluhkan. Sepanjang kita mau dan mampu mengayuhkan kaki dan mengobarkan semangat kesungguhan untuk menjalaninya, insya Allah akhir perjalanan akan terwujud juga.

Terus berjalan, kendati lambat. Lebih baik berjalan lambat daripada berhenti. Karena LAMBAT itu tetap bisa mencapai tujuan. Sedangkan, berhenti berjalan, adalah sebuah kegagalan.

Ketiga, perhatikan kehidupan sehari-hari. Maukah kita mengulang tawaran kepada orang yang pernah menolaknya ? kemudian, di saat mulai banyak bermunculan lagi, orang lain yang juga memiliki kemampuan yang serupa, mungkinkah kita akan tetap memberikan tawaran kepada orang yang pernah menolak tawaran kita ?
Dalam dunia persaingan ini, akan bermunculan individu-individu yang memiliki minat dan bakat serupa dengan kita. Mereka akan memiliki naluri yang sama dengan kita. Baca peluang dan manfaatkan peluang. Bila orang lain, berhasrat kuat untuk memanfaatkan peluang, maka peluang itu akan pindah dari tangan kita kepadanya. Oleh karena itu, sekali kita menolak peluang, maka peluang itu akan lari selamanya dari hadapan kita.

Pada bagian ini, kesuksesan hidup itu, ternyata bukan karena kita mampu menemukan peluang. Peluang hidup itu banyak. Peluang untuk sukses itu ada. Tetapi, hanya mereka yang mampu membaca peluang dan memanfaatkan peluang secara maksimal itu, yang memiliki jalan kesuksesan yang terbuka.

Dari pertemuan itulah, saya memiliki pengalaman dan pelajaran menarik dari anak didikku yang kini menjadi seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Bandung ini.

Advertisements