Tanpa sengaja, dalam minggu ini saya diberi kesempatan untuk membaca sebuah tesis (karya tulis) seorang mahasiswa magister manajemen. Tesis tersebut, sudah di-acc oleh pembimbingnya yang bergelar Profesor Doktor bidang manajemen, dan juga sudah disidangkan sebagai karya tulis mahasiswa S-2. Kisah pendeknya, si penulisnya sudah menyandang gelar magister manajemen.
Judulnya bagus. Setidaknya itulah, yang saya tangkap ketika melihat karya tulis tersebut. Judul tesis itu, berbunyi Pengaruh Motivasi Kerja, Budaya Organisasi dan kemmapuan TIK Guru terhadap Kinerja Guru di SMA Negeri 3 Kota Cimahi (TESIS, 2008). Sebuah tema penelitian yang menarik, dan layak untuk dicermati. Khususnya bagi mereka yang bergelut dengan manajemen pendidikan di tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah.


Tidak disia-siakan. Sewaktu melihat golekan karya tulis itu, kemudian dibuka lembaran abstraksinya. Lembaran ini, pasti mendapat perhatian semua pihak, terlebih lagi bagi seorang penguji. Halaman abstraksi adalah halaman pokok (ringkasan ide) yang termuat dalam karya tulis (tesis) setebal 152 halaman dimaksud.

Disaat membaca abstraksi itu, ada pikiran yang terganggu. Khususnya terkait dengan kesimpulan yang ditariknya. Dalam penelitian ini diungkatkan, (1) kondisi mitivasi kerja bagus, (2) budaya organisasi bagus, (3) kemampuan TIK Bagus, dan (4) gambaran mengenai kinerja gurunya juga baik. Tetapi, kemudian di saat menjelakan mengenai hubungan antar variable itu, dinyatakan (5) pengaruh motivasi terhadap kinerja lemah, (6) pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja lemah, (7) pengaruh kemampuan TIK terhadap kinerja lemah. Hebatnya, bila pengaruh ketiga variable itu bersatu, maka pengaruhnya terhadap kinerja menjadi sangat kuat.

Dengan memperhatikan kesimpulan tersebut, pikiran saya menjadi bercabang, dan tidak habis fikir. Sembari membaca halaman demi halaman yang ada dalam tesis tersebut, saya jadi bertanya-tanya, mengenai apa yang sedang dipikirkan oleh si penulis tesis, dan apa yang dipikirkan oleh si pembimbing yang konon bergelar Profesor Doktor.

Logika yang sulit dipahami. Jika (A), (B), dan (C), serta (D) sudah bagus, dan kemudian ditemukan data (A-D), atau (B-D), atau (C-D) lemah, tetapi mengapa jika (A,B,C – D) malah menjadi sangat kuat. Kesimpulan penelitian ini, selain menyalahi logika, juga menggangu akal sehat.

Sangat sulit dipahami, jika ada sebuah bata, batu, dan pasir yang berkualitas bagus, dan bisa mendukung usaha untuk membangun sebuah tembok, tetapi ternyata hubungan keeratan antara bata dengan batu, atau bata dengan pasirnya tidak erat. Logika itu, sangat absurd, dan sulit dipahami.

Pola piker itu, dapat juga digunakan untuk memotret bangsa kita ini. Jika setiap etnik sudah memiliki peradaban yang bagus, SUNDA sudah baik, JAWA sudah baik, ACEH, BATAK, DAYAK, NTT, PAPUA, MALUKU, semuanya sudah baik, dan ternyata kalau mereka kompak (ABC) baik, akan bisa membangun Indonesia (D) dengan baik. Kesimpulan itu indah, dan menarik. Tetapi, mungkinkah logika itu terwujud, jika kemudian ada kesimpulan, bahwa diantara suku bangsa itu sendiri tidak ada hubungan-kemasyarakatan yang baik ? logika yang sulit dipahami.

Di luar persoalan itu, saya mohon maaf, bila ingin mengarah pada masalah budaya pembimbingan akademik di lembaga akademik. Karena kesalahan penalaran mahasiswa (walau magister sekalipun), bisa jadi bukan disebabkan oleh lemahnya penalaran sang mahasiswa. Karena mahasiswa, statusnya adalah orang yang sedang belajar berfikir. Hal yang paling substantive dari itu semua, adalah lemahnya kedisiplinan akademik dari si pembimbing itu sendiri.

Seorang professor yang merasa dirinya sibuk, dan atau memiliki budaya-akademik yang lemah, kerap menunjukkan kinerja akademik (baca : cara membimbing) yang lemah dan buruk. Karya tulis mahasiswa itu, boro-boro dikawal secara ilmiah, sekedar untuk kerapihan EYD (ejaan dan atau cara penulisan pun) menjadi terlewatkan. Yang penting selesai. Yang penting tebal. Dan yang penting bayar administrasi. Kemudian mengikuti sidang tesis. Selesai sudah. Akibat dari kebiasaan seperti itu, maka tidak mengherankan bila kemudian melahirkan magister-magister yang memiliki penalaran yang lemah.

Dalam konteks inilah, munculnya fenomena kemampuan manusia terdidik yang tidak sesuai dengan ijazah yang dimilikinya, semaki marak. Ijazahnya S-2, kemampuannya S-1. Ijazahnya S-1, kemampuannya D-III, dan Ijazahnya Diploma kemampuannya SMA, atau lebih rendah dari itu semua. Fenomena itulah yang biasa disebut overedukasi, atau hyperedukasi. Artinya, tingginya pendidikan tidak selaras dengan kemampuan yang dimilikinya.

Advertisements