setiap orang memiliki hak yang sama dalam memberikan apresiasi terhadap sebuah karya sastra. Oleh karena itu, apakah cocok bentuk tes pilihan ganda digunakan dalam pelajaran bahasa dan sastra ?

Bila tidak ada diskusi pasti tidak ada wacana. Inilah keyakinan yang hadir waktu itu. Dan karena ada diskusi mengenai RPP yang akan dikumpulkan untuk kepentingan Akreditasi itulah kemudian muncul saling tanya, dan saling koreksi. Salah satu diantaranya adalah masalah bentuk soal yang ada di Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan dokumen sederhana tetapi mendasar. Di sebut sederhana, karena kadang hanya berupa 2 (dua) atau 4 (empat) halaman. Di sebut mendasar, karena dokumen inilah yang menjadi panduan atau acuan seorang guru dalam melaksanakan tugas di ruang kelasnya.


Pada Bimbingan Teknik Penyusunan Perangkat Pembelajaran tahun 2010, para instruktur bersikukuh dan tegas, menyatakan bahwa dalam silabus dan RPP harus dicantumkan mengenai tahapan berfikir. Teori tahapan berfikir menurut Bloom. Dengan anjuran ini, maka komponen dalam dokumen RPP itu semakin kompleks, dan detil. Dalam bahasa guru yang melaksanakan, dokumen RPP itu sebanyak banyak yang harus dikerjakan.

Pengarahan dari instruktur tersebut, ternyata tidak serta merta disahut oleh para guru. Khususnya guru-guru di lingkungan madrasah ini, Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Bandung. Dalam konteks ini, saya pun sempet memberikan pandangan (atau mungkin kritik dan koreksi) mengenai konsep-konsep yang ada dalam tahapan berfikir pada teori Bloom. Selain yang dikemukakan itu, ternyata kritikan itu pun masih terus berlanjut, termasuk bukan saja pada masalah teori Bloom-nya, melainkan sampai pula pada masalah bentuk evaluasi.
Adalah Agus Rochimat, guru Bahasa Indonesia lulusan Universitas Pasundan Bandung yang pertama membuka wacana tersebut. Dalam pandangannya, pelajaran sastra tidak bisa dibuat dalam bentuk pilihan ganda (PG, multiple choice). Seorang guru di kelas, apalagi di pendidikan dasar dan menengah, menurutnya tidak mungkin memberikan bentuk soal (baik test maupun ujian) dalam bentuk pilihan ganda.

Asumsi yang dikembangkannya, yaitu adanya teori kebebasan menulis dan pengarang dalam dunia sastra. Seorang kritikus sastra atau sastrawan meyakini benar bahwa dirinya memiliki kebebasan menulis dan mengarah. Dalam sastra modern, khususnya, kebebasan itu menjadi ideologi kreatif yang dianut oleh setiap sastrawan. Dengan asumsi kebebasan itulah, maka siapapun dia, baik itu pelaku sastra maupun pembaca teks sastra tidak bisa dipaksa atau memaksakan persepsi (tafsiran)-nya terhadap sebuah teks sastra. Oleh karena itu, sangat tidak masuk akal, bila dalam sebuah soal ujian (test) ada bentuk soal pilihan ganda.

Memang. Dalam pengalaman kita, baik sebagai siswa maupun sebagai tenaga pendidik, sering melihat ada soal pelajaran sastra Indonesia misalnya, yang berbentuk pilihan ganda. Padahal soal itu, diawali dengan sebuah teks sastra, baik puisi maupun penggalan sebuah prosa. Satu paragraph puisi atau prosa disajikan, kemudian si peserta didik diminta untuk menarik pokok pikiran utama pada karya sastra tersebut. Setelah itu, si pembuat soal memberikan pilihan (choice) sebanyak 4 atau 5 buah.

Bagi si pembuat soal, mungkin dia tidak mengarang. Dia menggunakan buku sumber yang ada ditangannya. Teks sastra dan uraiannya pun, bisa jadi mengutip terhadap uraian yang ada dalam teks pada buku pelajaran yang ada di meja tugasnya. Tetapi yang menjadi persoalan, adalah benarkah yang dilakukan oleh si pembuat soal tersebut ?

Di sinilah problem teoritik muncul. Artinya, pandangan yang menguat sebagaimana yang dikemukakan rekan seprofesi itu mengemuka. Mungkinkah pelajaran sastra dibuatkan sebuah instrument evaluasi pembelajaran dalam bentuk pilihan ganda ? rekan seprofesi kita tadi, sudah mengemukakan pandangannya.

Sebagai pendidik sekaligus pernah aktif dalam dunia sastra, seni dan budaya, dia begitu yakin terhadap pandangan atau keyakinanya tersebut. Hingga dia pun mengajukan pengalaman bahwa pandangan itu sudah pernah dikemukakannya pada saat mengikuti pelatihan guru professional. Instruktur yang hadir pada waktu itu, sudah bergelar professor dalam bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Namun dengan ajuan masalah yang dikemukakan tersebut, ternyata menurut pengakuan rekan kita ini, sang Guru Besar itu harus berfikir ulang mengenai keyakinannya selama ini. Malah kemudian, dia berbalik pandangan mendukung pemikiran yang dikemukakan guru bahasa Indonesia dari madrasah aliyah tersebut.

Kendati demikian, pandangan itu tidak final. Setidaknya, pandangan itu bukanlah satu-satunya pandangan. Selain pandangan itu, setidaknya saya melihat bahwa pilihan ganda masih bisa digunakan sebagai bentuk evaluasi dalam pembelajaran sastra. Kemungkinan dan peluang penggunaan bentuk PG dalam pelajaran sastra ini, bukan memaksakan diri, atau memasung kebebasan interpretasi pada anak mengenai sebuah teks sastra, melainkan sebagai bentuk pembelajaran sastra.

Ada beberapa langkah yang perlu di pahami ketika seseorang akan membuat bentuk soal PG dalam pelajaran sastra. Pertama, harus diingat bahwa dalam pelajaran apapun, ada aspek kognisi yang harus diukur tingkatan perkembangan berfikirnya. Termasuk dalam pelajaran sastra Indonesia. Ini adalah asumsi pertama. Oleh karena itu, setiap bentuk soal harus dipahami, disadari dan diyakinkan untuk aspek atau tahapan berfikir yang akan diujinya.

Pelajaran sastra sudah tentu mengandung substansi pelajaran yang bisa mencakup aspek tahapan berfikir yang luas, baik afeksi maupun kognisi. Aspek-aspek pembelajaran itu, tidak boleh dilupakan. Termasuk adanya aspek kognisi. Sedangkan aspek kognisi, memiliki bentuk evaluasi yang bervariasi, bergantung pada tahapan berfikir yang mau diujinya.

Kedua, karena yang mau diuji itu, misalnya kognisi, maka teks dalam bentuk soal pun harus mengarah pada aspek kognisi. Konsistensi antara benetuk soal dengan tahapan berfikir ini, menjadi sangat penting, khususnya dikaitkan dengan tujuan dari evaluasi pembelajaran itu. Seorang guru harus mampu memilih konsep/kata/istilah yang digunakan dalam soal-soal yang akan diajukan kepada peserta evaluasi. Kesalahan dalam menggunakan konsep/kata/istilah dalam soal, potensial akan mengarah pada ketidaktercapaian tujuan dari evaluasi pembelajaran itu.

Ketiga, dan merupakan aspek yang penting, sebuah pengajaran sastra yang akan dibuat dalam bentuk pilihan ganda, hanyalah dalam bentuk kognisi tingkat awal (C-1). Selain itu tidak bisa. Sebagai bentuk soal pemahaman C-1, maka soal sastra itu memiliki sarat bahwa (a) teks disajikan dalam soal, (b) uraian terhadap teks itu sudah tersedia dalam buku teks, dan (c) ada ahli yang memberikan tafsiran terhadap teks sastra tersebut, dan kemudian (d) yang ditanyakannya adalah pandangan ahli sesuai dalam buku pelajaran mengenai teks sastra tersebut.

Dalam sebuah buku pelajaran Penuntun Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP Jilid 2, yang disusun Yoyo Wanapraja, dkk, (1990: 178) ada pembahasan mengenai puisi Chairil Anwar berjudul Krawang Bekasi. Kemudian para penulis, memberikan lembaran evalusi. Pada nomor ke-sepuluh tercantum soal sebagai berikut :

(10). Siapa yang dimaksud dengan kami dalam baris kami mati muda ?
a. Seluruh rakyat Indonesia
b. Para pejuang yang telah gugur
c. pahlawan yang gugur dalam merebut kemerdekaan
d. pahlawan yang guru dalam mengisi kemerdekaan

Tafsiran terhadap kata kami dalam puisi Krawang Bekasi tersebut, bisa lebih dari satu, bergantung pada siapa yang menafsirkannya. Dengan kata lain, pilihan a,b,c, dan d, masih mungkin menjadi salah satu jawaban terhadap pertanyaan itu. Subjektivitas si pembaca, termasuk peserta test memiliki ruang yang sama untuk menafsirkan kata kami dama baris kami mati muda. Karena bisa jadi, karena yang menulisnya Chairil Anwal, maka yang dimaksudkan dengan kami di situ adalah seluruh sastrawan dari kelompok Chairil anwar, seluruh sastrawan generasi Chairil Anwar, atau rakyat di daerah Krawang Bekasi. Apapun tafsirannya, semuanya menjadi mungkin.
Pada konteks itulah, maka pilihan jawaban terhadap soal itu, tidak cukup dengan hanya empat pilihan sebagaimana yang disajikan dalam soal tersebut. Bentuk soal tersebut bentuk soal tidak tepat. Karena, dengan bentuk soal seperti itu, interpretasi terhadap teks sastra itu menjadi terbuka. Dengan sifat yang terbuka itu, maka jangankan si sastrawan, peserta didik sekalipun memiliki hak untuk mendapatkan makna-subjektif dari sebuah teks sastra. Setiap orang, siapapun kita, memiliki hak yang sama mengenai makna, pokok pikiran, atau arti dari sebuah teks sastra. Setiap orang, siapapun kita, tidak bisa dipaksa untuk memih satu tafsiran sebagaimana yang diberikan oleh si pembuat soal. Oleh karena itu, dalam konteks yang kedua itulah, evaluasi pelajaran sastra tidak bisa dibuat dalam bentuk pilihan ganda.

Bagaimana mengubah bentuk soal tersebut menjadi sebuah soal Pilihan Ganda (jika memang pengajar itu memaksakan diri ingin membuat soal PG) ? dalam hemat saya, yang perlu dilakukan itu yaitu membuat soal PG dalam bentuk soal tertutup. Bentuk soal tertutup itu, yaitu soal sastra yang mengarah pada satu tafsiran tertentu. Misalnya, setelah kita menyampaikan tafsiran terhadap puisi Krawang Bekasi karya Chairil Anwar, sebagaimana yang tertuang dalam buku pelajaran Penuntun Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP Jilid 2, yang disusun Yoyo Wanapraja, dkk, (1990), maka soal PG yang dibuat itu, berbentuk sebagai berikut :

(10). Menurut Yoyo Wanapraja (1990), yang dimaksud dengan kami dalam baris kami mati muda, yaitu ?
a. Seluruh rakyat Indonesia
b. Para pejuang yang telah gugur
c. pahlawan yang gugur dalam merebut kemerdekaan
d. pahlawan yang guru dalam mengisi kemerdekaan

Melalui soal seperti itu, maka tafsiran si pembaca (peserta tes) tidak bisa berkembang secara bebas. Nalarnya akan dipaksa untuk mengingat tafsiran kata kami menurut pandangan penulis (penafsir) tersebut. Kebebasan berfikir dari si penulis dan atau si pembaca teks sastra menjadi terbatas, dan hanya dituntut satu keterampilan, yaitu menyebutkan tafsiran si penafsir terhadap teks sastra itu, sedangkan si pembaca (peserta tes) hanya memilihkan tafsiran yang telah dilakukan oleh yang diminta dalam soal.

Berdasarkan pertimbangan itulah, pilihan ganda dalam soal itu menjadi berfungsi. Dalam kaitan inilah, maka hemat saya, bentuk soal itu tepat. Artinya, bentuk soal itu sudah memenuhi prasarat sebagai bentuk soal PG untuk kategori pelajaran sastra.

Terakhir, dalam membuat soal evaluasi, guru dituntut untuk memiliki pemahaman yang tepat mengenai indicator dari setiap tahapan berfikir. Karena inilah kunci utama dalam menyusun sebuah soal. Kealpaan kita terhadap masalah ini, potensial menyebabkan kita mengalami kesalahan dalam melakukan pengukuran.

Kasus yang dikemukakan sahabat kita ini, merupakan salah satu dari sekian banyak kasus dalam dunia pendidikan, yang menuntut adanya kecerdasan dan kecermatan dari para pendidik dalam melaksanakan tugas profesinya.

Advertisements