2.1 Pengantar

Reformasi nasional di Indonesia, membuka sebuah kran kotak pandora kultur manusia modern. Hampir selama 32 tahun, masyarakat Indonesia ada dalam suasana tertekan, baik itu dalam melakukan ekpresi politik, maupun intelektualitas. Implikasi daripadanya, adalah terbentuknya masyarakat diam atau masyarakat bisu di lapisan rakyat. Mereka terdiam dan terbisu, bukan disebabkan oleh adanya karakter internal kerpibadian sendiri, melainkan keterdiaman dan kebisuan yang terbentuk oleh faktor eksternal, khususnya faktor budaya politik yang berlaku saat itu. Itulah kotak pandora budaya masyarakat Indonesia, yang kini terbuka oleh gerakan reformasi tahun 1998.

Dengan bergulirnya gerakan reformasi, geliatan dan kegairahan intelektualitas masyarakat Indonesia mulai nampak. Bahkan, bisa jadi akibat adanya euporia politik di lingkungan masyarakat, kaum muda usia dan muda pemikiran pun mengalami euporia intelektual. Maka tidaklah mengherankan jika dia melakukan sebuah ekspansi pemikiran atau petualangan intelektualitas yang hampir bisa dikatakan tidak terbatas.

Pada dasarnya, jika petualangan tersebut dialamatkan untuk mencari pengalaman dan pelajaran dalam menemukan sebuah kebenaran, maka kegiatan tersebut dapat dikategorikan mencari itibar. Kegiatan seperti ini termasuk kedalam praktek ibadah secara umum dalam Islam (ibadah ghoiri mahdhah). Dalam hal ini, Malik Badri mengatakan secara tegas bahwa tafakkur adalah ibadah yang tak terbatas. Untuk keterangan yang lebih jelas dapat kita perhatikan pernyataan berikut ini :

Tafakkur terhadap langit dan bumi dengan segala kejadiannya yang ada di dalamnya merupakan satu aktivitas yang tak dapat dihalangi oleh faktor perbedaan waktu, ruang dan substansi dari segala sesuatu. Ia adalah ibadah bebas, sebebas pengetahuan dan penjelajahan khayalan seorang mukmin. Ia juga ibadah rekreasi pikiran dan hati yang menghidupkan jiwa dan menerangi penglihatan di kala pikiran itu melintasi tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta menuju Pencipta dan Pengaturnya. Inilah makna sesungguhnya dari istilah itibar.

Terbukanya kotak pandora-peradaban manusia Indonesia saat ini, ternyata melahirkan adanya sebuah perjalanan intelektual yang sangat terbuka. Pikiran-pikiran yang muncul dan berkembang, bukanlah hanya sekedar sebuah pikiran antitesis terhadap kultur Orde Baru, tetapi juga terhadap tatanan kultural yang ada di lingkungan masyarakat. Islam pada satu sisi, saat ini bisa berhadapan langsung dengan pikiran-pikiran kapitalistik, sosialistik, liberalistik, dan juga komunistik. Lebih ekstrim dari itu, pikiran-pikiran aneh yang ada datang dari budaya lokal pun turut berkembang pula. Misalnya saja sinkretisme, dan mistikisme kejawen yang mengedepankan pola pikir yang irrasional. Tak heran diantaranya, banyak majalah, jurnal, acara TV yang mengulas, mengupas, dan mengemas acara-acara irrasionalisme ini mejadi sebuah ‘barang dagangan’ bagi masyarakat Indonesia pasca reformasi ini.
Fenomena sosial-politik seperti ini, jika dibiarkan akan melahirkan sebuah kondisi kehidupan yang liberalistik. Salah satu indikasi yang muncul dari gejala ini, penulis rasakan sendiri dalam suasan masjid. Saat itu (10 November 2001) sedang diadakan diskusi rutin dwi mingguan di Masjid Al-Amin Kiaracondong. Setelah dipaparkan tentang reaksi ummat Islam yang menuntut ditutupnya rumah hiburan, bioskop atau peredaran VCD porno menjelang Ramadhan, seorang jamaah berkomentar :

Menurut saya, reaksi itu mestinya tidak boleh terjadi. Sebab agama itu berkaitan dengan masalah keyakinan. Dan, keyakinan itu ada dalam dirinya masing-masing. Setiap orang berbeda dengan yang lainnya. Baik itu dalam rujukan keyakinan maupun kualitas keyakinannya. Oleh karena itu agama ini adalah lebih bersifat subjektif dan pribadi. Bahkan agama itu bersifat personal sekali. Setiap orang memiliki hak untuk mempertahankan keyakinannya sendiri. Tidak bisa dicampuri oleh orang lain. Demikian pula terhadap keyakinannya orang yang bekerja di Bar, atau tempat hiburan tersebut.

Dalam menanggapi masalah ini, adakah sebuah nilai kebenaran di dalam pernyataan tersebut? Ataukah tersimpan sebuah kekeliruan logika dan bahaya yang tersimpan didalam ide saudara kita ini ? Sebagai sebuah problema sosial, dan realitas sosiologi-pemikiran masalah ini perlu untuk dikritisi bersama. Minimalnya untuk memberikan sebuah klarifikasi kesadaran terhadap tentang gejala sosial ini.

Ada beberapa hal yang ingin penulis kemukakan di sini. Pertama, reformasi tuntas bagi masyarakat Indonesia adalah sebuah kemestian. Terjadinya perubahan tatanan nilai, akibat reformasi, adalah sebuah keniscayaan. Tetapi munculnya nilai moralitas yang tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan itu sendiri, adalah sebuah petaka bagi proses reformasi ini. Kedua, tidaklah semua kenyataan sosial adalah sebuah kemestian. Artinya, agama (khususnya Islam) datang ke muka bumi ini, bukanlah untuk mengikuti arus perkembangan jaman. Islam adalah kritik terhadap realitas. Inilah pesan utama yang diemban Rasulullah SAW dalam pernyataannya, Sesungguhnya aku di utus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak (innama buitsu makarimal akhlak). Dengan kata lain, agama memiliki peran untuk menjadi alat kontrol bagi kehidupan manusia itu sedniri. Oleh karena itu, gejala sosial tidaklah mesti menjadi sebuah kemestian. Ketiga, Islam tumbuh dan berkembang bukanlah disebabkan karena sikap dan sifat personalitas dalam beragama.

Islam berkembang, karena memiliki kemampuan yang kokoh dan tangguh dalam memadukan nilai individualitas dan sosialitas. Islam adalah agama sosial. Islam adalah agama amal. Di dalam ajaran Islam, tidaklah ada pemisahan antara kepentingan individual, dan sosial. Kendatipun bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, tanggungjawab individu terhadap masalah sosial menjadi salah satu bagian dari perhatian Islam dalam membangun msyarakat madani.

Diskusi pada saat itu masih terus berlanjut agak panjang. Bahkan, lebih jauh lagi si penanya tersebut mengaitkannya dengan term relativisme nilai yang dirujukannya kepada salah seorang intelektual muslim Indonesia saat ini. Diantara komentarnya itu, saudara kita ini mengatakan bahwa seorang muslim tidak boleh taklid terhadap seseorang, kendatipun di ulama. Seorang tidak boleh membeo, kendatipun buku yang dibacanya itu adalah magnum opus (kitab utama) dari intelektual termasyhur sekalipun. Jiwa kritis perlu dikembangkan, bahkan sikap mempertanyakan, dan atau meragukan keabsahaan pernyataan seorang ilmuwan adalah satu modal dasar untuk mencapai sebuah kebenaran. Demikianlah sikapnya terhadap ilmu pengetahuan.

Dengan berlandarkan persoalan dan ajuan pernyataan inilah, kemudian penulis meniatkan diri untuk mencoba lebih intensif lagi mempelajari tentang rumusan dan makna dari keraguan sebagai sebuah epistemologi dalam ilmu pengetahuan.

2.2 Keraguan Dalam Pengalaman Nabi Ibrahim As

Nabi Ibrahim AS, mengalami keraguan di saat mencahari Tuhannya. Saat itu, dia berjalan keluar dari Gua untuk melihat kondisi kehidupan manusia yang sebenarnya. Sebagaimana dikupas pada bagian yang lain, Ibrahim AS mencoba untuk meminta pembuktian kepada Tuhan tentang kemampuan-Nya dalam mematikan dan menghidupkan makhluk hidup. Dalam konteks seperti inilah, Ibrahim AS kita maknai sebagai sebuah keraguan-metodis (keraguan epistemik).

Jika kita telaah kisah perjalanan Nabi Ibrahim AS ini, maka keraguan epistemik Ibrahim ini (keraguan metodis) ini dilandasi oleh beberapa postulat yang ada di dalam jiwanya. Pertama, Ibrahim AS memiliki keimanan yang kokoh akan Tuhan sebagai pencipta seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini. Kedua, Ibrahim AS mengembangkan etos kerja yang hanif dalam proses pencaharian kebenaran. Hanif dalam konteks ini dimaknai sebagai sebuah mental yang tidak berpihak kepada kepentingan diri sendiri. Hanif adalah sebuah sikap gods interets atau Al-Haq-interets. Pengembangan keraguan epistemik Ibrahim AS ini dilandasi oleh adanya keberpihakan terhadap Tuhan, Kebenaran, dan keyakinan.

2.3 Keraguan Dalam Pengalaman Imam Ghazali

Sebagaimana diketahui bersama bahwa Al-Ghazali mengalami krisis pemikiran yang misterius. Dalam pandangan McCarthy, sebagaimana dikutip oleh Osman Bakar, hampir selama dua bulan Al-Ghazali mengalai skeptis terhadap kenyataan, tetapi tidak terhadap ucapan dan doktrin.

Krisis pemikiran, dan mengentalnya sikap keraguan Al-Ghazali ini dinyatakan dengan tegas dalam al-Munqidz min dhalal. Dalam karyanya itu, AL-Ghazali mengatakan kepada kita bahwa keraguannya itu timbul dalam upoaya untukmencarikepastian, yakni pengetahuan tentang haikiat segala sesuatu sebagaimana adanya (haqaiq al-umur). Hakikat segala sesuatu sebagaimana apa adanya ini, disebut Al-Ghazali sebagai ilmu yaqin.

Dengan adanya sikap ragu dalam jiwanya ini, apakah Al-Ghazali meragukan segala sesuatu hal yang ada di lingkungannya saat itu ? ternyata, ada sejumlah hal yang menarik untuk dikemuakakn di sini.

Pertama, Al-Ghazali memiliki keyakinan bahwa sukar untuk menghilangkan keragu-raguan tadi, dan memang tak dapat disembuhkan kecuali dengan bukti. Sedangkan tak mungkin mengadakan bukti melainkan jika tersusun dari pengertian-pengertian auwali (primary notions). Tetapi, jika pengertian-pengertian ini tak lagi dapat diterima, maka tertutuplah jalan untuk mencapai sesuatu bukti .

Dengan kesadaran akan pentingnya pengertian-pengertian auwali inilah kemudian Al-Ghazali mengkaji, mengkritisi dan mencari pokok persoalan pengetahuan dari berbagai mazhab. Dengan diawali dari kritiknya terhadap kelemahan indra, kelemahan akal, dan kelemahan taqlidiyyah kemudian dia juga mengkritik pemahaman kaum para pencahari kebenaran. Diantara mereka yang dipelajari itu adalah ahli ilmu kalam, yang mengaku ahli pikir, golongan bathiniyah yang mengaku menerima pelajaran dari imam yang masum, kaum filosuf yang mengaku ahli mantik dan bukti serta golongan sufi yang mengaku khawasul hadirah dan ahli musyahadah wal mukasyafah. Hal ini dilakukannya dengan tujuan untuk menemukan rumus ilmu yang meyakinkan.

Kedua, Al-Ghazali meragukan aneka ragam aliran dan perkembangan ilmu di jamanya. Tetapi, menurut Al-Ghazali sikap seperti ini ada pada segolongan ummat yang kecil saja. Sebab, dia sendiri tidak menolak begitu saja pendekatan taqlid. Dalam pandangan Al-Ghazali, adalah penting untuk golongan awam yang masih sederhana pemikirannya untuk menerima pengetahuan dari orang-orang yang memiliki otoritas dalam bidangnya. Dengan kata lain, sebagaimana dicatat oleh Bakar, fungsi positif taqlid yaitu penerimaan kebenaran berdasarkan otoritas, harus dibatasi pada mereka yang telah dianugerahi pengetahuan yang benar, yang merupakan pemegang otoritas yang sah untuk menafsirkan dan menjelaskan pengetahuan mengenai masalah-masalah religius dan spiritual .

Dalam pandangan penulis, perjalanan intelektual Imam Al-Ghazali ini merupakan sebuah perjalanan empiris. Dengan penuh kesungguhan, dan tidak ada rasa takut sebagaimana dinyatakanya sendiri– dalam mempelajari aneka ragam ilmu yang ada saat itu . Inilah satu sikap tentang perlunya kebebasan intelektual dalam mempelajri sebuah ilmu .

Al-Ghazali selalu haus, dan ingin tahu dengan sebenarnya segala sesuatu. Sikap inilah yang dirasakannya sebagai sebuah anugerah dari Allah SWT. Sikap seperti ini, bukanlah kehendaknya sendiri. Akhir dari perjalannya inilah, kemudian dia menemukan kebenaran dengan datangnya Nir Ilahi kepada hatinya. Nur inilah kunci pembuka sebagian besar dari ilmu marifat.

Dengan demikian, karakter keraguan apakah yang dimiliki oleh Al-Ghazali ini ? Osman Bakar mengatakan bahwa keraguan Al-Ghazali yang termasyhur harus dipelajari dan dipahami dari segi epistemologi Islam, khususnya segi gagasan tentang derajat-derajat keyakinan dalam sufisme Islam . Sementara itu, Zaqzuq mengatakannya bahwa keraguan Al-Ghazali ini sama kasusnya dengan Descartes, yaitu keraguan metodis dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Inilah karakter keraguan Al-Ghazali dalam memandang dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

2.4 Keraguan Dalam Pengalaman Descartes

Dalam pandangannya Hadi, prosedur keraguan yang disarankan Descartes adalah keraguan metodis universil. Keraguan ini bersifat universil karena direntang tanpa batas, atau sampai keraguan ini membatasi diri. Artinya, usaha meragukan tersebut berhenti sampai pada titik sesuatu hal itu tidak bisa diragukan lagi. Usaha meragukan sesuatu hal ini disebut metodik, karena keraguan yang diterapkan ini merupakan cara yang digunakan penalaran untuk mencapai sebuah kebenaran. Oleh karena itu, metode ini bukanlah sebuah kebingungan yang berkepanjangan, tetapi sebuah usaha mempertanyakan yang dilakukan oleh budi (nalar) untuk menemukan kebenaran.

Dalam mengembangkan keraguan metodis universil ini, Descartes menurut Bakker memiliki titik tolak yang positif dan negatif . Titik tolah negatif dari keraguan universalnya Descartes, yaitu menolak Diskusi. Bagi Descartes kesatuan semua ilmu harus dikonsepsikan dan dikerjakan oleh seorang saja. Dia mengandaikannya dengan pembuatan sebuah gedung. Sebuah gedung yang dibangun oleh banyak arsitek akan kacau. Penolakan terhadap metode diskusi ini, sejalan dengan analisis kita tentang kesendirian serta subjektivismenya pemikiran Descartes (lihat bab tentang Uzlah). Kedua, Descartes juga menolak tradisi masyarakat yang ada. Seorang pencahari kebenaran tidak perlu untuk tergantung pada mayoritas ilmu atau kebiasaan yang ada di masyarakat. Ketiga, menolak sistematik ilmu dan disiplin ilmu yang ada. Descartes lebih menyukai ilmu yang disusun berdasarkan susunan logika yang terjadi hasil penemuan manusia itu sendiri. Metode inilah yang kemudian disebutnya sebagai pola induksi yang kritis dan analitis.

Sementara titik positif dari keraguan universal Descartes ditandai dengan keyakinan dalam mengembangkan keraguan metodis. Hasil dari perjalanan ini, menemukan sebuah keyakinan bahwa keraguan ini hanya bisa dituntaskan dengan adanya sebuah keyakinan dasar tentang diri.

Descartes merasa telah sampai pada sebuah keyakinan dasar, yakni (a) yakin bahwa dirinya ada dalam keadaan ragu. Pada posisi ini, manusia itu sedang berfikir. Oleh karena itu, Aku berfikir, maka aku ada (cogito ergo sum). Kedua (b) dia meyakini bahwa keraguan ini membutuhkan sesuatu hal yang maha sempurna. Sebuah entitas yang tidak dipengaruhi oleh faktor luar. Dia harus memiliki kemampuan membenarkan dirinya oleh dirinya. Implikasinya dari kebuthan ini, maka keraguan metodis Descartes ini mempostulatkan bahwa Tuhan itu Ada. Tuhan adalah titik Tolak kesempurnaan bagi seorang pencahari kebenaran. Titik positif yang selanjutnya (c) yakni Descartes memiliki keyakinan dasar terhadap peran intuisi dan evidensia dalam menemukan sebuah kebenaran. Kesadaran ini, nampaknya merupakan sebuah implikasi dari keyakinannya akan kepastian yang pertama tentang berfikir itu sendiri.

2.5 Keraguan Terhadap Keraguan

Dengan memahami tentang keraguan ini, bagaimanakah sikap kita terhadapnya ? adakah sebuah kepastian bahwa keraguan ini adalah sebuah kepastian ? ataukah kita harus meragukan tentang keraguan itu sendiri ?

Wacana ini menarik untuk dikaji oleh masyarakat modern saat ini. Khususnya jika dikontekskan terhadap realitas sosial, dan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada saat ini.
Sebagaimana kita singgung dibagian awal tulisan ini, gelombang reformasi ini melahirkan sebuah kondisi kultur intelektual yang kompleks.

Jika Al-Ghazali mengatakan perlu adanya sebuah keberanian dalam menyelami aneka ragam corak berfikir, maka masyarakat Indonesia saat ini pun tengah melakukannya. Akibat dari keberaniannya dan kebebasan intelektual ini pemuda Indonesia membaca, mempelajari dan bahkan ada yang mencoba untuk mengamalkan aneka ragam corak pemikiran. Termasuk dalam mengekspresikan corak pemikiran liberalisme, dan sosialisme-komunis.

Jika kita tinjau secara kritis, mungkin jadi ekspresi dan reaksi masyarakat ini merupakan satu ekspresi dari ketidakpuasannya terhadap kultur keilmuan yang ada di Indonesia selama ini. Atau dilandasi oleh adanya keraguan terhadap ilmu dan keyakinan yang dimilikinya selama ini. Akhirnya mereka mencari metode berfikir dari paradigma ilmu yang lain dari kebiasaannya saat ini.

Sejalan dengan gerak dan perkembangan globalisasi, maka paradigma ilmu dan atau metode keilmuan, berkembang dengan sangat pesat dan kompleks saja. Gejala ini akan melahirkan masyarakat kita tak akan memiliki pola berfikir tunggal. Pola berfikir atau paradigma berfikir akan bersaing di masyarakat. Akankah hal ini melahirkan sebuah masyarakat yang permisif, atau merelatifis nilai yang ada masyarakat ? jawabannya bisa jadi !

Ujung dari perjalanan relativisme nilai pernah disinggung oleh Gregory Baum. Ketika dia membahas sosiologi pengetahuan dari Scheler dan Mannheim yang dijadikan alat pisau analisa tentang perilaku keagamaan menyatakan :

Relativisme, dalam pandangan Scheler dan Mannheim, adalah sikap manusiawi yang berbahaya yang pada akhirnya akan menggeser ke skeptisisme dan produknya adalah apati sosial.

Dari perkembangan dan fenomena sosial ini, bagaimanakah peran dan posisi nilai dan moralitas Agama dalam percaturan perkembangan bangsa Indonesia pasca reformasi ini ? inilah persoalan pokok yang akan kita kaji saat ini.

Rujukan
Malik Badri. Dari Perenungan Menuju Kesadaran : Sebuah Pendekatan Psykologi Islam. Solo : Intermedia. 2001

Osman Bakar. Tauhid dan Sains. Bandung : Pustaka Hidayah. 1994 : 53

Imam Al-Ghazali. Pembebas dari Kesesatan. Jakarta : Tintamas. 1984 : 12

Mahmud Hamdi Zaqzuq. AL-Ghazali : Sang Sufi dan Sang Filosof. Bandung : Pustaka. 1987 : 33

P. Hardono Hadi. Epistemologi : Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta : Kanisius.1994 : 29

Anton Bakker. Metode-Metode Filsafat. Jakarta : Ghalia Indonesia. 1984 : 72-74

Gregory Baum. Agama Dalam Bayang-Bayang Relativisme. Yogyalarta : Tiara Wacana. 1999 : 27

Advertisements