Selama menjadi guru geografi, ada trend yang kurang menguntungkan bagi masa depan pendidikan geografi khususnya, dan ilmu geografi pada umumnya. Trend yang kurang menguntungkan itu, yakni menguatnya geografi sebagai dongeng. Di beberapa buku, khususnya yang dijadikan bahan ajar di tingkat SMP/SMA, sarat dengan materi ajar geografi yang bersifat dongeng. Jauh dari karakter ilmu geografi.

Saya sebut sebagai materi ajar yang jauh dari geografi, karena bahan ajar itu lebih banyak bersifat cerita, atau fakta dan angka atau tuturan kisah perjalanan orang lain. Andaipun ada yang bersifat petualangan, maka itupun adalah kisah petualangan. Materi ajar geografi di lingkungan pendidikan kita kian menampilkan diri sebagai sebuah sastra geografi, atau geografi sebagai sebuah kisah, dan dituturkan.
Seorang guru geografi, tidak hadir sebagai geograf yang menerapkan pandangan geografiknya. Dia malah menjadi seorang penutur sastra geografi. Dengan penuh rasa percaya diri, dan meyakinkan, dia menuturkan kisah-kisah perjalanan atau cerita tentang bumi, dan anak-anak pun menjadi anak manis yang duduk manis dibangku belajarnya.
Melihat gelagat seperti ini, sempat saya merenung. Apa bedanya saya dengan guru yang lain ? apa bedanya lulusan pendidikan geografi dengan lulusan matematika, yang kebetulan diberi tugas mengajar geografi ? sebagaimana kita pahami bersama, bahwa di negeri ini, siapapun boleh mengajar mata pelajaran apapun. Fakta itu ada. Itulah oleh para akademisi disebutnya mismatch (tidak nyambung). Justru karena ada yang tidak nyambung itulah, kemudian saya jadi bertanya-tanya, apa bedanya sarjana geografi dengan sarjana non-geografi ?
Pertanyaan ini akan terus menghantui pikiran ini. Terlebih lagi, dalam beberapa minggu ke depan, ada sahabat yang diberi tugas mengajar geografi pada sebuah SMA/MA. Padahal, saya tahu persis bahwa latar belakang pendidikannya bukanlah pendidikan geografi. Itu adalah kenyataan. Itu adalah fakta. Mengapa dia menerima ? jawabnya Tugas. Mengapa tidak menolak ? Daripada tidak mengajar. jawabnya singkat.
Di balik itu semua, fenomena ketidaknyambungan itu, merangsang kita untuk berfikir mengenai karakter berfikir dan atau karakter mengajar geografi di lembaga pendidikan. Bila tidak salah tafsir, misi dasar seorang guru geografi, bukan sekedar memberikan informasi mengenai kegeografian. Misi itu hanya salah satu dari sekian misi pengajaran geografi di Indonesia. Misi yang baru kita sebut tadi itu, kita istilahkan dengan misi transfer pengetahuan geografi (geography knowledge). Sedangka misi yang lainnya, yaitu membentuk peserta didik untuk mampu berfikir geografi (geography attitude), dan memberikan keterampilan geografi (geography skill). Oleh karena itu, penyampaian pengetahuan geografi hanyalah salah satu dari sekian banyak misi pendidikan geografi.
Seminggu yang lalu (sekarang tanggal 8/9/2010), ada seorang mahasiswa bertanya mengenai sumber kajian dan kerangka pikir yang bisa mengulas masalah peran pendidikan geografi dalam membentuk karakter bangsa. Pertanyaan itu menarik. Tetapi pertanyaan itu pun, sekali lagi harus ditegaskan di sini, bahwa tujuan dari penelitian itu, akan mengalami banyak masalah, diantaranya (1) adakah kesadaran dari guru geografi tersebut untuk membangun karakter anak-anak bangsa ? (2) sudahkah si guru tersebut pun menunjukkan berfikir geografik ? (3) sudahkah guru tersebut tampil mengajarkan geografi sesuai dengan paradigma pengajaran geografi ? (4) dan ingat, ini adalah pertanyaan kunci, tujuan pendidikan geografi tidak mungkin dapat diwujudkan bila si gurunya sendiri tidak mampu menunjukkan pola pikir geografik. Mana mungkin kita akan mampu mengajarkan berfikir geografik, kalau diri kita sendiri tidak geografis. Inilah persoalannya. Dengan pertanyaan kritis ini, kita berharap, semoga mahasiswa tersebut mampu menunjukkan kehati-hatiannya dalam melakukan penelitian, termasuk menarik kesimpulan dari data-data penelitian tersebut.
Kembali ke masalah pokok wacana ini, pendidikan geografik hanya akan berhasil bila kita mampu mengembangkan tradisi belajar geografi. Dan tradisi belajar geografi akan muncul dan berkembang, bila guru mampu menunjukkan model belajar geografik yang berkarakter geografik. Selain itu, kita akan tetap mengalami kesulitan.
Barangkali sampai di sini, kita malah bertanya-tanya. Apa yang dimaksud dengan berfikir geografi, dan bagaimana mengajarkan geografi yang geografik ? ini memang agenda besar, dalam rangka menghidupkan kembali paradigma geografi.

Advertisements