Hari Ketiga

Hari ini pulang pukul 14.00. Tidak biasanya. Sehari-harinya, di luar bulan suci ramadhan, jam akhir pulang kerja adalah pukul 15.15 WIB. Rentang waktu kerjanya, adalah mulai dari pukul 06.30 WIB. Jumlah jam kerja yang cukup panjang, yaitu kurang lebih 9 jam (astronomic). Sebuah waktu kerja yang sangat dahsyat bagi seorang pekerja di Indonesia, atau pegawai negeri di Indonesia.


Pulang agak siang ini, bukan berarti karena pekerjaan di kantor sudah rampung semua. Tetapi hal itu terjadi karena adanya pengurangan jam. Pulang lebih siang pun bukan berarti, semangat kerja masih tersisa banyak, dan bisa dikembangkan lagi ditempat lain. tidak. Tidak begitu adanya. Justru, kendati pulang lebih cepat, energy gerak —khususnya gerak fisik—, tampak jauh lebih lemah dibandingkan sebelumnya.
Bila dihitung secara matematis, bisanya kita pulang pukul 15.15 WIB, satu jam kerja yang cukup menyita energy. Sementara di bulan ramadhan ini, para pekerja bisa pulang pukul 14.00 WIB. Padahal masuk kerja, jauh lebih siang dari biasanya, yaitu pukul 08.00 WIB. Berarti hampir 1/3 waktu kerja didiscount dari waktu kerja biasa, selain bulan suci ramadhan. O, iya, untuk sekedar informasi belaka, waktu kerja ini berlaku di tempatku, yaitu madrasah aliyah di Kota Bandung. Madrasah ini, merupakan salah satu sekolah negeri yang ada di kawasan Bandung Timur. Dengan waktu belajar itu, sebenarnya pada siswa belajar hanya 30 menit per jam pelajarannya. Sehingga, bila pada hari biasanya mereka pulang pukul 15.15 WIB, sekarang bisa irit waktu sekitar 3 jam.

Cerita atau kisah adanya penurunan waktu kerja, tidak saja terjadi di lingkungan kerjaku ini. Di sekolah lain pun, baik di SD, SMP maupun SMA mengalami pengurangan jam belajar. Walaupun jumlah pengurangan jam belajar itu berbeda-beda, sesuai dengan kebijakan pimpinan sekolah masing-masing. Selain di lingkungan sekolah, penurunan ritme atau irama kerja ini, terjadi pula di perkantoran. Jam kerja mereka, diizinkan pulang lebih siang daripada biasanya. Bahkan, para pekerja pun seolah diizinkan untuk sedikit bermalas-malasan, seperti tidur-tiduran di mushola, dikantor, atau ditempat yang lainnya. Memang ada Pemda yang keras terhadap penurunan kinerja pegawai ini, namun keumumannya mereka lebih memaklumi aura kemalasan tersebut, daripada penindakan secara disiplin terhaap karyawannya.

Memahami fenomena ini, kita jadi bertanya-tanya. Apakah memang, gara-gara puasa, ritme dan irama kerja (aktivitas) kita harus menurun ? apakah karena ramadhan itulah, setiap muslim harus lebih malas ? Jawaban terhadap pertanyaan ini, seyogyanya adalah TIDAK. Namun, mengapa hal itu senantiasa bertolak belakang dengan kemestian aturan agama itu sendiri ?

Pada bagian inilah, kiranya kita berkewajiban untuk mendalami ulang pengalaman puasa orang-orang terdahulu. Secara pribadi, saya membaca kalimat kama kutiba alaladzina min qoblikum (sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu), merupakan peringatan untuk kita semua supaya mau membaca dan belajar dari orang-orang terdahulu.

Belajar dari orang terdahulu itu penting. Khususnya untuk belajar bagaimana cara mereka berpuasa. Belajar kepada orang terdahulu itu perlu, karena kita perlu tahu kiat sukses berpuasa, sebagaiama orang-orang terdahulu melaksanakan ibadah puasa. belajar dari orang lain itu, selain memberikan sugesti bahwa kewajiban ini bukan hanya dibebankan kepada kita saja, juga memberikan rangsangan supaya kita bisa memberikan perbandingan, atau belajar dari caranya berpuasa orang-orang terdahulu.

Selama ini, bisa jadi kita alpa atau melupakan waktu untuk belajar terhadap cara orang lain berpuasa. Kita sering kali hanya melihat cara berpuasanya orang-orang yang ada di sekitar kita. Gaya berpuasa kita, bukan ditampilkan dengan gaya berpuasa orang-orang sukses di zaman dahulu, malah lebih banyak disesuaikan dengan gaya berpuasanya orang-orang yang ada di sekitar kita. Maka tidak mengherankan, bila ada teman yang berpuasanya dengan cara tiduran, maka kita pun ikut tiduran. Jika melihat teman berpuasanya dengan cara mancing, kita pun ikut mancing. Dan kita jarang, malah mungkin tidak pernah melihat cara berpuasanya orang-orang sukses di masa lalu (alladzina min qoblikum).

Sekedar contoh. Kita ambil cara berpuasanya umat Islam di zaman Rasulullah Muhammad SAW. Pada tahun ke-2 Hijriah, umat Islam malah diaduhadapkan dengan musuh dalam mempertahankan ummat. Perang Badar zaman Rasul, terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Hasilnya pun, tidak tanggung-tanggung kaum Muslim menang melawan kaum kafir quraisy. Ini artinya, dengan puasa bukan berarti harus bermalas-malasan. Walau kita berpuasa, siaga fisik, tenaga, materi dan jiwa harus tetap pol, harus tetap maksimal. Kaum muslim tidak boleh lengah, dan tidak boleh menjadi pemalas.

Hal serupa terjadi pula pada tahun 1364 Hijriah. Umat Islam Indonesia, tepatnya pada tanggal 8 Ramadhan, bersama-sama dengan masyarakat Indonesia lainnya, berjuang keras untuk menentukan nasib bangsanya sendiri. Pada hari itulah, di bulan ramadhan itulah, umat Islam Indonesia dan masyarakat Indonesia pada umumnya, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kendati puasa, semangat untuk merdeka, dan menentukan nasib bangsanya sendiri tetap kuat.

Simpul dari pemikiran itu, sudah sangat jelas, bahwa kendati puasa, kita tidak boleh malas, dan menurunkan kinerjanya. Tidak ada alasan sedikit pun untuk bermalas-malasan. Karena sesungguhnya, orang-orang terdahulu, tetap melakukan aktivitas harian dan bahkan menorehkan sejarah gemilang bagi bangsa dan negaranya, kendatipun secara pribadi harus tetap menjalankan ibadah puasa.

Advertisements