hari keempat

Satu hal aneh tengah masyarakat kita saat ini. Ini jelas-jelas menunjukkan bahwa mental prestasi kita masih sangat lemah. Masyarakat kita, atau bangsa kita pada umumnya, belum memiliki virus berprestasi yang istimewa. Andaipun ada orang yang Berjaya meraih prestasi unggul dalam berbagai kejuaran, atau dalam salah satu kejuaran baik nasional maupun internasional, namun itu semua hanya kekecualian dari sekian juta orang Indonesia.

Keanehan yang kita maksudkan itu, yakni adanya perilaku malas masal yang dilakukan rakyat Indonesia, khususnya umat Islam Indonesia. Saya sebut virus malas masal, karena pelakunya lebih dari satu orang, bahkan bukan hanya di satu tempat, tetapi terjadi diberbagai tempat, baik di kota maupun di desa, baik di instansi pemerintah maupun swasta.

Mereka malas, punya alasan. Yaitu sedang puasa. Tetapi, apakah karena puasa itulah, mereka itu bermalas-malasan, atau tidur-tiduran melulu ? adakah hal itu, karena mereka menjalankan ibadah puasa, salah tafsir terhadap ajaran agama, atau lebih disebabkan karena mental malas yang ngidap dalam jiwa para pelaku tersebut.

Dalam kesempatan yang lain, saya pernah ceritakan bahwa pengalaman orang masa lalu, kendati berpuasa, tapi tetap bisa berprestasi tinggi. Itu adalah contoh di masa lalu. Oleh karena itu, tidak pada tempatnya untuk menjadikan puasa sebagai alasan bermalas-malasan. Tidak ada satu ruang pun untuk membenarkan malas-malasan, di saat kita berpuasa.

Ada yang menyanggah argument ini, dengan kalimat bahwa Rasulullah pun sudah menjelaskan bahwa tidurnya orang berpuasa itu sudah menjadi ibadah. Karena ada hadist inilah, maka tiduran di bulan ramadhan adalah ibadah, dan tidak boleh diganggu oleh orang lain. Tidak mengherankan, dengan alasan seperti itu, banyak orang beribadah, hanya dengan cara tidur-tiduran baik di mushola, masjid atau tempat kerja.
Sebelum dilanjutkan, saya ingin memberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai praktek ibadah yang dimaksudkan tersebut. Dengan memperhatikan hadist tersebut, dan juga praktek umat islam di lapangan, saya ingin membagi dua praktek ibadah, yaitu ibadah pasif dan ibadah aktif. Yang dimaksud dengan ibadah pasif yaitu tidur sebagaimana yang dinyatakan dalam hadist tadi. Sedangkan yang dimaksud dengan ibadah aktif yaitu amal ibadah yang bersifat ritual, seperti shalat, tadarusan, berinfaq atau talim dan lain sebagainya. Pembedaan ini, diharapkan akan dapat dijadikan bahan untuk memahami penjelasan selanjutnya.

Memperhatikan perilaku orang yang bermalas-malasan dengan alasan karena ada hadits bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, merupakan argument yang lemah. Aragumen itu gagal menyakinkan kita, khususnya saya. Karena ada beberapa alasan penting yang bisa membatalkan atau membantah alasan orang tadi. Pertama, kalau memang tiduran itu ibadah, mengapa ibadah tarawih, dan tadarusan harus diperbanyak ? ini artinya, bahwa perintah Islam kepada umatnya itu, di bulan suci ramadhan itu justru adalah memperbanyak ibadah dan bukan memperbanyak tidur.

Kendati benar, bahwa tidur pun bernilai ibadah, tetapi aktivitas ibadah aktif yang lainnya, jauh lebih banyak dan lebih dianjurkan. Dengan kata lain, selayaknya kita itu berpikir bahwa tidurnya saja bernilai ibadah, apalagi kalau melaksanakan kegiatan ibadah yang lainnya. Untuk sekedar menggunakan logika matematika, kalau tidurnya seorang muslim sudah diberi nilai ibadah 1 (satu), maka nilai ibadah aktif yang lainnya, seperti shalat dan tadarusan, akan jauh lebih tinggi lagi. Karena, di luar ramadhan saja, tidur masih bernilai 0 (nol) sedangkan shalat sudah bernilai 1 atau 27 derajat. Oleh karena itu, di bulan ramadhan ini, kalau tidurnya saja bernilai 1 (satu) maka bagaimana nilai ibadah yang lainnya ?

Penalaran seperti ini, berlaku pula pada hadits rasulullah Muhammad Saw yang berbunyi, Sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah dari pada bau Kasturi”. (hadits ditakhrij oleh Ibn Majah). Artinya, kendati ada hadist seperti ini, bukan berarti seorang muslim harus hidup berpuasa dengan berbau-bau mulut. Bau mulutu tetap harus diupayakan sebagai sesuatu yang dihindarkan. Karena, dengan harum mulut akan jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan. Sedangkan, bau mulut adalah standar minimal. Oleh karenanya, orang yang membiarkan bau mulut adalah orang yang mengambil standar minimal dalam beribadah, dan kehilangan kesadaran untuk meraih prestasi maksimal. Berharum-harum ria dalam hidup, adalah bagian dari sunnah Rasul. Hal itu dapat ditemukan informasinya dari hadits yang lain, yaitu Rasulullah Muhammad Saw mencintai keharum-haruman.

Dalam sebuah hadits, sebagaimana disampaikan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, katanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. ” (HR. At-Tirmidzi).

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda “Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.’ Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi.”
Hadits tersebut, baru sebagian. Masih banyak lagi, hadits-hadist Rasulullah Muhammad Saw yang berisikan mengenai nilai pahala berlipat dari ibadah aktif seorang muslim di bulan suci ramadhan.

Pengalaman Pendidikan
Munculnya fenomena malas massal ini, terjadi juga di lingkungan pendidikan. kasus ini, bukan saja terjadi di lingkungan pendidikan dasar dan menengah, tetapi terjadi juga di tingkat perguruan tinggi. Untuk sekedar contoh, ketika para pelajar itu diberi tugas, satu istilah yang kerap mengerikan para pelajar baik siswa di sekolah maupun di perguruan tinggi. Bila mereka diberi tugas, misalnya membuat makalah, dengan referensi (buku rujukan) yang dipakai minimalnya 3 buah buku untuk siswa SMA/MA, atau 15 buah buku bagi mahasiswa, maka mereka itu umum mengajukan pertanyaan.
Kapan terakhir dikumpulkan ?
berapa jumlah halaman ?

Terhadap pertanyaan itu, biasanya saya menjawab, dikumpulkan paling telat dua minggu dari sekarang, dan jumlah halaman minimal 15 lembar. Setelah merasa jelas, dan habis waktu belajarnya, kita tinggal menunggu waktu pengumpulan tugas. Apa yang terjadi ?

Inilah yang saya sebut, penyakit malas massal. Pada saat pengumpulan tugas tersebut, baik pelajar atau mahasiswa menyelesaikan tugasnya di hari terakhir, dan itu pun kadang tidak sempurna, serta jumlah halaman paling minim yaitu 15 lembar. Bahkan, tidak jarang, ada juga mahasiswa yang telat mengumpulkan tugas.
Fenomena ini saya sebut sebagai fenomena mental yang menggambarkan lemahnya motiv berprestasi dan motif mengerjakan sesuatu yang sempurna. Para pelajar kita, atau mahasiswa itu, cenderung mengerjakan tugas sekedar menggugurkan kewajiban, dan tidak untuk kepentingan pembelajaran. Padahal, dibalik tugas tersebut, ada sebuah pengalaman belajar yang jauh lebih berharga dari sekedar lembaran tugas atau waktu tugas. Sayangnya, kita lebih memperhatikan aspek kewajibannya daripada substansi proses pembelajarannya itu sendiri. Sehingga, mereka lebih merasa sudah belajar bila mengerjakan tugas dalam waktu yang paling telat dan jumlah halaman paling minim. Padahal, bila dicermati dengan seksama, justru hal utama itu adalah mendapatkan pengalaman belajar-kerja yang maksimal dan sempurna.

Selama menjadi tenaga pendidik, baik di madrasah maupun perguruan tinggi, sangat jarang saya menemukan ada siswa/mahasiswa yang mengajukan keinginannya untuk mengumpulkna tugas di esok harinya, dengan jumlah halaman yang maksimal. Saya sangat merindukan ada kalimat dari mahasiswa, boleh tidak tugas dikumpulkannya besok pagi, dengan jumlah lembar 50 halaman.. Tampaknya lucu di telinga mahasiswa kita, dan cenderung mengundang gelak tawa atau ledekan dari teman sekelasnya. Namun, saya memandang, mungkin hanya orang itulah yang memiliki gairah prestasi maksimal dan kerja maksimal.

Bila dapat meraih prestasi maksimal, mengapa harus minim. Tidak mungkin bisa hidup sukses, jika mental yang tumbuhkembang dalam diri kita, justru adalah mental pas-pasan, dan tidak berorientasi hasil yang maksimal. Miripnya dengan orang berpuasa yang hanya memanfaatkan peluang pahala dari ibadah pasif. Itulah yang harus dijadikan bahan renungan dan motiv dasar dalam proses belajar hidup, dan belajar sukses.

Implikasi Praktis

Sikap mental seperti ini, ternyata tidak berhenti di bangku sekolah, dan atau dalam ibadah puasa. sikap mental itu, tumbuh subur dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam aspek social budaya atau ekonomi masyarakat. Walau memang, jika mereka ditanya, pasti menginginkan sesuatu yang sempurna dan atau prestasi unggul. Namun, dalam perilaku sehari-harinya, malah hanya menunjukkan sikap yang bermotif prestasi minim.

Merasa cukup dengan cukup. Baik dalam ekonomi atau kehidupan social, mental merasa cukup dengan cukup menjadi prinsip hidup. Yang penting mah cukup, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Orang yang merasa cukup dengan penghasilan yang cukup, adalah contoh kecil dari minimnya gairah untuk berprestasi lebih.

Minimize dalam seni adalah salah satu aliran yang sempat menarik perhatian masyarakat. Tetapi, sikap minimize dalam prestasi hidup, bukanlah sesuatu yang menarik, dan malah akan menjadi sampah social. Orang yang memiliki semangat hidup minimalis, atau sekedar hidup pas-pasan, tidak akan memiliki ruang hidup yang maksimal.

Qona’ah dalam Islam, tidaklah berarti merasa cukup dengan cukup. Bila ditelaah dengan cermat, sikap itu adalah merasa cukup dengan hasil yang ada setelah dirinya melakukan usaha yang maksimal. Dengan kata lain, sikap waro itu adalah orang yang siap dengan hasil apapun, setelah dirinya berusaha keras. Oleh karena itu, sikap itu tidak ada kaitannya dengan mental cukup dengan cukup, atau cukup dengan hasil pas-pasan, sementara usaha dirinya belum maksimal.

Penutup
Dari penjelasan ini, setidaknya kita dapat menemukan sejumlah pelajaran penting dalam rangka mendukung kualitas hidup muslim yang unggul.

Pertama, untuk mencapai muslim yang berkualitas, kita harus beralih dari semangat malas ke semangat kerja cerdas. Karena hanya dengan kerja cerdas itulah, berbagai peluang sukses dapat diraih.

Kedua, seorang muslim harus mengembangkan prestasi unggul. Sudah bukan waktunya lagi, kita mengedepankan pencapaian prestasi yang minim. Mengumpulkan nilai ibadah dengan cara tidur, adalah gaya hidup yang hanya mencari prestasi minimal atau pas-pasan. Seorang muslim unggul harus berubah, dari mencari prestasi minim ke prestasi maksim. Oleh karena itu, untuk menjadi muslim unggul tidak cukup dengan hanya mengandalkan nilai ibadah dari ibadah pasif. Kita harus menjadi aktivis yang bersemangat dalam melaksanakan ibadah aktif.

Terakhir, sudah saat ini, dalam rangka meraih prestasi unggul itu adalah dengan membiasakan mental hidup, jika bisa maksimal, mengapa harus minimal ? seorang muslim tidak boleh dipusingkan, dan atau terjerat oleh amalan-amalan bernilai minimal. Karena amalan minimal itu adalah amalan biasa-biasa saja. Untuk menjadi unggul, maka kita harus rajin mengembangkan kerja-kerja unggul, atau usaha-usaha unggul. Hanya orang yang bisa melakukan kegiatan unggullah yang berpeluang menjadi manusia unggul. Sedangkan orang yang bisanya dan biasanya melakukan usaha-usaha minimal, akan mendapatkan hasil yang minim.

Advertisements