Hari Pertama

Di sepanjang jalan. Diberbagai penjuru kota. Dalam seminggu terakhir bulan syaban bermunculan ucapan selamat penunaian ibadah puasa dari berbagai organisasi social, orpol, maupun kelompok social tertentu. selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kita dapat meraih kemenangan., Selamat berpuasa, semoga kita mendapatkan berkah., Selamat berpuasa, semoga kita mampu menggapai pribadi yang fitri. Dan banyak lagi. Dari ucapan ke ucapan, tersirat doa dan dukungan kepada kaum muslimin untuk bisa secara khusyu melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh lamanya.

Sebagai sebuah ucapan dan doa, sudah tentu hal itu adalah positif. Kita pun berharap besar, dengan adanya spanduk, baligho, dan atau selebaran tersebut, memberikan dorongan, atau memberikan semangat dan tambahan energy bagi kita untuk bisa berbuat maksimal dalam melaksanakan puasa di bulan suci ramadhan ini. Sudah tentu, harapan tersebut akan kian menjadi sebuah hal yang menjanjikan, bila dibarengi sengan strategi yang tepat dalam menjalankan bulan suci ramadhan. Piihan strategi itu ditetapkan, dengan maksud untuk mencapai tujuan. Sementara tujuan dari kegiatan itu pun, perlu ditetapkan dengan jelas, fokus dan tegas.
Marwah Daud Ibrahim (2004) , rumusan hidup yang terlampau luas apalagi tidak jelas, akan membuat gerak langkah seseorang bias. Ujungnya yaitu muncul rasa malas. Karena dia sendiri, tidak tahu arah dan tujuannya. Misalnya, ingin berbakti pada nusa dan bangsa. Rumusan hidup itu adalah bagus, tetapi tidak memiliki target yang jelas. Oleh karena itu, dalam meningkatkan efektivitas kerja, setiap orang dituntut untuk bisa merumuskan tujuannya dengan jelas.
Arjuna, ketika diperintahkan oleh Gurunya untuk memanah seekor burung, ditanya. Apa yang kau lihat, anakku ? ketika, dia menjawab sebatang pohon yang ada seekor burungnya, maka ditimpas oleh sang guru. Ada tidak konsentrasi. Ditanya lagi, dengan pertanyaan serupa, Apa yang kau lihat sekarang, Anakku ?. Arjuna menjawab, seekor burung. Dijawab oleh gurunya. Tidak konsentrasi.. Dan ketika ditanya untuk yang ketiga kalinya, Arjuna menjawab, titik hitam di leher burung. Kemudian Sang Guru menjawab, Bagus, lepaskan busur panahmu. Seketika itu, anak panah meluncur dan menembus leher burung yang ada di atas pohon. Kemudian terpelanting jatuh ke darat.
Kisah ini, hanya ingin menegaskan bahwa tujuan yang terlalu luas, bisa menyebabkan kita tidak focus, dan sulit untuk mencapainya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efektivitas kerja, dan program, setiap orang dituntut untuk memperjelas tujuan, atau target. Sehingga dengan kejelasan dan kepastian target itulah, maka arah gerak dan langkah, akan jauh lebih efektif dan lebih mudah untuk mengukurnya.
Kejelasan tujuan akan jauh lebih mudah mengukur keberhasilannya, walaupun mungkin sulit dicapai, sedangkan ketidakjelasan tujuan akan sulit mengukur keberhasilannya, walaupun mungkin mudah dicapai. Demikian pulalah, yang harus dilakukan oleh seorang muslim di bulan suci ramadhan.
Bulan suci ramadhan, bukanlah sesuatu hal yang baru. Bulan suci ramadhan adalah kalender tahunan, yang rutin menghampiri kaum muslim. Namun dengan sesering itu pula menghampirinya, sesering itu pula kita bertanya-tanya. Apa keberhasilan dari ramadhan yang lalu, dan apa cita-cita di ramadhan sekarang ?
Untuk menjawab pertanyaan ini, setidaknya kita perlu mengingat kembali beberapa anjuran Islam, kepada kaum muslim, sehingga kita benar-benar menjadi muslim yang berkualitas.
Pertama, Allah Swt berfirman, bahwa tidak akan ada perubahan pada diri kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya. Oleh karena itu, nasib baik atau buruk mengenai kita, kompleks kita, kota kita, bangsa dan Negara kita, amat sangat bergantung pada partisipasi kita dalam meningkatkan perbaikan kualitas hidup.
Kedua, Rasulullah Muhammad Saw bersabda, bahwa jika hari ini, sama dengan yang kemarin, maka kita rugi, dan jika hari ini lebih buruk dari kemarin, kita celaka. Oleh karena itu, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. itulah orang beruntung. Dengan demikian, hanya dengan niat untuk memperbaiki diri, sehingga hari ini jauh lebih baik dari hari kemarin itulah, kita akan mendapatkan kebahagiaan.
Ketiga, pertegas niat atau tujuan ibadah. Inilah makna ibadah yang ditekankan dalam Islam. Sehingga wajar, jika para ulama, memberikan penegasan mengenai pentingnya berniat. NIAT itu adalah syarat awal, dan mutlak untuk dilakukan, sebelum menjalani sebuah peribadahan. Dan niat atau tujuan, senantiasa jelas, dan tegas. Sepertinya halnya orang yang berpuasa, nawaitu shaumal ghodin, an adai fardhi syahri ramadhani hadinistanati lillahi taala. (Saya niat puasa untuk esok hari, pada tahun ini dan bulan ini, fardhu karena allah Swt.
Berdasarkan tiga alasan itulah, maka marilah kita bertekad diri, untuk menunjukkan usaha terbaik kita dibulan suci ramadhan kali ini, dengan mencatatkan satu atau dua target ramadhan di tahun ini. dengan adanya target itu, misalnya, khatam 1 x, mempelajari tafsir quran 1 juz, tarawih khatam 1 bulan, dan lain sebagainya. Tancapkan target itu, dan kemudian gapailah cita-cita itu.
Dengan adanya target tersebut, maka kita akan menjadi salah seorang yang dianggap mendapat kemenangan, atau berhasil dalam bulan suci ramadhan. Karena, ingatlah baik-baik, yang disebut berhasil itu adalah mereka yang mampu mencapai apa yang sudah diniatkannya dengan baik. Dan yang disebut kemenangan, adalah orang yang sudah sungguh hati melawan apa yang selama ini menghambatnya menjadi orang baik.
Dalam olahraga saja, Tim Kita akan disebut menang, jika mampu mengalahkan lawan. Dan kita disebut berhasil, jika Tim Kita mampu mencapai target, misalnya target Juara. Oleh karena itu, tidak mungkin kita disebut menang, jika bermain imbang. Untuk menang itu, cuma satu syaratnya, yaitu MENGALAHKAN LAWAN. Dan untuk menjadi muslim yang mendapat kemenangan dibulan suci ramadhan, adalah kita harus mengendalikan, atau mengalahkan musuh yang selama ini menghambat permainan hidup ini. itulah hawa nafsu.

Renungkanlah !
Setelah ramadhan menghampiri kita, dan bahkan dating berkali-kali, adakah sesuatu yang kita dapatkan ? adakah sesuatu yang kita dapatkan kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya ? bila kita hari ini, tidak memiliki tujuan dalam berpuasa, terus untuk apa kita berpuasa ? untuk apakah kita tarawih ? untuk apakah kita tadarusan ?
Renungkan baik-baik ?
Sesungguhnya, seluruh amal itu bergantung pada niatnya, bergantung pada maksudnya. Maka, jika kita tidak memiliki tujuan ibadah, untuk apakah kita beribadah saat ini ? waspadalah, ketika kita tidak jelas tujuannya, maka arah ibadah kita akan menjadi kurang bermakna untuk pengembangan diri, pengembangan keimanan dan ketaqwaan kita sendiri.

Advertisements