Hari Kedua

kata orang, hidup tanpa tujuan akan sulit diwujudkan. Tapi, mengapa tujuanku susah diwujudkan juga, padahal tujuan hidupku jelas. Kata Mamah Alifia dihadapanku. Bukan hanya Mamah Alifia, banyak rekan yang lainnya pun turut merasakannya. Selama ini, begitulah pengakuannya, niat puasa itu sudah jelas dan tujuan puasa pun sudah jelas, yaitu ingin mencapai derajat taqwa. Namun, selesai ramadhan itu, usai sudah ritual ibadah itu. Akhlak atau kepribadian hidupnya tak jauh berbeda dengan pribadinya sebelum ramadhan, dan bahkan dengan sebelum ramadhan-ramadhan tahun lalu.


Tidak bermaksud untuk merasa pesimistis atau melupakan pengaruh-pengaruh ramadhan terhadap dirinya. Sebenarnya, ada pengaruh ramadhan tersebut terhadap pribadinya. Hanya saja, pengaruhnya itu masih sangat kecil, dan jauh dari apa yang diharapkan atau jauh dari apa yang sering diceramahkan para ustadz di masjid atau televise. Selama ini, mereka merasakan bahwa tujuan hidupnya sudah jelas, yaitu laalakum tattaquun. Itulah tujuannya. Bahkan, dengan lisan pula, dia menuturkannya niat peribadahannnya itu adalah ridlo lillahi taala.
Di sinilah, kita sampai pada satu terminal hidup yang perlu dikembangkan untuk mencapai sebuah tujuan. Apapun tujuan itu. Apapun terminal itu. Langkah ini penting. Yaitu, setelah kita menetapkan visi atau tujuan, serta mengukuhkan tekad untuk mencapainya, yaitu menetapkan strategi, program, atau langkah-langkah untuk mencapai hal tersebut. Apapun istilahnya, selepas kita menetapkan visi dan misi, maka yang dibutuhkan adalah menetapkan strategi operasional atau langkah efektif yang bisa mencapai tujuan dimaksud.
Dalam hemat kita di sini, kita kadang lihai atau cerdas dalam merumuskan nilai-nilai umum dalam sebuah kegiatan. Perhatikan saja spanduk-spanduk yang ada di lingkungan kita. Baik yang menyambut ramadhan, idul fitri, hari kemerdekaan Indonesia, hari sumpah pemuda, pertemuan nasional organisasi atau partai politik, atau spanduk dalam rangka peringatan hari besar lainnya. Spanduk atau baligho yang kita pasang tersebut, pasti mencantumkan tema kegiatan. Tema-tema kegiatan ini, kadang provokatif, kadang normative, atau malah lebih sekedar permainan bahasa panitia dalam menghiasi kegiatan.
Kita sebut permainan bahasa panitia, karena kita sering melihat tema kegiatan itu dari tahun ke tahun berubah, berganti dan berbeda, namun jenis kegiatan atau bentuk kegiatannya tidak berbeda jauh. Malah sama. Begitu-begitu saja. Dari sudut pandang awam, sudah tentu kita akan bertanya, mengapa temanya beda, kalau bentuk kegiatannya sama ? bukankah bila kita akan menuju pada tempat yang berbeda, akan menggunakan kendaraan atau jalan yang berbeda pula ?
Pada bagian inilah, kita melihat gejala bahwa kita seringkali pintar dalam merumuskan tujuan, tema, target, atau acuan kegiatan, tetapi kita hilap terhadap upaya merumuskan cara dalam mencapai tujuan yang dirumuskan tadi. Pada bagian inilah, kita sampai pada kesimpulan bahwa langkah selanjutnya setelah kita merumuskan visi, misi atau target, yaitu kita perlu merumuskan langkah-langkah strategis atau langkah operasional dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Tujuan puasa adalah mencapai derajat taqwa. Itulah yang ditegaskan al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Derajat taqwa adalah tujuan berpuasa, dan menjadi impian setiap orang muslim. Mulai awal ramadhan, setiap malam, dan insya Allah setiap saat, derajat taqwa itu menjadi impian dari setiap orang muslim. Oleh karena itu, tidak perlu heran bila berbagai acara, kegiatan, atau amalan dilakukan oleh setiap muslim dalam mengisi ramadhan dengan harapan derajat ketaqwaan itu dapat tercapai.
Sekali lagi, kita perlu tegaskan, mengapa pertanyaan Mamah Alifia itu muncul ? dan pertanyaan itu bukan satu kali, dan bukan pula dari satu orang. Bila kita sedikit merenungkannya, kadang kita sendiri pun bertanya-tanya, mengapa ramadhan itu berulang-ulang kita temukan, dan berulang pula kita lewati, namun berulang pula kita bertanya-tanya, perubahan apa yang ada dalam diri kita saat ini, setelah ramadhan ini sekian kali kita lewati ?
Saya jadi ingat peribahasa dalam bahasa Sunda. Masyarakat Sunda sangat kenal peribahasa yang berbunyi, siga monyet ngagugulung kalapa (seperti kera yang mendekap buah kelapa). Berhari-hari, sang kera mendekap buah kelapa. Di gelindingkan ke kanan ke kiri, diangkat diturunkan, dipikul dan didekap. Terus berulang-ulang, tanpa ada akhirnya. Buah kelapa yang manis dan lezat, tidak pernah tersentuhnya. Dia hanya mendekap dan memainkan buah kelapa tersebut.
Peribahasa itu, digunakan oleh masyarakat Sunda untuk menjelaskan perilaku orang yang memilliki barang yang indah, atau sumberdaya hidup yang hebat, tetapi tidak mampu memanfaatkannya. Setara dengan bangsa Indonesia, yang tidak mampu memaksimalkan sumberdaya alam negerinya untuk kesejahteraan rakyat. Kita hanya bisa menatap-melihat-mengawasinya, dan tak mampu memanfaatkannya. Perilaku itu bukan berarti tidak tahu manfaat benda yang dipegangnya itu, dia tahu, Cuma tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menggunakan atau memanfaatkannya. Ibarat sang kera tadi. Dia memiliki hasrat yang sama dengan yang lain, yaitu ingin makan buah kelapa. Kepalanya pun ada. Kelapa sudah ditangan. Namun, apa yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud juga. Mengapa ?
Peribahasa itu memberikan gambaran kepada kita, bahwa (1) bukan masalah apa yang kita miliki, karena ternyata kera itu pun sudah memiliki buah kelapa, atau apa yang diinginkannya, (2) bukan soal tidak punya tujuan, karena si kera itu pun sudah memiliki tujuan yang jelas dalam dirinya, yaitu ingin memakan isi buah kelapa. Kesalahan yang fatal yang dimiliki kera tersebut, yaitu tiadanya strategi untuk mewujudkan keinginannya. Sang kera tidak memiliki cara efektif untuk membelah buah kelapa, sehingga dapat mengkonsumsi isi buah kelapa. Si kera tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melaksanakan cara mewujudkan keinginanya tersebut. Inilah persoalan dasar dan mendasar kehidupan kita saat ini.
Dengan contoh itu pula, kiranya masalah yang dihadapi oleh rekan-rekan Mamah Alifia itu adalah tiadanya strategi efektif untuk mencapai tujuan yang didambakannya. Tujuan tanpa strategi pencapaiannya, ibarat memandang bulan dari bumi, sedangkan strategi tanpa tujuan, ibarat terbang di langit luas. Orang pertama tidak akan pernah sampai menginjakkan kaki di bulan, karena dia hanya melihat bulan dari jarak jauh. Dan orang kedua, dia akan melayang-layang tanpa arah karena tidak memiliki kejelasan tujuan.
Untuk mencapai kesuksesan hidup, setiap orang wajib kiranya merumuskan strategi efektif dalam mencapainya. Kita tidak perlu ribet untuk merumuskan arti strategi. Secara umum, istilah strategi yang kita maksudkan itu adalah langkah-langkah atau cara untuk mencapai tujuan. Apapun langkah atau cara yang kita tetap, hendaknya adalah pilihan terbaik dari alternative yang ada untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Dengan strategi itulah, kita melangkah dan bergerak.

Renungkanlah !
Sudahkah ada rencana khusus untuk mengisi bulan ramadhan kali ini ? adakah kita memiliki tips-tips praktis mengenai pola makan saat sahur, atau ketika buka ? adakah cara khusus dalam mengisi tadarusan di malam ramadhan, atau sholatul lail di malam ramadhan ? adakah rencana istimewa menjelang malam lailatul qodr ? ataukah, kita tidak memikirkan semua itu, dan hanya memikirkan baju lebaran, kue lebaran, dan acara mudik lebaran ?

Renungkanlah baik-baik !
kesalahan menetapkan strategi ramadhan, adalah sumbangan besar bagi ketidaktercapaiannya tujuan kita. Begitu pula sebaliknya, kejelasan strategi ramadhan yang kita buat, akan menjadi penyumbang pertama dan utama yang mengantarkan kita sampai pada tujuan yang kita cita-citakan.

Selanjutnya, setelah ditetapkan strateginya, maka langkah penting lainnya yang perlu dimiliki itu adalah langkah kunci dalam mencapai tujuan, yaitu MELAKSANAKANNYA. Itulah syarat utama dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Melaksanakan strategi, melaksanakan program, atau melaksanakan apa yang diinginkan adalah strategi utama dan strategi jitu dalam menggapai tujuan yang ditetapkan.
Karena tidak jelas strategi yang dikembangkannya, maka tidak mengherankan bila tujuan berpuasa di bulan suci ramadhan, tidak dapat diraih secara maksimal.

Advertisements