Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
(Qs. Al-Baqarah : 183)

Cermati dengan baik-baik. Ayat 183 surat Al-Baqarah ini, terus berulang dibaca dan dikaji sebulan penuh lamanya, yakni di bulan suci ramadhan, namun maknanya terus berkembang dan kian meluas. Semakin banyak orang yang melakukan kajian mengenai puasa, dari sudut pandang apapun, maka sebanyak itu pula, makna ramadhan, dan hikmah puasa terus berkembang. Termasuk dalam hal ini, kita melihat bahwa ramadhan perlu didudukkan sebagai momentum evaluasi diri. Setiap orang perlu melakukan kajian kritis, mengenai posisi diri, atau kondisi diri, atau kualitas diri, baik dihadapan manusia maupun dihadapan Tuhan.

Dengan menggunakan tradisi filsafat, yaitu bertanya, siapa kita, apa yang harus dilakukan, dan mau apa kita, bulan ramadhan ini dapat digunakan untuk melakukan kritik atau evaluasi diri terhadap diri kita. Bulan ramadhan, dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi mengenai siapa diri kita, bagaimana kualitas perbuatan kita, dan apa tujuan hidup kita.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs. Al-Baqarah : 183)

Bila dipenggal, setidaknya kita menemukan tiga kata kunci penting yang perlu digunakan untuk strategi evaluasi diri. Yaitu, //Hai orang-orang yang beriman// diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu// agar kamu bertakwa//. Ketiga kelompok ini, bermanfaat bagi kita untuk menjelaskan posisi kita sata ini.

Pertama : Siapa Diri Kita

Tidak mungkin kita merasa percaya diri, bangga diri, dan atau juga minder kalau kita tidak tahu siapa diri. Pertanyaan terkait dengan siapa diri kita, merupakan sesuatu yang penting dalam hidup ini. karena dengan pertanyaan itulah, kita dapat melakukan kritik dan atau pengembangan diri. Mustahil kita dapat melakukan perbaikan diri, kalau kita sendiri tidak memahami posisi diri atau kualitas diri.

Untuk sekedar contoh, kalau kita ditanya tentang siapakah diri kita ? akan muncul jawaban :
Aku adalah seorang guru. Sudah bekerja di madrasah selama 5 tahun. Dan sekarang menjabat sebagai seorang pimpinan madrasah, dengan tunjangan sekian rupiah, dan memiliki siswa sebanyak sekian orang.
Aku adalah seorang pengusaha. Aku mulai bisnis catering. Kemudian berkembang pesat. Kesuksesan pun terjadi. Dan kini, aku sudah menjadi seorang pengusaha sukses. Hidup berkecukupan, dan bisa bebas menentukan penggunaan waktu.

Itulah sebagian jawaban yang biasa muncul dari lisan kita. Menurut Laura Day (2007:19), kita seringkali mendeskripsikan diri kita oleh diri sendiri. Padahal, kita bukanlah apa yang kita ceritakan. Kita bukanlah masa lalu. Kita bukanlah masa depan. Kita bukanlah harapan. Kita bukanlah impian .

Coba perhatikan. Kalau kita menjelaskan bahwa penjelasan mengenai diri kita dengan identitas jabatan, maka bagaimana jika jabatan itu dilepaskan ? kalau Anda menjelaskan diri Anda dengan kekayaan, apa yang Anda akan ceritakan jika kekayaan itu hilang dari genggaman Anda ? masihkah Anda itu ada di dunia ini ? atau masihkah Anda bangga dengan semua yang lepas dari diri Anda ?

Diakui atau tidak, sadar atau tidak, bila kita membaca ayat tersebut, kaum muslim ini sudah dibagi 2 kelompok (dua group). Temuan ini, ditemukan dari fakta adanya orang yang terpanggil puasa, dan yang tidak terpanggil puasa.

Kalimat, //Hai orang-orang yang beriman// adalah perintah kategoris dari Allah Swt kepada hamba-Nya. Artinya, orang yang langsung sadar diri, dan atau mau disebut orang beriman, maka dia akan mendengarkan perintah serta mau melaksanakan perintah tersebut. Sedangkan mereka yang tidak merasa terpanggil, dan atau tidak berniat untuk berpuasa di bulan ramadhan, sudah tentu tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang beriman.

Sekali lagi perlu ditegaskan di sini. Ayat 183 surat Al-Baqarah ini, merupakan contoh dari kalimat perintah kategoris. Artinya, sebuah perintah dari Allah Swt., yang berimplikasi pada adanya pengelompokkan kaum muslimin. Dengan kalimat //Hai orang-orang yang beriman//, menggambarkan ada dua kelompok muslim yang actual, yaitu yang beriman dan tidak beriman, atau dalam bahasa sosiologis, yaitu yang beriman kuat dan yang imannya tidak kuat.

Dengan adanya panggilan //Hai orang-orang yang beriman//, tidak cukup dijawab, labaikallahu labbaika, anna mumin. Sebagaimana yang dikemukakan Laura Day, diri kita bukanlah apa yang kita ucapkan, bukan apa yang kita ceritakan, atau kita argumentasikan dihadapan manusia.

Perlu digarisbawahi bahwa identitas kita bukanlah apa yang kita ceritakan. Boleh saja. Karena merasa malu sebagai seorang beragama Islam, maka dihari pertama kita ikutan puasa dan tarawih. Harapannya dapat penilaian (khususnya dari tetangga), sebagai orang muslim yang turut menghargai bulan ramadhan.
Pengakuan lisan bukanlah kualitas diri kita yang sesungguhnya. Filsafat idealism menjadi sesuatu yang tidak bermakna. Karena prinsip saya bicara maka saya ada , tidak memiliki relevansinya dengan kehidupan nyata. Karena keberimana seseorang, bukanlah apa yang dibicarakan, atau yang dipikirkan. Keberimanan seseorang diuji oleh adanya kesungguhan hati dalam melaksanakan perintah tersebut (aspek amal).

Bagaimana jika dia melakukan sesuatu, tetapi lebih karena dorongan eksternal atau motivasi lain, misalnya motivasi lingkungan masyarakat ? bukan hal yang aneh, bila dihari pertama, kita melihat banyak orang berpuasa dan juga bertarawih. Ini adalah realitas social masyarakat kita.

Dari sisi social, fakta itu adalah wajar terjadi. Satu sisi, bisa jadi sebagai bentuk jawaban hamba terhadap perintah Ilahi. Sedangkan pada sisi lain, kita menemukan ada kesalahan persepsi mengenai siapa diri kita yang sesungguhnya. Karena pada dasarnya, identitas diri kita adalah sesuatu yang melekat dalam diri, dan akan tampak dalam waktu yang cukup lama.

Ketika kita ingin mengetahui konsep diri (Sunaryo, 2004:32-36), maka diawali dengan gambaran diri (body image), yaitu gambaran tentang tubuh sendiri. Kemudian ada ideal diri (self ideal), yaitu harapan diri, lalu ada harga diri (self esteem), selanjutnya ada peran diri (self role), dan terakhir yaitu identitas diri (self identity).
Seseorang tidak akan berpuasa, jika dirinya mencitrakan tubuhnya tidak akan kuat. Jika dirinya sudah memberikan sugesti negative terhadap tubuhnya, maka secara otomatis tubuhnya serta mentalnya akan merespon negative . Pertemuan antara sugesti dengan reaksi mental itu, akan bertemu dalam bentuk dirinya tidak sungguh hati menjalankan ibadah puasa.

Sikap itu kadang tidak kita sadari. Padahal kita pun melakukannya kepada anak-anak kita. Bila kita ingin membelajarkan anak untuk berpuasa, orangtua itu berusaha keras meyakinkan adanya bahwa harus kuat, nanti kalau tamat puasanya diberi INI, diberi ITU. Kesungguhan orangtua memberikan sugesti kepada anak itu, dilakukan dengan keras. Namun para orangtua kadang lupa, untuk mensugesti dirinya sendiri.

Berhenti merokok itu susah. Itu adalah sugesti diri terhadap diri sendiri. Padahal di lain pihak, fakta orang bisa berhenti merokok sudah berlimpahan. Namun, karena sugesti diri negative, dan mencitrakan tubuh dirinya pun lemah, maka niat untuk berbuat yang terbaik tidak terwujud.

Pada konteks itulah, panggilan //Hai orang-orang yang beriman// tidak cukup dijawab dengan lisan, dan atau perbuatan sesaat. Untuk menjawab, apakah kita termasuk orang yang terpanggil atau tidak, apakah kita sebagai orang beriman atau tidak, yaitu perlu ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata. Yaitu berpuasa satu bulan penuh.

Advertisements