Bang, kenapa harus dites ? tanyaku pada rekan peserta yang duduk di samping. Inilah kepesertaanku yang ketiga kalinya dalam mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Dua kali sebelumnya, saya dapat lewati dengan baik. Namun untuk yang ketiga kalinya ini, saya merasa ada Sesutu yang mengganjal. Beban terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Masalah yang dihadapi dalam proses seleksi ini, terasa jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.

Waduh..berat juga seleksi ini. Ujar sahabatku, dari salah satu universitas negeri di kota Bandung ini. Lama sudah, tidak mendapat kejutan-kejutan masalah, sekarang kaget. Selama ini, kita sudah berfikir formal, rutin dan bahkan cenderung baku. Gara-gara berfikir baku, akibatnya otak menjadi beku. Jadi, soal tadi yang sederhanapun, waduh.cukup menyulitkan. Paparnya lagi.
gila, waktunya terlalu pendek.
ahgimana nih
mengapa begitu ya
Dan lain lagi. Celotehan dari setiap peserta ujian itu beragam. Mereka keluar pintu kelas dengan celotehan yang senada. Soal yang baru saja dihadapi itu, benar-benar memberikan hentakan pemikiran terhadap para pesertanya. Saya sendiri, yang sehari-hari sebagai guru kerap membuat soal dan memberikannya kepada para siswa. Ketika membuat soal, saya senang. Ketika mengawasi siswa mengisi ujian, saya tegang. Setelah mendengar umpatan siswa terhadap soal, saya baru merasa kaget. Soal yang kubuat itu ternyata cukup menyulitkan mereka juga. Mendengar sumpah serapah siswa itu, di sekolah saya hanya bisa tersenyum. makanya belajar! gumamku dalam hati.
Tampaknya gumamamku di sekolah itu, muncul juga dipara pengawas ujian saat itu. Dan kini bagianku yang bersumpah serapah mengenai soal yang menyulitkan langkahku ke tahap selanjutnya. Lagian, langkah ini baru hari pertama. Dikeesokan harinya, saya dan seluruh peserta lainnya, harus menjalani tes wawancara. Tes ini dilaksanakan ditempat yang berbeda, sesuai dengan jurusannya masing-masing.
Bang, mengapa harus dites Ya? pertanyaan ini, kulontarkan ulang kepada rekan ujian, yang lagi duduk disampingku. Beliau sudah cukup berusia. Begitulah pikirku, sesaat setelah melihat penampilan dan perwajahannya. Rekanku ini, peserta nomor 2 dari urutan wawancara, dan beliau berasal daru Nusa Tenggara. Jauh banget. Bisa jadi, dia sudah siap dan penuh semangat. Pikirku saat itu.
Ini, hanya ingin menggambarkan bahwa prestasi akan kita raih itu, bukan masalah sepele. Bukan masalah murahan. Bukan hal yang sederhana. Perlu kerja keras dan kesungguhan hati. Paparnya kepadaku. Sesuatu yang diraih mahal, membutuhkan perjuangan yang ekstra. Kalau tidak ada ujian, berarti masalah itu bisa didapat oleh banyak orang, dan berarti masalah itu, adalah masalah umum yang bisa dimiliki oleh siapapun. Dengan kata lain pula, prestasi itu menunjukkan status nilai yang biasa-biasa saja. Inilah pentingnya seleksi. Seleksi menjadi sebuah indicator mengenai kualitas status atau nilai yang akan kita inginkan, atau kita butuhkan.
Mendengar paparan itu, pikiranku melayang. Tidak bermaksud untuk mengomentari pandangan sahabatku tadi. Tetapi, bathinku bergerak pada satu titik tertentu, dan kemudian menyentuh kesadaran, hingga muncul sebuah pertanyaan lagi, mengapa, proses ini malah menjatuhkan mental kita sebagai peserta ujian ?
I

tulah kuasa bahasa. Papar sahabatku. Itulah kuasa kata. Karena kuasa bahasa itulah, seseorang bisa dijatuhkan dan atau dinaikkan derajatnya. Seorang dosen perguruan tinggi negeri terpandangpun, akan jatuh mentalnya, jika kemudian dia dihadapkan pada proses seleksi. Kebanggaan dirinya di lembaganya sendiri, tidak serta merta menyebabkan dirinya boleh dengan mudah melewati proses ini. Semua harus diseleksi ! semua harus diuji ! semua orang harus mengikuti tahapan ini !

Pekikan itu seolah membahana pada setiap orang yang hadir di ruangan itu, yang akan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi tersebut. Apapun atribut kita, entah dari desa atau kota, entah dari SMA atau PTN terpandang, entah wong cilik atau politisi terkenal, tetap mereka harus berhadapan dengan seleksi masuk perguruan tinggi dimaksud. Seperti yang terjadi saat itu.
Saya duduk diantara ratusan orang yang mengikuti ujian. Diantara rekan yang hadir saat itu, hanya sedikit orang yang beraura ceria. Kebanyakan mereka merasa was-was dalam menghadapi tes ini. Termasuk yang kurasakan saat itu. Hati ini terus berdebar, dan pikiran berputar untuk mencari siasat dalam menghadapi tes seleksi ini.
Kemudian sesaat dari itu, muncul sejumlah perenungan yang ingin kusampaikan pada rekan-rekan yang lain. Pertama, pikiranku sampai pada satu titik, mengenai karakter ujian. Mengapa proses seleksi itu, harus memberikan efek stress kepada para peserta ? inilah pertanyaan. Setiap orang yang akan diseleksi atau dites, tampak peningkatan reaksi emosinya. Sahabatku yang didepan, yang berasal dari perguruan tinggi negeri Bandung itu, mengatakan, kayanya perlu deh, hari ini kita ditensi, abis, denyut nadi ini kok berdebar kencang Ujarnya.
Kedua, pengetesan itu tetap penting, setidaknya untuk pengertian therapy kejut (shock therapy). Setelah terlena, dan terninabobokan oleh kegiatan rutin, kebanyakan orang terjebak pada situasi formal dan kaku. Pikiran kaku akan menjadi beku. Pikiran beku menjadi kaku. Dengan adanya pengetesan itu, kejutan-kejutan masalah, yang tidak pernah dipikirkan atau tidak pernah terpikirkan, hari itu menjadi bahan pemikiran.
Saya merasakan hal itu. Pengetesan itu penting. Kejutan pemikiran itu penting. Seperti yang terjadi dan teralami saat itu. Hal-hal sepele yang ditanyatakan dalam tes itu, ternyata dalam perspektif penguji memiliki kandungan makna dan masalah yang cukup pelik dan perlu dicermati dengan seksama. Seperti, mengenai kecepatan mengambil kesimpulan sesaat berhadapa dengan masalah kesulitan. Jumlah soal ada 20, tetapi waktu menjawab hanya 4 menit. Bentuk soal pun sangat sederhana. Tetapi, ketika seseorang terjebak oleh satu kesulitan, dan kemudian malah mentok ditahap itu, maka dia akan kehilangan peluang untuk menjawab soal yang mudah pada bagian lainnya. Di sinilah, antara kecepatan berfikir dalam memecahkan masalah, dengan kecepatan mengambil keputusan menjadi berimpitan, dan perlu dimiliki oleh setiap para peserta.
Terakhir, ini point yang kupikir penting pula untuk kita renungkan, melalui adanya pengetesan ini, ego kita akan diuji. Ego itu dalah pengertian psikologi. Dalam pengertian social politik, istilah ego dapat diartikan kredibilitas diri. Ada seorang peserta ujian, dia adalah politisi muda berasal dari sebuah partai besar di negeri ini. Wajahnya sangat familiar di media elektronik. Pede banget kalau berbicara. Lantang dan pertentang dalam menjawab pertanyaan kuli tinta, ataupun perdebatan wacana politik yang disajikan oleh para pengelola media. Namun demikian, popularitas dan kredibilitas dirinya itu, tidak menjadi jaminan akan mudah melewati ujian ini. Bahkan, tahap seleksi inilah yang akan menguji kredibilitas dirinya. Benar tidak dirinya itu cerdas ? kalau cerdas, ya..harus lulus. Begitulah sederhananya.
Perasaan itu, semuanya ku rasakan saat ini. Saya adalah guru. Dihadapan siswa saya merasa pintar. Tetapi saat ini, ego ini diuji. Dan kepalaku pun tertunduk dihadapan soal. Melalui kuasa bahasa, istilah seleksi telah membunuh egoku hingga bertekuk lutut dihadapan pengawas serta institusi penyelenggara ujian. Dihadapan soal ujian, ego tersungkur, untuk menggantungkan nasib masa depanku sendiri. Melalui kuasa bahasa, apapun latar belakang social kita, istilah seleksi telah mendegradasi mental seluruh peserta ujian menjadi tertunduk pasrah pada keputusan.

Advertisements