Dengan sedikit rasa was-was. Saya masuk ke ruangan uji teori masalah lalu lintas. Tahapan ini adalah tahapan ketiga, dalam proses pembuatan SIM. Sebenarnya, saya tidak bermaksud untuk membuat SIM baru. Karena, selama 10 tahun terakhir ini, sudah pernah memiliki SIM. Hanya karena tiga hari lalu, SIM itu hilang, maka hari ini terpaksa membuat lagi.

Ada pesan dari seorang teman, lebih baik lapor kehilangan ke pihak kepolisian. Dengan lapor itu, kita akan diupayakan untuk mendapatkan SIM yang lama kembali. Tetapi, ada juga yang berujar bahwa proses seperti itu, sama sulitnya dengan membuat yang baru. Oleh karena itu, terpaksa saya mengambil jalan untuk mengikuti prosedur resmi dalam pembuatan SIM baru. Dengan alasan itulah, hari ini, Senin di akhir bulan keenam, saya mengikuti tes uji teori masalah lalu lintas.
Duduk dibangku nomor 33. Namaku pun terpampang di layar monitor. Kemudian, tertera instruksi bahwa setiap peserta harus mentes alat uji dengan memijit option A untuk jawaban Salah, dan A, untuk jawaban Benar. Kedua option itu, perlu dites awal dulu, sekaligus menunjukkan kesiapan para peserta ujian. Saya pun pijit kedua option tersebut. Sehingga, secara serta merta, tertulislah di papan tulis, Sudah Siap. Artinya, sudah siap di tes uji teori masalah kelalulintasan.
Soal ada 30 butir. Setiap orang dituntut untuk menjawabnya. Setiap soal hanya memiliki doa pilihan (option). A atau B. A artinya Salah dan B artinya Benar. Bentuk soal yang diberikan, soal kasus dalam bentuk cerita berlalu lintas dan dibantu dengan animasi (gambar) pengendara. Misalnya ada satu kendaraan yang bergerak cepat di jalur jalan raya. Untuk mencapai kelulusan, seorang peserta harus mampu mengumpulkan nilai minimal 24 point. Dengan kata lain, standar ketuntasan minimalnya mencapai angka 80 %. Wah, cukup tinggi ini. Pikirku saat itu.
Pada dasarnya, soal-soal yang diberikan tidak terlalu sulit. Bukan pula masalah teori sebagaimana yang dimaksud dalam perkuliahan atau belajar di sekolah. Ujian ini, lebih mengarah pada mengingat pengalaman berlalu lintas, yang kemudian disandingkan dengan keharusan seorang pengendara berlalu lintas. Bila seseorang sangat cermat dalam berlalu lintas, harusnya —sekali lagi, saya tulis, harusnya— dapat dengan mudah melalui teori ini. Hanya menjadi hambatan dalam ujian ini, selain nervous juga kecermatan dalam melihat gambar.
Soal pertama. Mudah dilewati. Kedua bisa dijawab. Ketiga mulai sedikit ragu, tetapi selamat. Bisa. Terus berulang. Sampai pada beberapa soal sulit dihadapi. Ragu menjawab lagi. Eh, ternyata ada juga yang salah. Pikiranku mulai kalut, dan tidak tenang. Para penguji, selain harus siap menghadapi pertanyaan, juga harus siap dengan komentar dari instrument soal itu. Ketika kita salah menjawab, maka instrument soal itu akan memberikan reaksi penjelasan. Misalnya, kita menjawab benar, kemudian ternyata computer menganggap bahwa jawaban itu salah. Kemudian computer akan memberikan penjelasan terhadap kasus soal dimaksud. Dengan adanya koreksi dan penjelasan itulah, emosi atau bathin para peserta terhantam. Kaget. Degdegan. Dan was was.
Sekali lagi, saya merenung. Mengapa ujian ini, kok harus degdegan dan merasa tertekan. Mengapa kalau diuji setiap peserta harus terganggu bathinnya. Inilah pertanyaan yang menggelayut dipikiranku saat itu. Seperti yang sedang saya alami saat itu. Naik motor sudah hamper 15 tahunan lamanya. Dan hari ini diuji teori, malah mengalami kewaswasan kembali.
Butir demi butir sudah dilewati, dan kini sudah sampai pada nomor ketiga puluh. Rasa was-was sudah semakin besar. Pikiran mulai tidak konsentrasi. Dalam benak, sudah ada beberapa pertimbangan. Beberapa soal tadi ada yang terjawab salah. Dengan kata lain, mustahil bernilai 30. Namun, mampukah saya mencapai nilai minimal.
Sebuah motor roda berjalan lambat diantara perempatan jalan. Kemudian tanpa berhenti dulu, dia lalu melaju diperempat jalan itu. Tindakan motor berwarna merah itu, benar atau salah ! titah operator computer. Saat itu, untuk pertanyaan ini, saya telat memperhatikan gambar, dan hanya mendengarkan perintah saja. Akibatnya, mengalami kesulitan mengamati gerak motor roda dua. Yang tampak dalam mata, kendaraan itu melaju dan tidak berhenti. Karena waktu pun, hanya diberi 30 detik untuk berpikir, maka setiap peserta harus dengan segera menjawab pertanyaan itu. Dengan cepat, ku pijit pilihan jawabannnya dengan jawaban A atau salah. Dua rekan yang lainnya, sudah memberikan jawabannya.
Persoalannya, ketika semua orang sudah menjawab itu, kemudian instruktur dalam operator itu memberikan penjelasan, bahwa pengendara itu adalah benar, karena ketika melewati jalur perempatan jalan, dia harus mengurang kecepatan. Dengan kata lain, jawabanku bernilai salah.
Selesailah sudah ujian itu. Sesaat kemudian, lembar jawaban diproses. Dan dua detik berikutnya. Pengumuman hasil ujian ditayangkan dimonitor. Semua merasa degdegan. Karena langkah ini, akan menjadi modal untuk melangkah ke ujian praktek. Bila gagal, sudah pasti langkah ini akan menjadi sandungan untuk langkah selanjutnya. Degdegan terus terjadi. Dan saat itu, computer sudah memberikan jawaban, dua orang lulus, dan satu orang dinyatakan hanya bernilai 23, dengan kata lain, orang ini divonis TIDAK LULUS.
Subhanallah. Saya tidak lulus ! pekikku saat itu. Bagaimana ini ? mengapa ini terjadi ? celaka ? dan jutaan pertanyaan lainnya turut bermunculan. Panjang sudah perjalanan ini. Sulit sudah lika liku ini. Bagaimana nasib ini di hari esok. Besok hari kamis, jam 11 siang, ujian ulangan akan dilaksanakan untuk mereka yang tidak lulus. Dengan lemas, saya pun ke luar ruangan.
Itulah tahapan ujian SIM yang berlaku di Polwil Bandung. Siapapun dan kebutuhan SIM jenis apapun akan dihadapkan pada ujian teori dan ujian praktek. Sudah tentu, soal yang akan diberikan berbeda dengan jenis SIM yang akan dimintanya. Tahapan ini, merupakan tahapan wajib bagi mereka yang akan membuat SIM. Sebagaimana yang saya alami saat itu.
Pengalaman ini indah. Sungguh menarik. Saya pun merasa senang. Walaupun sebelumnya pernah mengalami tidak lulus ujian teori, tetapi SIM kini sudah didapat. Dengan pengalaman proses yang alami itu, kita akan dihadapkan pada sebuah pengalaman, pengetahuan dan keterampilan berlalu lintas minimal secara benar. Pengalaman bermotor yang benar. Pengetahuan masalah lalu lintas dengan benar. Dan pengalaman menjalani likaliku jalan raya secara benar. Melalui pengalaman ujian itulah, sejumlah hal yang semula dianggap remeh temeh seperti membawa barang dengan menggunakan motormenjadi sesuatu yang benar-benar bermakna besar bagi kita semua. Khususnya bagi keamanan pengendara maupun orang lain.
Bagi anak muda, atau siapapun, jalanilah prosedur itu. Karena dengan menjalani prosedur itu. Selain kita akan mendapatkan pengalaman bathin mengikuti prosedur yang benar, sekaligus kita akan mendapatkan pelayanan yang benar, dan berbiaya murah. Membuat SIM nembak, selain tidak memberikan pengalaman bathin diuji, juga harus mengeluarkan kocek cukup besar. Ketika, dihari berikutnta ada berita bahwa membuat SIM C itu, naik dari Rp. 75.000 menjadi Rp. 100.000, para pembuat SIM nembak pasti kaget, karena jangankan untuk naik, sekarang saja, bisa mencapai angka Rp.300.000. Membuat SIM C, Tiga ratus ribu ! itu jika nembak atau melalui calo. Oleh karena itu, mdnjalani prosedur itu jauh lebih baik, sekaligus akan menyadarkan kita mengenai etika berlalu lintas.

Hidup terasa mudah, jika sudah sesuai dengan prosedur. Hidup mahal itu, bila kita melanggar prosedur. Inilah kenyataan hidup kita saat ini.Indah nian hidup ini.

Advertisements