Pak, malam ini anak kami mau nginap di sekolah ? tanya seorang ibu, kepada Pak Ade. Kepala TU yang sekaligus merangkap sebagai penanggungjawab keamanan sekolah ini, adalah orang yang paling getol menerima telepon dari orangtua siswa. Seperti malam itu. Ada seorang ibu, yang menanyakan keberadaannya anak di sekolah, sebuah sekolah kejuruan yang ada di Kota Bandung.

Saya adalah orang baru di sekolah ini. Tetapi bila dikaitkan dengan sejarah berdirinya sekolah, sudah tentu, hanya bertaut 1,5 tahun bedanya antara masa kerjaku dengan masa berdirinya sekolah ini. Namun sebagai guru yang baru honor di sekolah ini, saya merasakan ada aura yang berbeda dengan lingkungan kerja di satker yang lainnya.
Di sekolah ini, prinsip belajar tuntas menjadi satu hukum-mengajar dan atau hukum-belajar yang mutlak. Setiap guru, termasuk kepala sekolah memegang teguh prinsip belajar tuntas. Seperti yang sedang dihadapi oleh anaknya dari orangtua yang mengontak ke Pak Ade tersebut.
Jam di malam itu sudah menunjukkan angka pukul 20.00 WIB. Sejumlah anak masih sibuk di ruang laboratorium komputer. Guru pembimbing pun masih berseliweran, baik di lab maupun di ruang guru. Tidak jumlah guru yang hadir itu. Tetapi jumlahnya mencukupi sebagai guru pembimbing. Ada 3 orang guru, dan 1 orang kepala sekolah yang hadir di malam itu. Sedangkan anak yang hadir sekitar 10 orang. Saya pun hadir ditengah-tengah kesibukan proses pembelajaran malam itu.
Ini bukan sekolah malam. Ini adalah sekolah pagi. Tegas Kepala sekolah. Sekolah ini pun, bukanlah sekolah fullday. Sekolah ini adalah sekolah yang mengedepankan prinsip belajar tuntas. Papar Pimpinan sekolah ini.
Konsepsi belajar tuntasnya itulah, yang menyebabkan fenomena ini muncul di sekolah ini. Bagi kami waktu itu, belajar tuntas itu, dimaknai dalam dua makna, (a) tuntas sesuai dengan tuntutan kurikulum, atau standar minimal kurikulum, dan (b) tuntas sementara rasakeingintahuan siswa dalam satu pelajaran tertentu.
Prinsip yang kedua ini, memang cenderung memiliki kekenyalan yang sangat luar biasa. Artinya, ketuntasan rasa ingin tahu siswa itu berbeda-beda, sehingga waktu belajar pun bisa berbeda. Itu adalah fakta yang akan dihadapi. Namun, dibalik itu semua, prinsip kemanusiaan kita semua jalan. Setiap kita memiliki daya dukung biologis tertentu. Dan karena adanya daya dukung biologis itulah, maka manusia akan memiliki kebutuhan untuk beristirahat sejenak, dan untuk kemudian kelak dilanjutkan lagi. Inilah yang dimaksud dengan tuntas sementara.
Bila kita mengenal istilah workcholik untuk yang gila kerja, atau bookcholik untuk yang gila baca buku, maka di sekolah inilah saya melihat siswa dan guru yang learncholik atau gila belajar. Dengan prinsip itulah, maka saya benar-benar melihat makna semua anak pada dasarnya tidak ada yang bodoh, dan siswa butuh belajar tuntas. Tuntas dalam materi, dan tuntas dalam rasa kepenasarannya.
Pada konteks itulah, prinsip mendidik dan membina anak supaya tetap mau belajar menjadi realistik. Hal itu, bukan saja karena prinsip psikologi belajar yang lebih humanis, tetapi didukung pula dengan spirit pendidikan, dan atau lingkungan belajar yang memberdayakan. Untuk sampai titik itu, dunia pendidikan kita masih sangat jauh. Karena yang ada itu, guru lebih mengutamakan ketuntasan materi kurukulum, dan atau kejenuhan gurunya dalam mengajar.

Belajar tuntas yang ada saat ini, lebih karena guru kehabisan materi, atau guru sudah malas menerangkan. Akhirnya pelajaran ditutup, dan anak diberi ganjaran seenak hatinya sang guru tersebut.

Inilah keprihatinan kita terhadap dunia pendidikan ini.

Advertisements