Baru kali ini, Jasur menunjukkan kekecewaan yang cukup mendalam. Biasanya, kendati sekuat apapun benturan perbedaan pendapat, dengan siapapun terjadi perbedaan pandangan, Jasur tak pernah merasa sedih apalagi harus berduka. Di gua tempat dirinya bersemedi, Jasur tersungkur dan bersedih hati, tersedu sedan, meratapi apa yang terjadi.


Ada apa Jasur ? sapa Wulung yang kebetulan pula baru saja melakukan semedi di tempatnya ini.
Apa yang salah pada diriku ? keluh Jasur, mengapa ada orang yang berani melarangku untuk menyatakan pendapat.
yaya.. jawab Wulung. So..pasti, tidak ada dan tidak boleh ada orang yang melarang kita mengajukan pendapat. Ini adalah kerajaan kita, kerajaan republic hutan (KRH).
saya tahu, saya adalah orang baru yang diangkat sebagai menteri di kerajaan ini. dan saya memang bukan keturunan raja, apakah gak boleh kalau aku bertanya mengenai bagaimana kita menyusun anggaran rumah tangga keluarga kerajaan ? Walau bukan menteri sepuh, ku ingin kerajaan ini memiliki mekanisme anggaran rumah tangga yang sehat. Bersih. Mensejahterakan seluruh rakyat kerajaan hutan.
Mendengar keluhan tersebut, Wulung mulai memahami apa yang sedang terjadi pada kasus yang sedang dialami Jasur. Dia melihat, bahwa Jasur ini adalah anggota cabinet yang memang agak berbeda dengan anggota cabinet kerajaan hutan yang lainnya. Jasur adalah satu dari sebagian kecil anggota cabinet yang kerap menunjukkan sikap berbeda dengan anggota kerajaan. Pandangan atau pemikirannya kerap membuat telinga anggota kerajaan merah dan tersentil emosinya.
Jasur. Mungkin, karena orang tuanya ingin menjadikan anaknya sebagai pemberani itulah, dia sebut Jasur. Atau mungkin karena namanya itulah, Jasur, maka dia berani mengemukan pendapat dihadapan rapat kerajaan itu sendiri. Hanya saja, keberanian saja ternyata tidak cukup. Dalam sebuah perjuangan, kita bukan saja membutuhkan keberanian, tetapi butuh pula pertahanan mental dan sosial untuk mendapatkan sebuah kemenangan.

-o0o-

Tidak ada yang aneh dalam rapat tadi pagi itu. Semua duduk dalam bentuk lingkaran, serta menghadapi meja yang sudah tersajikan berbagai buah-buahan dari kekayaan sumberdaya alam kerajaan hutan ini. Dari sebelah kiri, duduk perdana menteri, kemudian para menteri, para bupati, dan tidak lupa hadir pula para pemborong yang suka ikut serta dalam melaksanakan tugas-tugas kerajanaan.
Rapat dibuka oleh menteri bidang penduduk. Dia menyampaikan bahwa akan diselenggarakan pelantikan taruna dari perguruan yang diselenggarakan kerajaan ini. Panitia penyelenggara pelantikan taruna itu, dikomandani oleh menteri kependudukan, dan dibantu oleh bupati pilihan. Setelah memaparkan persiapannya, kemudian setiap orang diberi kesempatan untuk memberikan komentar terhadap rencana acara tersebut.
Satu persatu mereka bicara. Pembicaraan masih terasa adem. Tidak ada yang memberikan mengangetkan. Menteri yang satu berbicara mengatakan, bahwa ini pesta kerajaan akhir tahun. Menteri yang lain mengatakan kita perlu bekerjasama. Bahwa sang Raja, berpesan mengenai nilai-nilai penting dari prosesi acara tersebut. Semua bicara dan suasana adem-adem saja.
Terasa mata membelalak, dan telinga mulai terbuka, ketika Jasur mulai mengucapkan salam.
Salam rimba. Semoga warga kerajaan kita berada tetap pada lindungan penguasa alam. Mata peserta yang hadir mulai terbuka, dan seolah ingin mendengar apa yang ingin disampaikan Jasur. Kemudian Jasur membawa selembar coretan, hitungan mengenai kondisi gudang. Selebaran itu, diantaranya disampaikan pula kepada Sang Raja.
Terima kasih atas kesempatannya. Saya ingin menyampaikan pendapat, yang mungkin sekedar mengingatkan atau mengajukan proposal sebagaimana yang telah disampaikan kepada Bupati yang menjadi kepala gudang makanan.
Kebetulan kerajaan kita akan membuat tempat persemediaan, yang jauh lebih besar dan lebih baik. Sebagai menteri yang bertanggungjawab terhadap pembangunan tempat semedi ini, melalui Menteri terkait saya ingin mengajukan saran kepada pemborong kegiatan ini. Namun, sebelum menyebutkan ajuan proposal ini saya ingin sampaikan dulu latar belakangnya…
Tadi Kepala gudang menyebutkan bahwa beras yang kita miliki ini, masih sedikit. Hanya ada 220 kepala keluarga yang memberikan upeti beras ke kerajaan. Jadi, kalau setiap kepala keluarga hanya memberikan 2 karung beras, berarti kita hanya memiliki 400 lebih karung beras. Dalam hitungan Kepala Gudang, itu tidak cukup dan ingin mengajukan beras tambahan ke gudang kerajaan.
Saya mohon maaf. Ini memang sedikit telat mengajukan pandangan ini. tetapi, ini pun lebih karena saya baru pertama kali menjadi anggota kabinet, dan baru kali ini ada pertemuan untuk acara ini. namun, saya merasa penting untuk memberikan gambaran bahwa kekuatan beras kita masih kuat. Karena sesungguhnya, dalam hitungan saya….kata Jasur, kita hanya butuh 350 karung beras. Ini kalau kita mau hemat. Dengan kata lain, masih ada sisa sekitar 50 karung beras lagi, dan ini akan jauh lebih besar lagi kalau Kepala Gudang mengajukan lagi tambahan ke Gudang Negara. Jadi………..
Stop. Dulu. Jasur jangan terus bicara itu..sergah seorang panitia dari belakang, yang juga seorang bupati. Saudara Jasur, tidak berhak bicara begitu….
Mengapa ? Jasur balik bertanya agak heran.
Jasur tidak berhak bertanya. Saya sudah tahu. Walau pun tadi saudara Jasur melaporkan ke Kepala Gudang, tetapi selebaran yang tadi dibacakan itu saya sudah baca.
terus? Jasur masih tidak mengerti.
termasuk masalah ketua panitia kali ini. Masa Ketua Panitia pelantikan dipimpin oleh Menteri yang tidak berhubungan dengan pendidikan. Dan tolong, tidak bicara dulu tentang persediaan gudang. Saudara Jasur tidak berhak, karena panitia juga sudah membuat rancangan anggaran. Dengan nada yang sangat tinggi !!!
tapi.. saya juga panitia, bahkan dewan pengarah ?
tapi, saudara tidak berhak ngomong di sini…timpas bupati tersebut.
tidak berhak ? Jasur lebih tidak mengerti lagi, Saudara Bupati, saya ini……..Menteri.
Jangan ngomong saat ini suaranya meninggi !!!
Oke. Kalau begitu. Ingat, saya ini Panitia. Saya adalah Menteri. Anda itu hanya Bupati. Tetapi karena ada melarang saya berbicara, dan menganggap saya tidak berhak untuk berbicara ini. Saya keluar dari ruangan. Saya mundur !!! ucapnya tegas dengan penuh nada emosi, sambil berdiri dan menuju pintu.
Semua orang yang hadir tersentak. Kaget melihat drama 5 menitan ini. Tidak menyangka, akan terjadi seperti ini. mungkin diantara mereka juga ada darah yang tengah mendidih, meningkat menuju tenggorokan atau otak untuk turut berbicara terhadap masalah ini. tetapi mereka tidak sekuat dan seberani dua orang yang sedang beradu mulut di ruangan itu. Raja Hutan pun terdiam. Membisu. Hanya menatap anggotanya beradu paham dengan panita pemborong tersebut. Melihat gelagat seperti itu, beberapa bupati yang lainnya berusaha mencoba untuk menghalangi Jasur ke luar ruangan.
Saya tidak mau rapat. Kecuali, cabut dulu perkataan dia. Saya ini Menteri. Saya juga panitia. Mengapa tidak berhak bicara masalah anggaran !!! saya tidak mau rapat. Kecuali cabut dulu pernyataan itu ucapnya dengan nada emosi.
Jasur ke luar ruangan dan terus maju ke tempat kerja. Dari sana dia masuk ke pancuran air, untuk membasuh muka, tangan dan sebagian tubuhnya yang terasa mendidih. Setelah itu, dia pergi ke tempat persemediaan.
Di sinilah dia bertemu dengan Wulung, seorang guru spiritual dalam kerajaan hutan tersebut.

-o0o-

Dalam pemikirannya. Baru kali ini, ada forum rapat kerajaan membiarkan seorang menteri diberhentikan ngomongnya, pendapatnya, dan dibungkam haknya oleh seorang bupati. Inilah masalahnya. Kok masih ada.
Pikirannya menerawang ke berbagai penjuru bumi. Dan berusaha untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam ruangan itu, atau apa yang sedang terjadi pada kerajaan tempat dirinya mengabdi. Dia mengingat-ingat kembali, beberapa kejadian yang sempat dilihatnya sebelum dirinya diangkat menjadi menteri.
Kerajaan ini adalah hutan belantara yang masih sangat perawan. Artinya, memiliki banyak kayu hutan, buah-buahan, dan juga sumberdaya alam lainnya. Menurut kerajaan hutan di pulau yang lain, kerajaan tempat Jasur tinggal ini, adalah kerajaan yang kaya raya. Tidak mungkin ada warga hutan yang kekurangan. Tidak mungkin ada anak-anak yang kelaparan. Pendidikan, kesehatan dan ekonominya harus sudah makmur, lebih makmur dari kerajaan hutan yang lainnya, atau kerajaan laut dan darat. Tetapi bagi sekelompok warga hutan ini, pandangan orang luar itu tidak seluruhnya benar. Walau tidak seluruhnya salah. Tetapi, banyak warga hutan pun yang tak mengerti. Termasuk Jasur tidak mengerti. Dan mengapa hari ini pun dia dihadapkan pada sikap Bupati itu, yang membuat dirinya pun tidak mengerti. Tidak Mengerti.
Padahal, saya hanya menginginkan, hak sipil saya untuk berpendapat, hargailah. Apalagi, saya ini panitia, dewan pengarah lagi, dan lagi pula saya juga Menteri. Kok disebut tidak berhak…?keluhnya, lagi pula, saya hanya ingin mengingatkan kepada Panitia Pemborong mengenai rencana pembangunan tempat semedi seluruh warga kerajaan Hutan ini, tapi kok disebut tidak berhak….
Mendengar kesedihan dan cerita panjangnya itu, kemudian Wulung memberikan pandangan, Maksud Bupati itu mungkin benar, tetapi hasrat Pak Menteri lebih benar lagi. Jadi ini adalah hanya soal salah paham saja. Lebih baik, bicara lagi dengan baik, karena tidak ada masalah tanpa pemecahan masalahnya. Nasihatnya.
Mudah-mudahan.
Kerajaan pun kembali sunyi. Sesunyi suasana hari-hari biasanya lagi.

Advertisements