Pada dokumen sistem pendidikan nasional, ada beberapa istilah yang dikembangkan Pemerintah terkait status/standar satuan pendidikan. Mulai dari Sekolah Berstandar Internasional (SBI), rintisan sekolah berstandar Internasional/madrasah bertaraf internasional (RSBI/MABI), Sekolah berstandar Nasional/Sekolah Kategori Mandiri (SBN/SKM), dan sudah tentu ada satuan pendidikan yang berada di bawah standar nasional. Semua hal itu, memiliki kebutuhan, tantangan, implikasi dan kriteria.

Latar Belakang

Bila berbicara program remidial, sudah tentu banyak orang yang sepakat, bahwa program remidial itu penting bagi pengelola satuan pendidikan. Bukan hanya, bagi kelompok sekolah di bawah standar nasional, sekolah stadar nasional (sekolah kategori mandiri) dan sekolah bertaraf internasional pun, masih memungkinkan adanya satu kebutuhan terhadap pelaksanaan program remidial. Alasannya, katanya, karena di setiap sekolah potensial ditempati peserta didik berkemampuan di bawah rata-rata. Sementara terkait dengan program pengayaan, apakah program ini perlu dilakukan di sekolah-sekolah yang belum termasuk kategori internasional atau kategori mandiri ?

Sebagaimana dimaklumi bersama, sekolah/madrasah di Indonesia, masih banyak yang berada pada tingkat kategori mandiri atau dibawah standar kategori mandiri. Kiranya, bila digunakan grafik, mirip berlian tegak. Puncak berlian, yaitu sekolah kategori internasional, dan mayoritas (dasar kerucut) adalah sekolah standar nasional. Garis tengah adalah garis standar nasional (baca : standar normal), sedangkan ujung berlian berikutnya adalah sekolah belum berkategori mandiri.

Di Kota Bandung, misalnya, dari sekitar 20 madrasah aliyah, hanya ada satu madrasah rintisan internasional. Sedangkan sisanya, adalah sekolah/madrasah kategori mandiri atau dibawah kategori mandiri. Oleh karena itu, pertanyaan tadi, yakni perlukah program pengayaan dikembangkan di madrasah kategori (yang belum) mandiri ?

Tanpa harus terjebak pada sikap pesimistik (underestimate) atau optimistic (overestimate) terhadap kualitas dan lulusan pendidikan kita, kiranya kita dapat melakukan penggambaran yang lebih nyata mengenai potensi anak-anak kita, di lingkungan madrasah kita. Inilah hal penting yang perlu kita lakukan bersama.

Secara faktual (empiris), kita menemukan sejumlah informasi yang relevan dan perlu diwacanakan dalam forum ini terkait dengan kebutuhan kita dalam mengembangkan program pengayaan.

Pertama
, jelas sudah, siswa yang hadir di lingkungan madrasah memiliki keragaman yang sangat ekstrim. Mulai dari yang hafidz quran sampai ada yang belum bisa baca al-Quran, mulai yang fasih bahasa arab sampai ada yang belum tahu alif bata. Ini adalah fakta yang ditimbulkan dari proses rekruitmen peserta didik di Madrasah Aliyah yang terbuka (tanpa memperhatikan latar belakang satuan pendidikan sebelumnya), dan standar kelulusan seleksi hanya berbasis pada nilai ketuntasan Ujian Nasional.

Di lingkungan MAN 2 Kota Bandung, misalnya, sebagai sekolah kategori mandiri (standar nasional), kondisi ini tampak dengan jelas. Perbedaan antara kelompok tinggi dengan kelompok rendah tampak mencolok. Perbedaan ini sangat terasa, khususnya di semester pertama kelas X, atau awal proses pembelajaran. Misalnya saja, dalam satu kelas ada siswa yang sudah hafal 10 juz, dan ada yang baru iqra (standar ketuntas baca quran yang sangat minim). Kemudian ada siswa yang sudah bisa qirat (dengan lagam) tapi ada pula yang belum bisa baca. Pengaruhnya sangat jelas, bila kelompok tinggi tidak mendapat pelayanan pendidikan yang lebih dibandingkan dengan kelompok yang lainnya, maka dia akan menunjukkan perilaku belajar yang tidak sehat. Malas, frustasi, suka menggangu, atau malah menjadi alasan dirinya untuk berbuat nakal. Hal itu, bisa disebabkan karena anak-anak yang berkemampuan lebih tidak mendapat pelayanan pendidikan yang memuaskan.


Kedua
, dalam satu kelompok sosial anak didik, akan dengan mudah ditemukan keragaman kemampuan. Ada anak yang standar, dibawah standar dan di atas standar. Tidak jadi persoalan soal tingkat IQ. Tetapi, kita, dimanapun mengajarnya, akan berhadapan dengan kondisi ini. Anak manusia tidak sama. Kemampuannya pun berbeda-beda. Inilah kondisi ril di sekolah/madrasah.

Pada bagian ini pun, grafik berlian sebagaimana dikemukakan sebelumnya masih berlaku. Mayoritas peserta didik yakni berkemampuan biasa, sedangkan minoritasnya ada yang berkemampuan di atas rata-rata, dan ada pula yang dibawah rata-rata. Ujung berlian bawah membutuhkan program remidial, sedangkan ujung berlian atas membutuhkan program pengayaan.

Oleh karena itu, cap kemampuan di atas rata-rata tidak selamaya kita gunakan untuk kategori patokan sesuai dengan test intellegensi. Tidak perlu demikian. Setidaknya, untuk kepentingan praktis kita di lingkungan sekolah, kita bisa menggunakan untuk kepentingan standar normatif (norm reference measurement) atau standar lokal. Norm-referenced interpretation is a relative interpretation based on an individual position with respect to some group. Dengan kata lain, standar kemampuan itu, disesuaikan dengan kondisi kemampuan anak-anak dalam kelompok atau di madrasah masing-masing.

Fakta kategori kedua ini, kita sebut, kelompok anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dari kelompoknya. Sedangkan untuk kategori pertama, yaitu kelompok siswa yang memiliki kemampuan diatas rata dari tingkat kecerdasannya (tes IQ).

Dengan asumsi-asumsi itulah, dimanapun kita mengajar (SBN/SKM, RSBI atau SBI) maka program pengayaan menjadi sangat penting. Program pengayaan, menjadi satu kebutuhan, untuk memenuhi kebutuhan lebih dari anak-anak berkebutuhan khusus, seperti yang memiliki kemampuan diatas rata-rata (sesuai tes IQ), maupun kemampuan di atas rata-rata kelompoknya.

Arti Konsep Pengayaan

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa program pengayaan lahir sebagai respon (jawaban) terhadap adanya keunikan kemampuan peserta didik. Keunikan ini, bisa bersifat kuantatif maupun kualitatif. Keunikan kuantitatif, yaitu keunikan berdasarkan tes IQ, sedangkan keunikan kualitatif yaitu sesuai dengan kelompok belajarnya masing-masing. Karena ada keunikan yang bersifat individual itulah, dan kemudian muncul ada peserta didik yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, maka program pengayaan dibutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa program remidial maupun pengayaan, tidak bergantung pada status standar sekolahnya, namun lebih difokuskan pada kebutuhan anak dalam konteks individual.

Bila diperhatikan, dokumen pemerintah, kita dapat menyebutkan bahwa program pengayaan (enrichment program) merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), program pengayaan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Sebagaimana dimaklumi bersama, pada Standar Nasional Pendidikan ditetapkan bahwa setiap satuan pendidikan dituntut untuk memiliki standar ketuntasan minimal dan/atau standar kelulusan siswa. Standar minimal pendidikan ini, menjadi indicator (kuantitatif) terhadap hasil capaian pembelajaran. Bagi siswa, yang dinyatakan memiliki kemampuan dibawah standar, dan atau belum mencapai standar minimal, membutuhkan program remedial teaching/test, sedangkan bagi mereka yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, membutuhkan program pengayaan (enrichment learning).

Istilah Enrichment digunakan secara luas untuk menjelaskan kegiatan pembelajaran untuk anak berbakat. Dalam sebuah dokumen A Guide For Developing Gifted Curriculum Dokument yang dikeluakan Gifted Associated of Missouri, (2000:34) ditegaskan bahwa program pengayaan itu dapat dikembangkan dalam model orientasi pada topik, pengalaman, dan sumberdaya di luar program kurikulum reguler, sehingga siswa mendapat tantangan dan peluangan pendalaman materi pembelajaran.

Clendening dan Davies (1983) mendefinisikan Enrichment sebagai pengalaman belajar yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, atau perpanjangan dari sebuah instruksi yang lebih luas dari isi mata pelajaran, buku teks dan pembelajaran kelas yang terbatas.

Enrichment atau Pengayaan didefinisikan sebagai pengayaan di kelas reguler. Menurut Freehill (1982) , Pengayaan bagi anak berbakat mementingkan keberagaman dan eksplorasi daripada pengerjaan tugas dengan tepat dan intensif. Enrichment juga didefinisikan sebagai pengayaan yang mendalam.

Sementara dalam Panduan KTSP pengayaan dimaknai ……sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya.

Pentingnya program pengayaan ini, pernah dikaji secara akademik oleh Sunardi (2000). Dari hasil penelitiannya, Sunardi memberikan kesimpulan bahwa :

At the end of the program, it was indicated that the experimental group scored significantly higher than the control group. The enrichment activities were effective in improving students’ performance

Hemat kata, program pengayaan merupakan kebutuhan strategis dalam meningkatkan pelayanan pendidikan kepada peserta didik, sekaligus meningkatkan kemampuan riil peserta didik.

Maksimalnya guru dalam mengajar, akan memaksimalkan potensi peserta didik, kendati mungkin hasilnya belajarnya minim.

Oleh karena itu, andai guru itu tidak bisa memaksimalkan gaya mengajar, maka potensi anak tidak akan maksimal, dan hasil belajarnya, jauh lebih minim dari apa yang seharusnya bisa ditunjukkan. Program pengayaan, adalah upaya memaksimalkan potensi anak didik.

Asumsi Yang Dikembangkan

Selain alasan yang dikemukakan sebelumnya, setidaknya kita dapat mengemukakan lagi dua alasan yang mendasari pentingnya program pengayaan di lingkungan madrasah.

Pertama, yaitu mengacu pada prinsip pembelajaran tuntas. Prinsip belajar tuntas (mastery learning), yaitu sistem belajar yang mengharapkan sebagian besar siswa dapat menguasai tujuan instruksional umum dari suatu satuan pelajaran secara tuntas. Standar normal penguasaan tuntas adalah 85% dari populasi siswa harus menguasai sekurang-kurangnya 75% dari tujuan instruksional yang hendak dicapai.

Acuan ini memiliki konsekuensi, yaitu adanya klasifikasi siswa, yang (a) dibawah standar, (b) sesuatu standar, dan (c) diatas standar. Perbedaan capaian prestasi siswa itu, berkonsekuensi terhadap perlunya perlakuan pembelajaran yang berbeda pula. Kelompok yang dibawah standar, membutuhkan remedial teaching, yang standar masuk ke program reguler, dan yang di atas standar membutuhkan pengayaan pembelajaran.

Kedua, guru memiliki kewajiban moral untuk menjaga stabilitas dan progresivitas hasrat belajar siswa. Terkait dengan hal ini, setiap guru perlu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dasar dalam belajar. Dalam konteksinilah, program pengayaan dimaknai sebagai treatement atau pelayanan dari guru dan atau lembaga pendidikan terhadap kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Dalam teori psikologi, anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, potensial memiiki sikap disinkronik atau asinkronik, yaitu adanya ketidakseimbangan percepatan perkembangan antar aspek dalam dirinya (internal disinkronik), atau dengan lingkungan sebayanya (eksternal disinkronik) . Bila seorang guru, tidak mampu memahami, mengerti, dan atau memberikan pelayanan yang memuaskan bagi peserta didik tersebut, maka dia potensial menunjukkan perilaku yang nakal.

Dalam rangka mengurangi perilaku berlebihan dari anak cerdas itu, saya menganjurkan untuk menggunakan prinsip overload dalam pembelajaran. Prinsip overload, yaitu pelayanan standar pendidikan satu digit di atas kemampuan rata-rata riil saat ini, dengan harapan anak mendapat rangsangan terus bergairah belajar. Artinya, bila hari ini dia baru mampu mengangkat beban 5 kg, maka tugas yang diberikannya adalah 5,5 kg. agenda ini, selain merangsang juga memberi tantangan yang menggairahkan kepada pesert didik.

Tugas atau beban yang sedikit lebih berat dari kemampuan riil, akan memberikan rangsangan kepada anak untuk terus meningkatkan kualitasnya, sedangkan beban yang ringan apalagi terlalu ringan akan membuat anak malas dan bahkan frustasi.

Strategi Pembelajaran Pengayaan

Pengembangan model pembelajaran pengayaan ini, bisa dilakukan dalam beberapa model. Setidaknya, kita melihat dari dua sudut pandang, yaitu peserta didik, dan content.

Bila dilihat dari sisi peserta didik, maka program pembelajaran pengayaan, dapat dilakuka dengan meminjam kategori dari Renzulli (1977). Model Tiga Jenis Pengayaan dari Renzulli (1977 dalam Munandar, 1999) dapat digunakan untuk program pengayaan siswa berbakat. Renzulli merumuskan pengayaan sebagai pengalaman atau kegiatan yang di luar/di atas jangkauan kurikulum biasa. Model ini menggunakan tiga jenis pengayaan untuk memberikan program yang sesuai bagi siswa berbakat:

Pertama, Kegiatan Penjajakan Umum (General Exploratory Activities). Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak tercakup dalam kurikulum. Kegiatan ini dapat berupa karya wisata, pembicara tamu, wawancara, bacaan, film, atau pusat studi..

Kedua, Kegiatan Pelatihan Kelompok (Group Training Activities). Kegiatan Pelatihan Kelompok mencakup metode, bahan, dan teknik instruksional yang terutama berkaitan dengan pengembangan proses berpikir dan perasaan. Misalnya, Sumbangsaran, Observasi, Membuat hipotesis, Mengklasifikasi. Menilai,Tujuan akhir dari tingkat ini untuk siswa berbakat adalah untuk membangun keterampilan proses yang diperlukan untuk tingkat berikutnya.

Ketiga, Pengkajian Kelompok Kecil dari Masalah Dunia Nyata (Small Group Investigations of Real World Problems). Penelitian perorangan dan kelompok kecil mengenai masalah dunia nyata merupakan pangsa (segmen) terakhir dari model ini. Dalam kegiatan pengayaan ini siswa menjadi peneliti topik atau masalah nyata dan menggunakan metode inquiry untuk menemukan solusi. Siswa yang berminat terhadap tanaman melakukan penelitian seperti seorang ahli tanaman. Studi tentang bintang-bintang menggunakan teknik-teknik yang sama seperti dari seorang ahli astronomi. Kemajemukan dari tugas-tugas ini dan keuletan yang diperlukan untuk merancang dan melaksanakan penyelidikan membuat jenis kegiatan ini cocok untuk siswa berbakat.

Sedangkan bila dikaitkan dengan kontennya, pengayaan itu dapat dilakukan dengan teknik :

1. Pemadatan kurikulum. Tujuan dari pembelajarna ini, hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing .

2. Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.

3. Pembelajaran Pendalaman, yaitu pengembangan indicator pencapaian KD. Dalam sebuah silabus, seorang guru telah menetapkan jumlah KD tertentu. Terkait dengan program pengayaan ini, jumlah indicator dapat dikembangkan jauh lebih luas atau lebih dalam dari KD standar.

Selain pendekatan itu, dapat dilakukan menggunakan model-model yang lain. Misalnya dengan menggunakan pendekatan proses, yaitu mengembangkan Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri. Bentuk yang lainnya, yaitu model pemecahan masalah (problem based learning) yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah.

Dalam pelaksanaan, program pengayaan ini dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Pada pedoman pembelajaran pengayaan, dinyatakan :

penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini terutama terkait dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran sekolah biasa. Namun demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah dapat juga memfasilitasi peserta didik dengan kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan pengembangan diri dengan spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk bidang sains. Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun internasional seperti olimpiade internasional……..

Manfaatnya Bagi Guru
Di luar persoalan tersebut, seesungguhnya kehadiran program pengayaan tidak selamanya terkait dengan kebutuhan peserta didik. Tidak demikian. Program pengayaan erat kaitannya dengan kebutuhan guru dalam menjalankan tugasnya. Khususnya, terkait dengan kebutuhan untuk memenuhi beban mengajar sebanyak 24 jam.

Menurut Pedoman Penghitungan Beban Kerja Guru (Dirjen PPMTK, 2008),

Guru tetap yang tidak dapat memenuhi beban kerja minimal 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan maksimal 40 (empat puluh) jam tatap muka per minggu pada satuan pendidikan di mana dia diangkat sebagai guru tetap, dapat diberi tugas melaksanakan pengayaan dan remedial khusus.

Pengayaan dan remedial khusus memiliki prinsip bahwa penugasan secara khusus bagi satu orang guru untuk kelompok peserta didik yang memerlukan bimbingan secara khusus. Guru yang medapat tugas tersebut disetarakan dengan beban mengajar 2 jam perminggu.

Ini menunjukkan bahwa program pengayaan memiliki fungsi penting dalam menggenapkan beban kerja guru.

Penutup

Melalui paparan ini, kita melihat bahwa program pengayaan, merupakan satu alternatif dalam pengembangan pelayanan pendidikan, peningkatan kualitas peserta didik, dan kebutuhan administrasi guru dalam melaksanakan tugas pendidikan.

-o0o-

Tema ini disajikan dalam Inhouse Training (IHT) di MAN 2 Kota Bandung, tanggal 27 Februari 2010.

Rujukan
1. A Guide For Developing Gifted Curriculum Document. Missouri. 2000. http://dese.mo.gov/divimprove/gifted/ resources/curriculumguide.pdf

2. Clendening, C.P. & Davies, R.A. (1983). Challenging the Gifted. Curriculum Enrichment and Acceleration Models. New York: R.R. Bowker Company.

3. Depdiknas. 2008. Sistem Penilaian KTSP: Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pengayaan.

4. Freehill, M.F. (1982). Gifted Children: Their Psychology and Education. California: Ventura County Superintendent of Schools Office

5. http://puskat.psikologi.ui.ac.id/index.php/artikel/Enrichment-Program.html. lihat Munandar, S.C.U. 1999. Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif & Bakat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

6. Julia Maria van Tiel Adi D Adinugroho, dan Ines Wuri Handayani. 2007. Teori Giftednes. http://gifted-disinkroni.com/TeoriGiftedness.pdf

7. Pedoman Penghitungan beban Kerja Guru. Dirjen PMTK. 2008

8. Sunardi. Keefektifan Program Pengayaan nonsegregatif pada Prestasi Belajar Siswa Unggul di SMU. Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP), Vo 7 Nomor 2 tahun 2000. Malang : UNM http://journal.um.ac.id/index.php/jip/article/viewArticle/621

Advertisements