Bismillahirrahmanirrahim,

Hari ini, tanggal 12 rabiul awal merupakan hari bersejarah bagi umat Islam. Sebagai kaum muslim, sudah sepatutnya kita hari ini mengajukan pertanyaan terkait dengan peristiwa 12 rabiul awal ini. Apa pelajaran penting dari peristiwa rabiul awwal ini ? apa hikmahnya bagi kita saat ini ? dan apa yang harus kita lakukan saat ini, sehingga kita benar-benar mampu menghayati nikmatnya rabiul awwal, dan nikmatnya hidup.

Hadirin yang dimuliakan Allah Swt.

Bila dibuka buku sejarah, khususnya shirah nabi, setidaknya, ada tiga peristiwa besar yang terkait dengan tanggal ini. ketiga, peristiwa tersebut, satu sama lain memiliki keterkaitan, dan memiiki makna yang sangat mendalam bagi kita saat ini.

Pertama, 12 rabiul awal adalah hari kelahiran Rasulullah Muhammad Saw. Pada tanggal inilah, hamba Allah yang mulia, lahir ke muka bumi dari rahim ibu yang mulia, yaitu Siti Aminah. Peristiwa yang banyak dikenang, terkait kelahiran ini, yaitu peristiwa penyerangan Abrahah, Penguasa Yaman Abbesina ke Kabah di Makkah. Sebagaimana yang tertuang, dalam Surat Al-fiil ayat 1 -5.

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah ?

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?

Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Hal yang perlu kita renungkan, hari kelahiran Nabi Muhammad Saw (maulid nabi), adalah hari kelahiran orang mulia yang mengubah peradaban manusia. Hari kelahiran manusia, yang berperan sebagai teladan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Inilah Rasulullah Muhammad Saw, yang menjadi rahmatan lil alamin. Kemuliaan Rasul, tidak hanya dalam pandangan manusi, tetapi Allah dan malaikat pun melantunkan salam penghormatan kepadanya.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

(Qs. Al-Ahzab : 56)

Kedua, pada tanggal ini pula (12 rabiul awal tahun 1 Hijirah atau 24/9/622 M), sahabat nabi, Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib datang dan bertemu Rasulullah di Madinah, yang kemudian kota ini dijadikan sebagai kota Nabi Madinatun Nabi, yang selanjutnya di sebut kota Nabi (Depag, 1983:71).

Sejak tanggal 12 rabiul awwal inilah, kemudian Rasulullah Muhammad Saw mendirikan masjid, Masjid Quba, yang merupakan masjid pertama dalam sejarah Islam, yang menjadi Pusat Kegiatan kaum muslimin. Semenjak itulah, kemudian Rasulullah mempersaudarakan kaum Muslimin pendatang dan pribumi, perjanijan damai dengan masyarakat Madinah, membangun fondasi sosial ekonomi dan politik.

Bila ditelusuri asal katanya, kata madinah itu satu kata dengan kata dayana atau din. Dayana, artinya aturan, dan din mengandung arti agama. Dengam kata lain, istilah berdirinya madinah dapat dimaknai sebagai kebangkitannya peradaban manusia yang bersumber pada aturan (mirip berdirinya polis di Yunani). Dalam bahasa modern, yaitu lahirnya masyarakat sadar hukum (maulid madani), atau lahirnya masyarakat berkonstitusi (masyarakat ber-syariah).

Melalui peringatan 12 rabiul awwal inilah, kita diajarkan untuk senantiasa berusaha keras, untuk membina anak-anak kita, sehingga menjadi anak yang soleh, dan kita menjadi bagian dari anggota masyarakat yang membangun peradaban baru, peradaban mulia, atau masyarakat madani.

Peritiswa ketiga, yang banyak dilupakan orang, dan sesungguhnya inilah awal dari perjalanan hidup manusia baru dimulai. Karena pada hari ini, tepatnya tanggal 12 rabiul awwal tahun 11 hijriah, atau 8 juni 632 M, dalam usia 63 tahun, rasulullah Muhammad Saw, dipanggil ke hadirat Allah Swt (Depag, 1983:84).

Hadirin, jika hal ini kita renungkan, maka hari ini pula, kita sedih, berduka sedunia, berduka, karena hari ini, kita ditinggalkan oleh manusia paripurna, junjungan kita, nabiyullah Muhammad Saw. Dengan kata lain, 12 rabiul awwal adalah hari kematian Rasulullah Muhammad Saw.

Itulah sejarah hidup manusia. Muhammad bin Abullah pun adalah manusia, yang terkena Sunnatullah. Muhammad adalah manusia biasa seperti kita semua, dan janji Allah Swt adalah benar, bahwa kullu nafsin dzaiqotul maut (setiap makhluk hidup akan menghadapi kematian).

Kematian orang mulia, sudah tentu sangat menyedihkan. Bahkan, manusia kadang bersikap berlebihan untuk menafikan atau tidak mengakui tentang kematian orang hebat. Di zaman sahabat, banyak orang yang tak percaya terhadap peristiwa itu. Tetapi itulah kenyataan, Muhammad bukan Tuhan, dan dia terkena hukum alam, yakni kematian.

Hadirin yang dimuliakan Allah Swt.

Di sinilah, renungkan kita sampai pada titik puncak berikutnya, yakni, apakah kematian orang adalah indikasi kematian peradaban ? apakah kematian individu, menjadi kematian sebuah tatanan nilai ?

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sering kita melihat, kematian sebuah partai seiring dengan kematian tokohnya, kematian sebuah organisasi sewaktu dengan meninggalnya figurnya, kandasnya sebuah kelompok bersamaan dengan pemimpinnya. Ini adalah fakta hidup yang ada saat ini.

Berdasarkan pertimbangan itu, kita menemukan sebuah jawaban, bahwa Islam tidaklah person-oriented, atau figur-oriented. Turunnya seseorang, lengsernya seseorang, meninggalnya seseorang, tidaklah menjadi masalah. Karena hal itu adalah hukum hidup (sunnatullah). Islam tidak mengenal kultus individu.

Memperhatikan apa yang dilakukan Rasulullah Muhammad Saw, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang mementingkan sistem, tegaknya aturan, atau mekanisme hidup. Maka tidak mengherankan, sebelum meninggal, Rasulullah Muhammad Saw berpesan, kutinggalkan untuk kamu dua perkara, ma in tamasaktum bihima barnagsiapa berpegang teguh pada keduanya, lan tadillu abada tidak akan tersesat untuk selamanya, kedua pusaka itu yakni kitabullah wa sunnatur rasul (Al-quran dan Sunnah Nabi).

Hadirin yang berbahagia,

Memperhatikan apa yang kita uraikan tadi, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa tanggal 12 rabiul awwal ini, seolah menggambarkan siklus peradaban manusia. Pada tanggal inilah, lahirnya tokoh teladan beradab, pada tanggal inilah lahirnya masyarakat beradab, dan pada hari ini pula, kita ditinggalkan oleh manusia mulia, dan kita sebut transisi peradaban, atau transisi generasi.

Seiring hal ini, kita pantas untuk mengajukan pertanyaan, dimana posisi kita saat ini ? apakah kita adalah bagian dari orang yang melahirkan anak bangsa berkualitas seperti halnya Siti Aminah ? Apakah kita adalah orang yang menjadi bagian dari penegak tonggak peradaban bangsa, seperti halnya Abu Bakar r.a., dan Ali bin Abi Thalib k.w ? Hemat kata, mampukah, kita memosisikan diri sebagai bagian penting dari proses transisi generasi menuju peradaban baru yang lebih baik ? ataukah, kita adalah orang yang menghancurkan peradaban seperti Abrahah ? ataukah …..?

Kita semua berharap, meninggalnya rasulullah Muhammad Saw, bukan menjadikan kita surut atau pesimis, justru disinilah, kita memiliki kewajiban moral untuk kembali melahirkan generasi mulia, generasi soleh, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang mulia.

kita memiliki kewajiban moral untuk merancang, mengawal dan memfasilitas lahir, tegak dan transisi generasi mulia secara sehat dan berkelanjutan.

Semoga !

??????? ?????? ????? ????? ???????????? ??????????? ?????????????? ?????????? ??? ?????????? ????????? ???? ???????????? ???????????? ??????????? ?????????? ??????????? ?????????????. ??????????? ????? ??????????? ???????????? ????????????? ???? ???????? ?????????? ?????????? ????? ????????.???????? ??????????!

Disampaikan dalam Khutbah Jum’at di Masjid Al-Ishlah Komplek Vijaya Kusuma Palasari Cibiru Bandung, tanggal 26 Februari 2010/12 rabiul awal 1431 H.

Advertisements